CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
It's Me ( Part 1 )


__ADS_3

Saat yang mencintai dan kau cintai telah berpulang,


Bukanlah untuk membuatmu bersedih dan tepuruk.


Hanya saja Tuhan tahu, kau telah mampu menjalani hari tanpa mereka.


Perkenalkan, namaku Renata. Gadis belia yang terperangkap dalam tubuh kurus nan tinggi berkulit langsat. Wajahku tak begitu cantik, hanya saja banyak dari mereka yang mengatakan bahwa diriku ini manis.


Sayang, kehidupanku tak semanis ungkapan banyak orang. Ibuku telah berpulang lima tahun yang lalu. Saat itu aku tengah berada di bangku SMP. Masa puber itu kulalui dalam kesendirian, namun aku bahagia. Ada Ayah yang selalu bersamaku, mendukungku dan mendengarkan ceritaku. Tapi itu dulu, jauh sebelum Ayah memutuskan untuk kembali menjalin hubungan dengan wanita lain.


Dia Ratna, teman sekantor Ayah. Semenjak kepergian Ibu, karir Ayah memuncak. Ayah dipercaya untuk menjabat sebagai kepala cabang. Namun sayang, meningkatnya karir Ayah membuat Ayah terlalu sering menitipkanku di rumah Nenek, karena Ayah harus bepergian keluar kota. 

__ADS_1


Nenek yang sudah begitu lanjut usianya, semakin sering sakit-sakitan. Hingga Akhirnya Nenek pun turut berpulang tepat setahun setelah kepergian Ibuku. Ini cukup menjadi pukulan keras untukku terutama kehidupanku.


Di saat inilah keputusan Ayah untuk menikah lagi pun timbul. Ayah, memilih Bu Ratna. Teman sekantornya yang merupakan gadis yang sudah berumur. Bu Ratna pulalah yang menjadi tempat Ayah berbagi kisah semenjak kepergian Ibu. Hingga Bu Ratna dengan mudahnya masuk ke kehidupanku.


Pernikahan Ayah berlangsung tiga bulan setelah Nenek meninggal, Ayah begitu kebingungan akan keberadaanku jika Ayah harus bepergian keluar kota. Pernah aku dititipkan kepada adik Ayah yang kerap kupanggil Om dan Tante, namun sayangnya mereka tidak bersikap adil padaku dan kedua anak mereka. Aku sering disalahkan jika salah satu atau kedua anak mereka menangis karena memperebutkan mainan. Begitu mengetahui Hal ini Ayah segera mengambil keputusan untuk tidak menempatkanku kembali di sana.


Ayah juga sempat membayar asisten rumah tangga untuk menemaniku saat Ayah tak bisa pulang. Namun lagi-lagi aku mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Aku diancam dan dikunci dari luar. Sedangkan ia pergi entah kemana, hingga tengah malam baru kembali. Aku tak pernah mengadukan hal ini kepada Ayah, tepatnya tak berani mengadukan. Namun Tuhan masih mencintaiku, dengan mata kepala Ayah sendiri, Ayah melihat keburukannya terhadapku. Ayah pun berang dan segera memecatnya.


Kita tak mampu menentukan dikeluarga seperti apa kita hidup.


Setelah memecat asisten rumah tangga, Ayah semakin bingung. Bingung harus berbuat apa lagi. Di saat itulah ide untuk segera menikahi Bu Ratna terbenak dipikiran Ayah. Setelah menjalin kedekatan enam bulan lamanya, Ayah memberanikan diri untuk melamar Bu Ratna. Bu Ratna pun selaku pengagum Ayah, karena tahu benar besarnya kasih sayang, perduli dan pengorbanan Ayah yang telah disaksikan langsung olehnya terhadapku. Hingga akhirnya Bu Ratna memutuskan menerima lamaran Ayah.

__ADS_1


“Sayang, maafkan Ayah. Ayah melakukan ini semua agar ada yang merawat kamu, ada yang menemani kamu saat Ayah tak ada di sampingmu,” ucap Ayah sedih.


Dekapan hangat Ayah membuatku luluh. Aku mengerti akan kerisauan Ayah. Aku juga tak ingin mendapatkan perlakuan buruk lagi seperti sebelumnya. Aku ingin Ayah tenang saat bekerja, begitulah pikiranku saat itu. Aku menangis hingga membasahi baju kemeja Ayah, namun itu bukan tangisan kesedihan. Tapi merupakan tangis kebahagiaan, karena meski tak lagi memiliki Ibu. Kini aku masih memiliki Ayah yang begitu mencintaiku.


“Ibumu tak pernah tergantikan, ia selalu ada di hati kita. Tapi, maukah kamu menerima Bu Ratna sebagai Ibu sambungmu, Nak?” tanya Ayah dengan wajah sendu.


Dari nada bicaranya, Ayah tak terlihat memaksa. Namun aku yang mulai tumbuh dewasa bisa merasakan niat baik Ayah dalam menikahi Bu Ratna. Hingga aku memilih mengangguk dan tersenyum, menandakan setuju akan rencana Ayah.


“Terima kasih, Sayang. Ayah menyayangimu,” ungkap Ayah yang kembali memelukku dan mencium lembut keningku.


Semenjak percakapan itu, Bu Ratna sering bermain ke rumah. Pendekatan, begitulah mereka menyebutnya. Tak jarang Bu Ratna membawaku pergi berdua, layaknya Ibu dan anak gadisnya. Kami berkeliling untuk berbelanja kebutuhan rumah dan sekolah. Sering pula Bu Ratna memasak di rumah, atau menginap di saat Ayah berada di luar kota.

__ADS_1


Semua berjalan lancar dan indah, aku mulai nyaman. Kebaikan dan ketulusan Bu Ratna dapat aku rasakan. Tak butuh waktu lama, sebulan setelah pendekatan ini Ayah memutuskan menikahi Bu Ratna. Yah, karena bisik-bisik tetangga kian deras membicarakan keluarga kami.


Pernikahan berlangsung sederhana, akad dan pelaminan serta beberapa tamu yang hadir merupakan kerabat dekat atau jiran tetangga saja. Acara begitu khidmat, semua turut bahagia. Begitu pula keluarga dari pihak almarhum Ibu yang kebanyakan berada di luar kota. Ada ketenangan di hati mereka, karena mereka melihat langsung keakrabanku dengan Bu Ratna yang terjalin baik. Mereka merasa tenang, karena mulai saat ini aku tak sendirian. Akan ada Bu Ratna yang menjagaku.


__ADS_2