CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
season 2 bab 20


__ADS_3

‘Hai ..., salam kenal’


Sampai dengan beberapa saat massanger Andrea tak kunjung dibalas, meski kini status pesan itu sudah terbaca.


‘Hai Renata, saya Andrea. Saya hanya ingin berteman saja’


Lagi-lagi pesan itu tak juga dibalas. Hal ini membuat Andrea semakin penasaran. Ia pun lantas membuka profil Renata, mencari tahu keberadaannya. Kemudian, Andrea pun menemukan tempat dimana Renata bekerja.


Yes, Laboratorium Jenderal Sudirman. Baiklah, Renata. Aku akan menemukanmu.


Andrea pun mengunjungin Laboratorium itu. Ia menanti di sebuah warung makan yang berada tepat di seberang pintu masuk laboratorium. Ia pun memperhatikan pekerja yang hilir mudik, tak seorang pun yang menyerupai wajah Renata. Yah, dia mengenal betul bagaimana wajah Renata, karena ia telah puas memandanginya selama ini. Entahlah, sebatas kagum apa cinta.


Lama, bahkan hingga malam menjelang. Akhirnya Andrea memutuskan untuk kembali.


Apa mungkin dia libur? Baiklah, sebaiknya aku kembali lagi besok.


***


Hari berganti, pekerjaan gotong royong warga yang dilakukan selama dua hari berturut-turut membuat Andrea harus menunda untuk kembali datang mencari Renata.


“Mas Andrea, warga sini benar-benar berterima kasih dengan Mas. Karena Mas sudah banyak membantu. Juga bantuan yang teman Mas berikan, begitu membantu sekali Mas.”


“Ya, Mas Ali, sama-sama. Saya juga sangat terbantu sekali, warga disini begitu terbuka menerima saya. Nanti akan saya sampaikan ucapan terima kasih Mas dan keluarga disini kepada teman saya.”


“Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih, semoga Mas segera pulih dan bisa berkumpul dengan keluarga kembali.”


“Iya, Mas. Aamiin ....”


Senangnya diriku saat ini. Sampai tak bisa terkatakan, yah kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan. Mengapa tidak dari dulu saja aku mengenal Renata. Hingga aku tak perlu menyakiti diri dan berpisah dari keluargaku.


Ya, Allah ..., maafkan aku. Maafkan aku yang selama ini terlalu menyakiti diriku.


Maafkan aku yang mengabaikan-Mu selama ini.


Maafkan aku Ya Allah.


Terima kasih ya Allah akan kedatangan Renata.


Terima kasih karena masih menyayangiku.

__ADS_1


Aku mohon, lindungi aku selalu.


***


Andrea pun kembali lagi mengunjungi Laboratorium tempat Renata bekerja. Dengan santai ia duduk di warung sambil mengamati para pekerja yang datang sambil menikmati teh hangat dan beberapa potong gorengan.


Mata Andrea terperanjat saat melihat sosok wanita yang begitu mirip dengan Renata. Ia pun segera membayar gorengannya dan mengikuti Renata dari kejauhan. Terlihat Renata bersama teman wanitanya berjalan menuju sebuah rumah kos. Renata masuk, namun Andrea masih menunggu diluar.


Beberapa saat Andrea masih menanti di seberang pagar kos Renata. Berjongkok di pinggir jalan dengan kedua tangan memegang ponsel, ia terus memperhatikan. Iya ingin meyakinkan diri, bahwa kos itu adalah tempat tinggal Renata saat ini.


***


Ada kepuasan setelah bisa melihat langsung sosok Renata. Mengetahui dimana ia tinggal dan tempat dimana ia bekerja. Andrea merasa semakin begitu dengan Renata. Wanita yang berhasil membuka sudut pandangnya terhadap sebuah keadaan yang terlihat buruk.


Bila waktu senggang, ia pun kerap mengikuti keseharian Renata. Setidaknya ini lebih baik, daripada berada di rumah sendirian dan terkurung dalam tekanan.


“Halo, Bun. Ya, Aku lebih baik. Tidak ada masalah disini. Bunda mau hadiah apa? Biar aku kirimkan. Yakin tidak ada yang Bunda inginkan? Baiklah, Bun. Jangan lupa cukup istirahat ya. Bun, mana Ari? Aku ingin berbicara dengannya.”


