
Andrea Dinata, Dinata berasal dari nama belakang keluarga Ayah. Sedangkan Andrea pemberian Ayah dan Ibu. Entah angin apa yang membuat mereka sehati dengan satu kata saja, Andrea. Andrea yang berarti gagah, kuat, jantan dan maskulin. Namun ada kisah dari pemberian namaku.
Setelah empat puluh hari kepergian Kakek dan Nenekku, di saat itulah aku lahir. Kelahiranku menjadi sebab kembali kuat dan bangkitnya Ayah. Yah, kepergian Kakek dan Nenekku yang bersamaan, membuat Ayahku terpuruk. Entah apa yang membuat Ayahku begitu sedih. Seakan ia telah kehilangan separuh jiwanya.
Ibu yang saat itu tengah mengandungku di kehamilan tuanya, menjadi satu-satunya sosok yang tak pernah lelah menyemangati Ayah. Mendukung dan mengingatkan Ayah, bahwa Ayah tak sendiri. Namun, sosok Kakek dan Nenekku yang begitu penting di hidup Ayah, membuat Ibu kesulitan untuk mengembalikan semangat Ayah.
Hari demi hari Ayah lewati dengan kesedihan sambil terus mengurung diri. Ayah tak bergairah untuk berangkat bekerja, bahkan ayah sempat mogok makan seminggu lamanya. Ibuku dengan penuh kesabaran, menenangkan Ayah. Yah, hanya itu yang bisa Ibuku lakukan saat itu.
Paman-Pamanku tak henti-hentinya untuk datang dan memotivasi Ayah. Bahwa mereka butuh Ayahku, tak selayaknya Ayah terus berada dalam keterpurukannya. Namun, lagi-lagi hal itu tak membuahkan hasil. Ayah masih terlarut dalam kesedihannya.
Hingga tibalah kelahiranku. Tangisanku yang kuat dan lantang, serta rupaku yang begitu menyerupai Kakek, membuat Ayah tersadar. Semangat Ayahpun kembali. Ayah dengan sepenuh hati menyambut kelahiranku dengan bahagia. hal ini membuat Ibu dan semua Pamanku turut bahagia. kehadiranku menjadi awal kebaikan setelah lamanya terpuruk dalam kesedihan.
Ayah berusaha untuk banyak berinteraksi denganku. Menyempatkan waktu sibuknya untuk bermain denganku. Maklum saja, keterpurukan Ayah, berhasil membuat banyak proyek macet. Karena Pamanku tak begitu lihai dalam mengerjakannya, hingga Pamanku memutuskan untuk menunda sementara. Kesibukan Ayah tak menjadi alasan bagi Ayah untuk memanjakan aku dan Ibuku.
Hal ini diperkuat oleh ucapan Kakek. Ayah harus mengutamakan keluarga, karena keluargalah kehidupan yang sesungguhnya. Kejayaan akan datang bila tiba waktunya. Prinsip hidup Kakek selalu menjadi peganga kuat dalam hidup Ayah.
Tibalah masa penentuan nama. Malam itu tepat seminggu usiaku, Ayah dan Ibu tengah duduk di atas sebuah ranjang berwarna putih. Malam yang gelap dengan langit bergemuruh. Hujan deras dengan tiupan angin yang begitu kencang. Malam yang benar-benar dingin, hingga Ibu membalutkan tubuhnya dengan selimut yang teramat tebal. Sedangkan Aku berada dalam hangatnya dekapan Ayah.
“Bu, nama apa yang pantas untuk anak lelaki kita?”
“Nama? Sesungguhnya, aku telah menyimpan sebuah nama di hatiku. Hanya saja, aku ragu mengatakannya. Aku tak ingin mendahului Ayah.”
__ADS_1
“Benarkah? Jika itu nama yang baik, aku akan mengalah. Setidaknya, itu tanda balasan akan kesabaranmu selama ini.”
“Jangan begitu, nama adalah doa. Aku ingin kamu Mas, sebagai Ayahnya yang memilihkan. Kamu dan Ayahmu menjadi seseorang yang begitu kukagumi hingga kini. Hingga aku berpikir, kamu pasti akan memilihkan nama yang terbaik untuk putra pertama kita.”
Hah !!!
“Baiklah! Aku harap kamu setuju sayang. Aku ingin memberikan nama Andrea Dinata. Bagaimana?”
“Aku setuju, bahkan itu nama yang sama yang ada di hatiku, Mas.”
“Benarkah? Itu juga nama yang kamu maksud, sayang?”
“Yah, andrea yang berarti kuat, berani, jantan. Aku harap ia akan menjadi pria demikian kelak.”
Kecupan hangat Ayah mendarat di dahi Ibu. Lengan gagah Ayah meraih pinggang ibu. Aku menjadi saksi kehangatan malam itu. Aku dan Ibu seakan tengah berlindung di dada tegap Ayah.
Andrea Dinata pun mulai dikenal di keluarga besar. Bahkan namaku telah sampai di telinga para rekan bisnis Ayah. Nama cucu lelaki pertama dari keluarga Dinata dan Atmaja. Dua keluarga berstatus pengusaha raksasa. Hingga akhirnya aku pun menjadi perbincangan banyak orang. Dimana kelak aku akan menjadi pewaris untuk melanjutkan usaha milik Ayahku.
