CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
My New Boyfriend


__ADS_3

“Mas! Sampai kapan kamu mau memanjakan Renata?” bentak Bunda kepada Ayah.


“Aku hanya ingin mengabulkan impian Renata dan Ibunya,” jawab Ayah penuh lembut. Ya, Ayahku merupakan pria terlembut dan penuh kasih sayang. Bukan karena ia Ayahku, namun begitulah realitanya.



“Kenapa kamu enggak menceritakan yang sebenarnya, Mas? Kenapa kamu tidak jujur saja akan keadaan kita? Apa kamu tidak memikirkan nasib anak yang kukandung?” jelas Bunda dengan suara parau, diiringi tangisan yang menyayat jika mendengarnya.



“Aku memikirkanmu juga anak kita, Dik,” ucap Ayah sambil membelai lembut telapak tangan Bunda. Yah, dari cela pintu yang tak tertutup rapat, aku melihat langsung apa yang terjadi.



Bunda melepas paksa tangan Ayah, hingga Ayah terdorong. Itulah mengapa ada suara benturan kuat dari dalam sana. Ayah kemudian bangkit kembali dan memeluk Bunda seraya berkata “ Dik, kontrol emosimu. Mas tak ingin terjadi apa\-apa pada anak kita!” pinta Ayah. Saat itu mata Ayah mengarah ke arah pintu dan mendapatiku yang tengah berbalik arah.



Lagi\-lagi bayangan itu yang bergentayangan dipikiranku. Bagaimana bisa aku tidur, jika ini saja yang terus menghantuiku. Berulang kali kubalikkan tubuhku. Memperbaiki letak bantalku, lalu mengambil salah satu bantal untuk kuletakkan dibawah kakiku. Kemudian kubalikkan lagi tubuhku menghadap dinding. Hingga tanpa sadar waktu telah menunjukkan pukul 00.00 wib. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah tidur di atas lantai tanpa sehelai alaspun. Namun lagi\-lagi mataku tak dapat terpejam.



 Perlahan kubuka pintu, lalu berjalan mengendap menuju dapur. Kubasahi tubuhku dengan wudu’ dan kusujudkan wajahku di atas sajadah. Sudah habis caraku untuk menikmati malam ini. Malam kelam yang cukup sulit kujalani. Berulang kali aku katakan pada diriku, bahwa aku tak sendiri. Namun berpasrah pada Sang Penguasalah jalan terbaiknya.

__ADS_1


Diriku bukanlah milikku,


Masih ada pencipta yang punya kuasa atas diriku.


Mata tak akan terpejam, tanpa izin-Nya.


Ya, Rabb. Bimbing aku dijalan-Mu.


Karena takdirku ada di tangan-Mu. 


“Re, kenapa sih wajahmu ketekuk terus seharian ini?” tanya Tama yang menghampiriku saatku berdiri mengarah taman.


“Woi, serius amat. Pada ngomongin apa?” tanya Jo yang berdiri menghadapku dan Tama.


“Maaf Re, ini aku kembalikan. Tapi kamu janji ya, harus cerita sama kami,” pinta Jo lembut dengan wajah merasa bersalah. 


Aku pun mengambil kasar kertas itu dari tangan Jo, kemudian kembali membuang jauh pandangan ke arah taman.


“Nilai kamu rendah Re?” tanya Tama lembut dengan tangan menyentuh kepalaku.


Tiba-tiba saja airmataku jatuh, hangat dan lembut sikap Tama membuatku tenang. Setenang pelukan Ayah. Sudah begitu lama aku tak merasakan nikmatnya pelukan Ayah. Jo hanya mematung melihat tangisku yang begitu derasnya. Saat itu suasana lagi sepi, hanya aku, Jo dan Tama yang ada di sana.


“Nilai kamu berapa, Re?” tanya Jo.

__ADS_1


Aku tak menjawab, hanya menyerahkan kembali secarik kertas yang aku rampas darinya.


“Ya ampun Re, kamu menghina apa gimana? Ini tujuh koma delapan loh, aku yang nilainya lima koma enggak sampai begini,” ucap Jo sambil berulang kali menepuk-nepuk keningnya dengan tangan kanannya.


Tangisku menandak terhenti, kemudia dengan suara parau aku bertanya pada Tama, “nilaimu berapa?” Tama tersenyum dan menjawab, “alhamdulilah, delapan koma tiga.”


Aku pun menghapus airmataku, beberapa kali mengeluarkan napas melalui mulut. Aku ingin menenangkan diriku sendiri.


“Re, kamu tau kan Pak Berri. Nilai tujuh itu sudah tinggi untuk mata kuliahnya. Ia dosen terkiller dan terpelit untuk soal nilai. Kenapa kamu begitu sedih, apa ada masalah lain?” tanya Tama dengan senyum manisnya.


“Aku takut Tam, takut beasiswaku di cabut. Aku enggak mau berhenti kuliah Tam. Aku ....”


“Gini aja, mulai kedepannya. Jika kamu ada merasa kesulitan mata kuliah, kita belajar bareng aja. Kamu juga Jo, mau sampai kapan kamu ngandelin orangtuamu. Katanya mau mandiri,” ucap Tama kepada kami. Bahasanya yang terlalu tua seakan sedang menasehati kami sebagai anaknya. Hal ini membuatku tersenyum.


“Tama, Renata sudah gila,” ucap Jo setengah berbisik dengan mata melirikku.


Itu membuatku refleks kemudian memukul Jo dengan kuat. Kami pun berlarian dan berkejar-kejaran, hingga akhirnya kami bertemu satpam yang meminta kami untuk tidak berisik.


Sesaat hati gundahku terobati dengan keberadaan Jo dan Tama. Mereka berhasil menjadi penyemangatku, penghibur dan sahabat terbaikku. Rasa nyaman dan saling terbuka di antara kami, membuat kami saling mengerti untuk bersikap.


Yah, terkadang kegundahan datang bertamu.


Kegelisahan dan kekecewaan datang mengetuk harimu.

__ADS_1


Namun jangan terhanyut, karena badai akan segera berlalu.


__ADS_2