“Hai, Ri. Bagaimana pertandingan badmintonmu? Wah, selamat ya. Jangan habiskan uangmu, ingat janjimu untuk mentraktirku dan Bunda. Bersabarlah, dalam waktu dekat aku akan pulang. Ya, sorry. Aku terlalu sibuk disini, ada banyak kerjaan. Sudah ya, aku harus meeting lagi. Bye.”


Air mata Andrea jatuh, tangisan kerinduan menggetarkan hatinya. Rasa rindu itu membuatnya ingin segera kembali.


Sebaiknya aku kembali memeriksakan keadaanku sebelum memutuskan untuk kembali ke rumah.


Kring ....


“Halo, Dok. Bisakah saya menemui Doktera? Oh, tidak. Di rumah sakit saja, saya hanya ingin kontrol. Keadaan saya? Lebih baik, bahkan lebih bahagia. Ya, Dokter benar, rencana saya untuk mengkarantina diri berhasil. Baiklah, Dok. Sampai ketemu besok.”


Andrea kembali lagi mencoba menghubungi Renata. Seharian ini ia disibukkan oleh tugas kantor. Sudah akhir bulan, waktunya pemeriksaan laporan.


Baiklah Renata,


Jika kamu tak mau membalas pesanku dan tak ingin berteman denganku,


Tapi izinkan aku mengucapkan terima kasih.


Terima kasih karena telah menyadarkanku akan sikap negatifku selama ini.


Terima kasih karena telah membuka pikiranku untuk berdamai dengan takdirku.

__ADS_1


Terima kasih karena telah mengajarkanku tentang rasa syukur


Terima kasih karena kehadiranmu membuat hidupku kini lebih berwarna.


Terima kasih karena kau telah mengajarkanku akan arti kehidupan.


Terima kasih ....


Yah, mungkin kamu tidak mengenalku Renata. Tapi aku begitu mengenalmu. Aku nekad menanyakan tentang dirimu. Semua ini aku lakukan hanya ingin berteman denganmu. Namun, jika kamu tidak memberiku kesempatan untuk bertemu, tak mengapa. Setidaknya ungkapan terima kasihku telah sampai.


Setelah waktunya tiba, aku harap kita bisa saling mengenal dan berteman dekat.


***


“Selamat Sore, Dok?”


“Selamat sore saudara Andrea. Bagaimana keadaan anda? Apakah ada gejala yang membuat anda kesulitan?”


“Oh, tidak,Dok! Saya hanya ingin memeriksa keadaan saya. Saya sudah memutuskan untuk kembali ke rumh. Tujuh bulan ini sudah cukup untuk saya menahan rindu pada mereka.”


“Wah, syukurlah. Baik kalau begitu saya akan ambil darah anda, kemudian besok anda boleh kembali lagi kesini untuk mengambil hasilnya.”


“Baiklah, Dok. Terima kasih banyak. Saya permisi.”


Sepulang dari rumah sakit, Andrea tidak lantas langsung pulang. Ia memutuskan untuk melihat keadaan Bunda dan Ari dari kejauhan. Yah, rasa rindu yang selama ini terpendam membuatnya begitu nekad untuk datang.


Dengan menggunakan jaket jenis hoodie, menutupi kepalanya dengan topi dan kaca mata, Andrea berjalan ke daerah perumahan tempat tinggalnya. Tepat sekali kedatangan Andrea saat itu, terlihat Ari baru saja hendak keluar dan Resi ada bersamanya di halaman rumah. Andrea menangis, ia senang sudah bisa melihat Bunda dan Adiknya meski dari kejauhan. Setelah itu, ia pun kembali pulang ke rumah persinggahannya.


Saat hendak menunggu ojek, Andrea melihat Ari tengah terjatuh tepat di tengah jalan. Melihat hal ini, Andrea tergerak melangkah menuju keberadaan Ari. Namun syukurlah sudah banyak penduduk setempat yang berlari menyelamatkan Ari. Hingga langkah kaki Andrea terhenti dan melangkah mundur.


Hah!


Hampir saja aku hilang kendali dan berlari kesana. Bisa ketahuan semua kebohonganku saat ini.


Ya Allah ..., lagi-lagi Kau telah menyelamatkanku.


Terima kasih Ya Allah.


Andrea pun berdiri dibalik sebuah pohon besar yang terdapat di pinggir jalan. Ia berdiri di sana, berharap tak ada yang menyadari keberadaannya. Karena daerah ini masih lingkungan perumahan, ia takut ada yang mengenali dirinya. Yah, dirinya kini yang mulai kembali gagah dan berwajah cerah.

__ADS_1


__ADS_2