Sedari kecil aku diasuh langsung oleh Ibuku, tanpa bantuan orang lain. Bahkan aku di sekolahkan di sekolah biasa. Bukan karena keluargaku tak mampu, hanya saja Ayah ingin mengajarkanku hidup sederhana. Tanpa kekuasaan dan harta yang melimpah, Ayah ingin aku mendapatkan pelajaran layaknya Ayahku di masa muda dulu.
Tak ada rasa keberatan, karena Ayah dan Ibuku memiliki prinsip yang sama dalam mendidikku. Bahkan aku lebih bahagia, masa sekolah dasarku berjalan layaknya kehidupa anak lainnya. Bermain dan belajar, tanpa harus takut dan memilih-milih teman.
__ADS_1
Ibu tak pernah melarang aku untuk membawa teman-temanku bermain ke rumah. Malah, Ibu dengan penuh hati mengajak mereka untuk belajar bersama. Ibu rela memanggilkan kakak pengajar untuk membantu kami semua belajar. Ini karena Ibuku tahu, teman-temanku banyak yang tak memiliki kemampuan biaya untuk belajar tambahan.
Ibu bahkan sering membuatkan kami makanan ringan, kue dan minuman segar buatan tangan Ibuku. Hal itu membuatku bangga, Ibuku yang begitu disegani dan dimuliakan rekan bisnis lainnya, dengan rendah hati mengotori tangannya demi menyediakan makanan yang sehat untuk kami semua.
Bukan hal yang sulit bagi Ibu untuk meminta pekerja rumahku untuk menyediakan, namun Ibu mau mengajarkanku, bahwa Ibuku adalah seorang Ibu, layaknya Ibu lainnya. Bermain dan menyediakan makanan untuk teman-teman sekolah anaknya.
Ibu juga tak malu bermain bersama kami, bahkan Ibu sengaja menemani kami bermain hanya untuk merekam dan menyaksikan langsung kebahagiaan kami. Canda tawa dan senyum ceriaku, itu menjadi momen terindah bagi Ibu.
Ibu selalu menuliskan momen yang telah ia lewati. Tak seharipun terlewat, Ibu menulis banyak hal. Ibu mau, tulisan Ibu akan menjadi rekaman terbaik kisah hidupnya. Bahkan kebiasaan Ibu ini, sampai membuat Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya. Ayah begitu salut, tulisan tangan yang rapi. Sampai-sampai Ayah berpikir, apakah Ibu tak kelelahan melakukan ini setiap hari?
Setiap hal ini dipertanyakan Ayah, Ibuku hanya tersenyum dan berkata “ tidak ada kata lelah, untuk kalian yang kucintai.”
Kata-kata itu pula yang membuat Ayah begitu sulit melupakan Ibu. Ibu meninggal diusianya yang begitu muda. Saat itu aku masih berusia dua belas tahun. Kepergian Ibu yang begitu cepat tanpa adanya sakit yang menyerang, membuat aku dan Ayah begitu terpukul.
Kesedihan dan keterpurukan berat yang haru aku dan Ayah alami. Kehilangan sosok bidadari cantik dan lembut, membuat hidup kami meredup.
Sore itu merupakan hari ulang tahunku. Ibu dan Ayah tengah merencakan pesta kecil-kecilan. Yah, Ayah dan Ibu sengaja merahasiakan ini. Mereka tak ingin, para rekan bisnis Ayah turut riuh merayakan. Hingga diputuskan untuk melakukan malam malam keluarga bersama paman-pamanku saja.
Sore yang cerah, matahari bersinar terang dengan membawa angin sejuk. Pesta Taman dengan penuh hiasan pita putih diantara tumbuhan hijau. Lampu yang terbuat dari api seolah menggambarkan suasana pesta kampung. Kursi dan meja berwarna putih telah tersusun. Kue dan makanan lainnya telah tersaji di meja hidang. Buah dan minuman segar tampak menarik, itu semua telah tersusun rapi di setiap meja. Rumput hijau dan tenda taman berhasil menyempurnakan dekorasi malam itu. Itu semua saran Ibu. Ibu juga meminta untuk menyusun seluruh bunga hiasanya, berjajar di sepanjang jalan.
Pesta sederhana nan mewah. Sore itu, satu persatu Pamanku telah datang untuk menghadiri perayaan ulang tahunku. Entah mengapa, diusiaku ini, Ibu meminta pesta sederhana yang dihadiri seluruh keluarga. Biasanya Ibu dan Ayah hanya mengadakan pesta untuk memanggil teman-temanku, berbagi kebahagiaan saja. Pesta kecil layaknya pesta anak-anak lainnya.
__ADS_1
Semua tamu yang hadir mengenakan baju serba putih, ini juga permintaan Ibu. Putih lambang kesucian, bersih dan kejujuran, seperti prinsip hidup almarhum Kakek. Begitulah alasan Ibu, ketika ditanya mengapa memilih warna Itu. karena Ayah dan Pamanku tahu benar, putih bukanlah warna kesukaan Ibu.