
“Sore, Dok! Bagaimana hasil laboratorium saya?”
“Maaf sebelumnya, saya ingin menanyakan beberapa hal terlebih dahulu. Apa keluhan yang anda rasakan belakangan ini, mungkin sekitaran tiga sampai seminggu belakangan ini?”
“Gejala? Tidak ada, Dok. Bahkan saya merasa jauh lebih sehat daripada sebelumnya, saat saya batuk dua tahun yang lalu.”
“Benarkah?”
Dokter itu saling menggenggam jemarinya dan meletakkan di atas meja. Ia seperti tampak ragu untuk menyampaikannya.
“Andrea, saya mohon maaf. Hasil laboratorium kamu menunjukkan bahwa kamu sekarang berada di fase Aids. Saya juga kurang tahu, mengapa tiada gejala aneh belakangan ini. seperti yang saya pernah bilang, AIDS adalah keadaan yang tidak baik. Mungkin juga karena suadara Andrea tidak mengkonsumsi obat dalam jangka panjang, atau banyak hal lainnya.”
“Yah, Dokter benar. Saya tidak mengkonsumsi obat dengan teratur selama tiga bulan lamanya. Ini semua salah saya. Tidak mengapa Dok, saya yakin, ini keadaan terbaik buat saya saat ini.”
“Baiklah, saudara Andrea, jika anda mengalami gejala sekecil apapun silahkan konultasikan pada saya. Saya akan selalu sedia membantu anda. Saya senang, rasa tenang yang anda tampakkan ini benar-benar hal luar biasa yang pernah saya lihat. Saya rasa, anda akan bisa tetap stabil jika menghindari depresi dan tekanan dari pikiran anda.”
“Ya, Dok. Terima kasih atas semua bantuan Dokter. Senang bisa berkenalan dengan Dokter.”
Andrea pamit, setelah memeluk sang Dokter. Mimik wajah haru keduanya seakan menunjukkan keakraban diantara mereka.
***
“Mas Ali, saya permisi dulu. Terima kasih banyak sudah membantu saya selama ini. lain kali saya masih boleh bersilaturahmi kesini lagi kan?”
“Iya, Mas. Dengan senang hati, kami semua pasti merindukan Mas Andrea. Sehat selalu Mas, semoga Allah melindungi Masnya.”
Tampak beberapa warga turut berdiri melepas kepergian Andrea, begitu pula dengan Ali, ia sampai menitihkan air mata. Ia merasa senang bisa mengenal Andrea yang nota bennya seorang pengusaha. Namun bukan karena itu iya bahagia, melainkan karena ia merasakan kasih sayang Andrea terhadapnya. Kebenaran, Ali memiliki umur ya sama dengan Ari. Hingga Ali menjadi tempat pelampiasan kasih sayang dan kerinduannya terhadap Ari.
Beberapa anak kecil turut melambaikan tangan. Wajah-wajah itu terlihat begitu sedih. Tujuh bulan bukan waktu yang lama, namun rasa damai dalam menerima takdirnya membuka lebar matanya kini. Hingga ia berani berkumpul dengan banyak orang, bersikap santai dan manja. Hingga ia pun mendapatkan kasih sayang pula dari penduduk setempat.
“Da ...,da ..., Om. Kapan-kapan datang lagi ya ...,” begitulah teriak para bocah.
“Ayo, Pak. Kita jalan.”
Andrea pun lantas mengeluarkan kepalanya dari jendela dan melambaikan tangan kepada semua orang.
“Mas, kok berasa jadi artis ya. Pulangnya dianterin orang sekampung.”
“Wah, Pak Deno mengejek saja. Ya, Pak. Disini saya banyak belajar. Belajar untuk membuka mata dari sekedar diri dan keluarga saya.”
Pak Deno tak berani melanjutkan pertanyaan. Jawaban Andrea sudah berhasil membuatnya terharu. Senyumnya pun melebar membuat kumisnya mengepak. Sesekali ia melirik Andrea melalui cermin mobil. Ia turut bahagia melihat senyum Andrea yang terus saja merekah sepanjang jalan.
***
__ADS_1
“Hai, Bun.”
“Andrea ....”
Resi berlari menghampiri Andrea, pelukan dan air mata menjadi sambutan untuk Andrea. Itu semua karena sebuah rasa kerinduan yang terpendam. Pelukan itu begitu lama, hingga Ari harus mengantri untuk memeluk Kakaknya.
“Kak, bagaimana keadaan Kakak?”
“Kamu tidak lihat! Betapa segarnya aku saat ini?”
Ari pun lantas memeluk Kakaknya, ada haru di wajahnya. Hanya saja ia menahan tangisnya, ia tak ingin sang Kakak mengejeknya lagi.
“Ayo, Ndre! Kita makan bersama”
“Wah, kebeneran, nih Bun. Aku lapar.”
