CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
New History


__ADS_3

“Re, aku rasa aku tidak pandai menggunakan alat ini,” jawab Ela ketika melihat hasil milikku.


“Kenapa, El?” tanyaku yang segera mendekati Ela.


Aku terdiam tak bersuara. Kurampas selebaran hasil darahku. 315? Aku tidak salah lihatkan? Kembali kudekatkan selebaran itu. 315, ya angka ini tidak salah.


“Re, kemu enggak apa-apa?” tanya Ela menyentuh pundakku.


Aku tersadar, kupandangi wajah Ela.


“Re, aku rasa hasilnya salah. Aku yang tak pandai menggunakannya. Ayo kita coba sekali lagi, dan kali ini kamu sendiri yang melakukannya,” ucap Ela meyakinkanku.


Bak boneka tanpa akal, aku hanya pasrah. Meraih sisa darahku dan kembali menggunakan alat yang sama. Hasil print out pun keluar.


Aku terdiam, air mataku mengalir tanpa isak. Kupandangi selebaran itu. Masih dengan angka yang sama. CD4 alat untuk menentukan kadar imun. Dimana, saat angka yang keluar menunjukkan angka dibawah 500. Menandakan dirimu HIV positif.


“Re, aku harap kamu tegar. Ini bukan akhir dari segalanya. Aku janji, aku akan merahasiakan semua ini. Re, kamu enggak sendiri, Re ....”


Tangisku pecah dalam dekapa Ela. Pikiranku kacau. Bagaimana aku bisa terkena ini? apa yang sudah aku lakukan hingga aku terjangkit virus ini? aku terus berusaha mengingat, kejadian apa yang bisa menyebabkan aku terkena virus HIV. Semakin keras aku berpikir, semakin deras air mata yang keluar.


“Re, aku janji akan selalu bersamamu. Aku akan temani kamu hadapi ini semua,” ungkap Ela sambil menatap kedua mataku.


Aku masih belum mampu berkata-kata. Seakan kematian membayangiku. Padahal aku tahu pasti, HIV sudah tak semenakutkan itu. Banyak ODHA (Orang dengan Hiv Aids ) tengah bisa menjalani hidupnya layaknya kebanyakan orang. Mereka bisa menikah dan memiliki anak yang berstatus negatif HIV, jika mereka teratur minum ARV ( obat yang wajib dikonsumsi teratur para penderita yang terjangkit virus HIV ). 


Aku terus melawan rasa takutku dengan pikiran-pikiran baik yang kuambil berdasarkan ilmu yang kuketahui. Namun tetap saja hal ini tak membuat rasa takut itu benar-benar enyah dari diriku.


Hari itu, merupakan hari terburuk. Dari banyaknya hari buruk yang telah kujalani. Banyak yang kesulitan dalam mencari kerja. Setidaknya, selama teman yang lain tidak mengetahui. Maka, aku masih bisa menjalani hari-hariku secara normal.


**pernahkah kalian meminta kematian saat penderitaan berasa berat?


Dan saat sesuatu yang menyebabkan kematian itu datang, lantas kita merasa takut?

__ADS_1


Aku pun manusia.


Namun, kumohon


Jangan pernah meminta kematian untuk datang lebih cepat,


Karena kematian itu akan datang dan tak bisa ditunda


“Re, kamu baik-baik sajakan?”


“Re, kamu terlalu sering merenung belakangan ini. Tepatnya, sejak hasil itu keluar, Re,” ujar Ela menepuk punggungku.


Huh !!!


Kukeluarkan napas sesak yang memenuhi dadaku.


“Re, ayo kita cari informasinya. Aku akan temani kamu berobat, Re!” ucap Ela sambil mengelus lembut punggungku.


“Siapa yang sakit? Kamu sakit Re?” tanya kak Joya sinis.


“Iya kak, sepertinya lambungnya Rere kambuh,” ucap Ela cepat sambil mengedipkan mata padaku.


“Tolong segera minum obat, Re! Jangan sampai izin sakit dan merepotkan kami semua!” ucapnya tegas yang kemudian berlalu meninggalkan ruang makan.


“Hampir saja, El!” ucapku penuh rasa takut.


