
Sepanjang perjalanan pulang Ari dan Resi banyak berdiam. Namun, tidak dengan Andrea. Ia risih dengan keadaan hening yang menakutkan ini. situasi ini jauh membuat Andrea semakin tertekan dibandingkan mendengar nama virus yang bersarang di tubuhnya. Sikap dingin yang harus ia hadapi seakan menyudutkan dirinya. Semua ini karena dia dan keadaanya. Sikapnya yang begitu tak terkontrol membuat Resi dan Ari takut salah bersikap.
“Bun, mengapa Bunda hanya diam? Jangan bilang Bunda masih sibuk memikirkan virus yang ada di tubuhku.”
“Hm ..., tidak, Ndre.”
Dengan senyum yang terpaksa Resi menjawab pertanyaan Andrea.
“Bun, bagaimana kalau kita liburan ke Jepang. Bunda ingin ke sana, bukan?”
“Mungkin untuk tidak dalam waktu dekat ini, Nak! Bunda masih harus terapi.”
“Ya, Bun. Kapanpun Bunda siap, kita akan berangkat. Jadi, Bunda jangan bersedih lagi ya.”
Ari tak banyak bicara, rasa kesal akan kebodohannya belum hilang. Tiada gairah untuk melawani sang Kakak. Diam dan fokus menyetir. Itu saja yang bisa ia lakukan kini. Meskipun sang Kakak sudah memaafkan dan bersikap wajar, namun kekesalan itu tetap tak kunjung hilang.
“Ri, kamu ikutkan?”
“Ya, tentu kak,” sambil tersenyum kecut. Yah, perasaan bersalah itu benra-benar memperngaruhi sikapnya saat ini.
***
“Malam, Bun.”
Andrea memasuki kamarnya, melepas pakaian dan mandi dibawah deras shower air. Ia terduduk memeluk erat kedua dengkulnya dan terduduk. Tangisnya keluar seiring mengalirnya air yang membasahi tubuhnya. Tangisan penuh isak dan tanpa suara. Ia tak ingin Bunda dan Ari tahu kekesalannya.
Mengapa harus aku?
Apa salahku?
Mengapa takdir buruk selalu membersamaiku?
Apa yang harus aku lakukan?
Seketika teringat akan bayangan dirinya yang terbangun dalam kamar hotel.
Yah, itu ....
Itu yang membuatku terjangkit virus ini.
Pasti dia! Dia yang menyebabkannya.
Tiada hal lain lagi.
__ADS_1
Aku yakin!
Arrgghh !!!
Andrea menjambak kuat rambutnya dengan kedua tangannya. Ia baringkan tubuhnya di bawah shower. Ia biarkan wajahnya dihujani air dengan deras.
Sesak, panas dan kuatnya denyut kepala yang ia rasakan tak kunjung hilang. Hingga ia tak sadarkan diri.
“Kak ..., Kak ....”
Panggilan Ari dari balik pintu berhasil menyadarkannya. Ia pun mengeluarkan kepalanya kemudian menyahut paggilan adiknya.
“Sebentar ....”
Andrea dengan sigap menggunakan handuknya dan berlari menuju pintu.
“Kak, mengapa lama sekali membukanya?”
“Oh, maaf. Aku tidak kedengaran, aku sedang mandi tadi.”
“Oh, baiklah. Bunda memanggil Kakak untuk makan malam.”
“Pergilah, aku akan menyusul!”
Andrea menutup pintu dan menggunakan baju kausnya. Ia berdiri di depan cermin, memperhatikan tubuhnya yang mulai berisi kembali.
Andrea, lihat wajahmu. Tersenyumlah ....
Andrea pun memaksa untuk merekahkan senyumnya.
Tidak, tidak. Itu begitu terlihat terpaksa. Kau harus bisa tersenyum lebih rileks. Berikan senyum terbaikmu, Ndre. Ayolah ..., kamu pasti bisa.
Andrea kembali mencoba tersenyum. Setidaknya lebih baik dari senyum sebelumnya.
Baiklah, Ndre. Kamu sudah bisa keluar saat ini. Santailah, sikapmu yang mampu menenangkan Bunda dan Ari.
Andrea berjalan gagah, ia berusaha tampil gagah seperti biasanya. Ceria dan usil. Itulah yang harus ia perbuat untuk mengembalikan kehangatan Resi dan Ari.
“Nak, mengapa sedikit sekali nasinya?”
“Iya, Bun. Aku ingin makan sayurnya yang lebih banyak. Aku tak ingin memiliki perut yang buncit seperti Ari.”