Mereka pun makan bersama, bahagia penuh tawa. Senyum ketiganya begitu mekar, merekah lebar. Yah, kerinduan telah terobati. Kebahagiaan pun diraih. Meski tak pernah tahu keadaan apa yang akan mungkin terjadi nanti.
***
Andrea kembali menjalani aktifitasnya. Pergi ke kantor, melakukan olahraga, makan bersama, menikmati waktu bermanja bersama Bunda dan Adiknya. Hingga suatu masa dimana Andrea merasa tubuhnya begitu lemas dan tak bertenaga.
Hah !!!
Hah !!!
Andrea pun mencoba menenangkan dirinya dengan kembali memejamkan mata, ia berharap keadaan akan lebih baik kemudiannya. Andrea pun tertidur pulas.
Terlihat sosok yang tak asing. Seorang wanita dengan rambut ikal yang terurai. Perlahan Andrea mendekati wanita itu. Ternyata itu Ibunya yang tengah meninggal. Ibunya tampak tersenyum bahagia. masih dengan tubuh berdiri membatu, Andrea pasrah saat tubuhnya dipeluk sang Ibu. Bahagia, ia merindukan sang Bunda selama ini. Namun, seketika ia tersadar akan kematian Ibunya. Lantas mendadak bayangan Ibunya hilang tak tahu kemana rimbanya.
Andrea terbangun, dengan tubuh basah bermandikan keringat ia bangkit dan duduk di atas ranjangnya. Malam itu waktu menunjukkan pukul 01.00 WIB. ia bangkit dan segera melangkah menuju meja kerjanya. Meraih kertas dan pena, ia pun mulai menuliskan beberapa surat.
Dear Renata
Hai Re, maaf jika aku kembali mengganggumu.
Sesungguhnya, jika surat ini sampai padamu. Berarti aku telah pergi dari dunia ini.
Pasti kamu bingung, tentang kehadiranku.
Aku telah berulang kali memintamu agar berteman denganku. Rasanya ingin sekali aku bertemu dan berkenalan denganmu.
Aku yakin kamu pasti semakin bingung saat ini.
__ADS_1
Aku MR.AD, pria menjengkelkan yang kamu serang di massanger group KODHAM.
Aku rasa kamu mulai mengerti saat ini.
Jujur, aku hanya ingin berteman. Namun sepertinya kematian lebih dulu membawaku.
Maaf, aku pernah mengikutimu beberapa waktu yang lalu. Itu semua aku lakukan hanya ingin mengetahui siapa dirimu.
Perlahan aku tersadar akan setiap komen positif yang kamu berikan pada carrier HIV. Timbul semangat di hatiku dan kehidupanku. Hingga akhirnya aku bisa bersikap damai dengan virus ini.
Awalnya aku sempat ingin melakukan hal gila. Yah, aku berniat untuk menyebarkan virus ini. namun, ocehan dari komentarmu membuatku sadar akan takdir hidup masing-masing orang. Kekayaan dan ketenaran yang aku dapatkan kini tak pernah kusyukuri.
Hingga virus itu datang, keluargaku menyembunyikanku. Mengatakan bahwa aku sedang kuliah di luar negeri. Padahal mereka hanya takut tertular padaku.
Aku tak berlaku jahat dengan uang yang aku miliki, aku tertular karena menolong temanku yang memiliki virus itu. aku menolongnya dalam kecelakaan motor. Itulah sebab yang paling memungkinkan bagiku tertular.
Aku pria baik-baik, Re. Aku begitu menjaga nama baik keluargaku. Sampai saat aku dibuang ke vila bersama para pembantu, baru aku tahu siapa sebenarnya keluarga yang aku banggakan.
Re, semenjak mengenalmu aku banyak belajar akan arti kehidupan.
Bagiku, kau adalah motivasi hidupku.
Mungkin, kita tak pernah bertemu. Namun, keberadaanmu sangat berarti bagiku.
Terima kasih Renata.
Teruslah bahagia, teruslah menebarkan kebaikan.
Karena kamu enggak akan pernah tahu, berapa banyak orang yang kembali tegar menjalani hidup, setelah mendengar komentar positifmu.
Aku tak dapat memberikanmu apapun.
Hanya sebuah kalung kecil sebagai ungkapan terima kasihku.
Aku harap kamu mau memakainya.
Satu lagi, aku telah menggerakkan suatu lembaga untuk para carrier HIV. Aku sangat berharap kamu mau bergabung bersama mereka, memberikan semangat dan menjadi bagian dari mereka.
Karena aku ingin, mereka mendapatkan kebaikan dari sikapmu yang telah mampu berdamai dengan takdir kehidupan.
Dari yang begitu mengagumimu
Andrea Dinata
__ADS_1