“Maaf, Re. Habisnya aku begitu mencemaskanmu,” ucapnya yang kemudian memelukku. “Re, hanya kamu yang aku punya di sini. Saat ini. Jadi aku mohon, jangan putus asa, Re.”


Ada rasa bahagia, meskipun kami masih memiliki keluarga. Pada hakikatnya, kami hanyalah berdua saat ini. jauh dari saudara dan harus hidup dengan mandiri.


“Re, coba cari organisasi atau kelompok untuk sesama carrier. Aku rasa mereka akan banyak membantumu. Setidaknya kamu enggak merasa sendiri, Re!” ucap Ela sebelum membalikkan punggungnya dan tertidur.

__ADS_1


Aku pun tergerak membuka ponselku. Mencari info tentang HIV dan Aids. Tetapi yang keluar berupa info cara penyebaran dan gejalanya.


Kemudian, aku kembali mengetikkan ODHA ( Orang dengan HIV Aids ). Yes, keluar datanya. Beberapa kelompok yang mendukung para penderita. Jempolku terus saja bergerak naik turun dengan mata fokus membaca.


Sial !!!


Mengapa tidak ada yang berada di daerah ini.


Kali ini aku ketikkan ODHA Medan. Keluarlah sebuah group facebook. KODHAM ( Kumpulan Orang dengan HIV Aids Medan ). Langsung saja aku meminta pertemanan. Sebelumnya aku diminta menjawab pertanyaan yang group itu berikan. Mereka memastikan statusku. Sebagai penderita atau sebagai penggerak dari sebuah kelompok yang mengayomi para ODHA. Tanpa pikir panjang, aku pun mengakui statusku kini yang sudah terjangkit HIV.


Perlahan dan terus kubaca setiap postingan yang ada. Bahkan, komentar demi komentar kubaca tanpa ada yang terlewat.


Serrr !!!


Darahku seketika mengalir kencang. Jantungku berdegup tak karuan. Sedihku kembali datang, hingga akhirnya air mataku jatuh tanpa suara.


Mereka mengeluh tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Terutama, pekerjaan yang harus melewati MCU. Hingga membuat mereka ketahuan terjangkit HIV dan gagal diterima. Banyak diantara mereka yang dibuang dari kampung dan keluarganya. Para wanita yang harus menjanda karena ditinggal suaminya. Mereka yang harus menghadapi tekanan dari setiap warga yang mengetahui keadaannya. Mereka terintimidasi oleh lingkungannya. Mereka yang putus asa karena tak memiliki pertolongan berupa obat dan terapi. Mereka yang disingkirkan seakan menjadi biang perusak bagi masyarakat. 


Tetapi, kini mereka bersama saling menguatkan. Saling bercerita dan berbagi kisah. Mereka saling berbagi informasi dan solusi. Bahkan banyak diantara mereka yang saling menolong, meski berada di tempat yang berjauhan. Mereka merasa menemukan keluarga baru. Mereka mulai memiliki semangat untuk hidup. Mereka kini bekerja sama untuk menunjukkan pada masyarakat, bahwa mereka bisa hidup normal.


ARV- obat yang disediakan pemerintah untuk para penderita HIV. Obat ini bisa diambil gratis. Bahkan pihak LSM juga turut membantu mereka yang kesulitan untuk mendapatkan ARV.


Aku terharu. Perlahan semangat hidupku kembali. Kulirik punggung Ela yang tengah tertidur pulas. 


Ya Allah, terima kasih karena telah menyayangiku. Telah mengirimkanku sahabat yang begitu baik. Aku mohon, teruslah menyayangiku. Aku tahu, semua yang terjadi bukanlah untuk membuatku bersedih dan terpuruk. Maafkan aku yang telah menginginkan kematian itu hadir lebih awal. Namun, kesakitan ini membuatku sadar, akan arti sebuah kehidupan. Aku mohon, biarkanlah hidupku menjadi kebaikan di setiap detiknya. Aamiin.


Sebagai pemeran, tak seharusnya kita menuntut.


Bertingkahlah sesuai skenario.


Karena alur cerita sudah tercipta sempurna.

__ADS_1


Oleh tangan-Nya Sang Maha**.


__ADS_2