“Ayolah Kak, aku tak sebuncit itu saat ini. kita lihat saja, siapa yang akan menang saat tanding nanti!”
__ADS_1
“Wah, aku tak yakin kamu bisa lebih hebat dari aku?”
“Hah! Kita lihat saja nanti.”
“Sudah, sudah. Kalian ini, kapan dewasanya sih?”
Terlihat diwajah ketiganya aura bahagia yang penuh ketenangan. Mereka kembali nyaman, setelah bersikap hangat seperti biasanya.
“Bun, aku kenyang betul. Ternyata, lebih enak banyak sayur daripada banyak nasinya.”
“Itu karena masakan Bunda yang enak, Kak!”
“Ya, Benar sekali. Oh ya, Bun. Kalau diingat kembali, menurut Bunda, mengapa aku sampai tertular virus itu ya?”
Mendadak suasana kembali mencekam. Resi dan Ari begitu kaget dengan pertanyaan Andrea. Mereka tak menyangka, Andrea masih lanjut membahas hal itu.
“Bunda kurang tahu, Nak! Bunda rasa kamu tidak melakukan hal yang mungkin menyebabkan virus itu tertular.”
“Bunda ingat? Saat aku pulang dalam keadaan mabuk tempo hari?”
Resi dan Ari terdiam, mata mereka saling pandang. Mereka sadar, ternyata Andrea sedang berusaha mencari akar penularannya.
“Bun, aku rasa itu satu-satunya cara yang membuatku tertular.”
“Benar, Kak. Aku baru ingat. Bisa saja, wanita itu melakukan **** saat Kakak tak sadarkan diri. Dan mungkin itu sebabnya wanita itu memberikan surat yang berisi permintaan maaf dan merasa bersalah lalu memberitahukan siapa yang menyuruhnya melakukan ini semua.”
“Ya, aku juga berpikir demikian, Ri. Kini aku lebih tenang, setelah aku yakin itulah cara penularannya.”
Resi terlihat melirik tajam ke arah Ari, tampak raut kesal di wajah Resi akan reaksi Ari. Resi terlihat takut, jika ucapan Ari memancing trauma syndrom Andrea.
“Nak! Tapi kamu tak akan melakukan apa-apa kan dengan mengetahui hal ini? ini juga masih praduga kalian, bukan kebenaran yang pasti.”
“Tenang, Bun. Aku tak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin tahu saja. Seperti kata Dokter, aku hanya tak ingin dianggap hina dan menghinakan diriku sendiri dengan keberadaan virus ini. Bunda tahukan, penularan virus ini dominan dengan tindakan yang buruk. Itu saja.”
“Syukurlah, Nak! Bunda mau kamu berfokus pada apa yang harus kamu lakukan. Kamu juga masih bisa hidup normal Nak. Jadi Bunda harap, kamu tidak menyalahkan apapun dan siapapun.”
Ucapan resi membuat Andrea terdiam. Jemari Resi menggenggam erat tangan Andrea, dan itu membuat Andrea tersenyum. Ari hanya terdiam, ia mulai menyadari perasaan Andrea.
Benar, penularan HIV itu dikenal dengan perbuatan yang buruk. Aku yakin, itu menjadi beban mental tersendiri untuk Kakak. Kakak dengan segala tanggung jawab dan nama baik keluarga, aku yakin ini menjadi beban yang cukup berat. Bahkan begitu berat menurutku.
Makan malam itu usai dengan berakhirnya pembahasan penyebab penularan. Mereka saling menjaga sikap satu sama lain sebagai dukungan. Itu merupakan hal paling utama yang harus dilakukan. Kehangatan keluarga dan sikap yang wajar membuat kita tidak merasa menyudutkan. Karena rasa bersalah dan penghinaan terhadap diri yang dilakukan keluarga atau diri sendiri, jauh lebih cepat membunuh seseorang daripada penyakit ganas manapun.
Resi, Ari dan Andrea memutuskan untuk masuk ke kamar tidurnya masing-masing. Ari membaringkan tubuhnya dengan jutaan pemikiran di kepalanya.
__ADS_1
Resi, melampiaskan kesedihannya sambil duduk menghadap cermin. Yah, rasa sedih karena tak terima melihat anaknya harus menjangkit virus itu.
Andrea berbaring di atas ranjang. Memejamkan mata, menangis dengan tubuh bergetar. Kenyataan pahit tiada hentinya menemui hidupnya. Rasa lelah membuatnya tak mampu berkata-kata lagi.