CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
season 2 bab 8


__ADS_3

Dua hari berlalu, aku masih memilih untuk mengurung diri. Aku belum bisa bersikap normal. Ari dan Bunda tak henti memberiku perhatian. Mereka terus ada bersamaku. Ayah yang berada diluar Negeri tak mengetahui keadaan ini. Sesuai janji Bunda dan Ari, mereka tak akan menceritakan hal apapun pada Ayah.


Rasa bersalah, rasa takut, ragu, bingung dan marah karena kejadian yang aku tak ketahui malam itu. namun, akal sehatku mulai datang. Aku kembali merogoh kantung jasku malam itu. Surat permohonan maaf, aku tak tahu siapa yang melakukannya. Namun, aku meminta Pak Deno melakukan pencarian info terlebih dahulu.


Tetapi aku tak berhasil mendapatkan informasi penting, hanya kedatanganku dalam keadaan mabuk bersama seorang wanita cantik nan seksi. Kami masuk berdua ke kamar. Kemudian, wanita itu pergi tepat tengah malam, tak ada lagi info penting lainnya.


Aku semakin kesal. Aku kembali meminta Pak Deno mencari informasi tentang janji temu dengan klienku yang kemarin.


Kabar yang aku dapatkan membuatku merasa bodoh. Tak ada klien yang berjanji temu denganku, tepatnya mereka membatalkan pertemuan itu. lantas dengan siapa aku bertemu kemarin? Mengapa bisa aku terjebak begini?


Aku semakin marah, ini sesuatu yang telah terencana. Kejadian yang aku alami ini pasti, rencana seseorang untuk menghancurkanku. Bisa saja mereka mengambil fotoku saat berdua dengan wanita malam itu. mereka berniat mempermalukanku. Tapi siapa? Siapa yang tega melakukan ini? bukankah aku tak memiliki teman dan musuh? Atau ini semua rencan dari rekan bisnis Ayah. Ayah tak begini, Ayahku bukan pria serakah. Dia tak akan menjatuhkan apalagi membuat susah hidup orang lain. Aku tahu benar siapa Ayahku.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


“Ndre ..., boleh Bunda masuk?”


Andrea terduduk di ranjang dengan kedua tangannya meremas kuat rambutnya.


“Nak, ada apa denganmu? Ceritalah! Bunda tak ingin kamu menyiksa dirimu sendiri. Mungkin Bunda bisa membantumu!”


Tangan lembut Resi menyentuh lengan Andrea, membelai lembut, berharap bisa menenangkan Andrea.


Andrea kini menangis, sengsenggukan. Ia terisak. Kedua telapak tangannya yang sedari tadi menjambak kuat rambutnya, kini beralih menutupi wajahnya.

__ADS_1


Resi menenggelamkan kepala Andrea dalam dekapan. Dia biarkan Andrea meluapkan segala kekesalan dan tangisnya. Benar saja, tangis Andrea pecah, tubuhny bergetar, gerak napasnya tak beraturan, seakan tengah dikejar musuh. Resi hanya bisa memeluk dan membelai lembut punggungnya, Resi tahu, bukan saatnya untuk berbicara. Yah, Andrea sudah dua hari mengurung dirinya.


Kemudian Resi membiarkan Andrea tertidur, begitulah kebiasaannya. Berkurung di kamar bukan berarti ia tidur. Setelah bisa melampiaskan kemarahannya, kesal dan amarahnya telah tersalurkan, ia pun mulai tenang, hingga akhirnya berujung tidur.


“Kak, bagaimana keadaanmu?”


“Entahlah! Sepertinya sudah lebih baik. Bagaimana sekolahmu?”


“Begitulah, selesai lebih cepat dari perkiraan. Kak, maaf! Kapankah aku bisa mendengar ceritamu? Aku ingin tahu apa yang Kakak alami, aku tak bisa diam saja melihat keadaan Kakak belakangan ini.”


“Baiklah, mungkin sudah saatnya. Pergi panggil Bunda!”


Resi dan Ari tengah bersiap mendengar cerita Andrea. Mereka duduk di sofa yang ada di kamar Andrea. Mata mereka fokus pada sikap tubuh Andrea.


“Bun, aku tak benar-benar tahu apa yang terjadi. Jumpa temu malam itu, janji pertemuan bersama klien itu maksudku. Ternyata bukan bersama klien yang sudah membuat janji. Aku tak tahu, siapa mereka. Mereka memaksaku untuk naik mobil mereka, dengan mengamcam batal kontrak jika aku tak mempercayainya. Aku mengikuti mereka begitu saja, apalagi aku tahu benar ini klien penting bagi Ayah. Mereka memberikanku minuman beralkohol, tak banyak Bun, bahkan hanya sepertiga loki. Aku tahu, bahwa aku tak bisa minum minuman beralkohol jenis apapun. Aku sudah mengatakan, menolaknya. Namun, mereka mengancam, tak banyak, hanya bertiga saja kami di dalam ruangan itu. Setelah minum aku tak sadarkan diri. Aku terbangun di sebuah kamar hotel dalam keadaan tanpa pakaian. Kemudian aku meminta Pak Deno untuk menjemputku, hanya bersisa ini di sana.”


“Ya Tuhan ..., pasti kejadian ini membuatmu begitu kesal. Maafkan Bunda, Nak!”


“Tidak, Bun.”


“Kak, kita harus menyelidiki siapa mereka?”


“Tunggu! Sepertinya Bunda merasa tak asing dengan nama Wijaya. Sebentra ..., coba Bunda ingat-ingat kembali. Dimana Bunda pernah membacanya.”


Andrea dan Ari dengan wajah bingung memandangi sang Bunda. Raut wajah Bunda yang begitu serius mencoba mengingat seketika berubah menjadi tersenyum.


“Bunda ingat! Bunda pernah membacanya di diary almarhumah Ibumu Ndre.”

__ADS_1


Ari pun segera memasuki kamar Bundanya, ia mencari diary yang dimaksud Bundanya tadi.


“Ini, Bun.”


Resi segera mengambil diary itu dari tangan Ari dan membacanya.


“Benar Ndre, ada! Wijaya itu merupakan keluarga dari pengusaha yang sempat bekerja sama dengan Kakekmu. Namun sayang, anak-anak dari keluarga Wijaya merebut kembali seluruh usaha itu. Kakekmu yang dianggap dalang bangkrutnya usaha itu. Apa ini cerita balas dendam masa lalu?”


“Apa itu tak terlalu lama, Bun? Bukannya saat itu Kakak saja belum lahir. Bagaimana mereka bisa ....”


“Bisa Ri, apapun bisa saja terjadi dengan uang. Aku mulai menemukan benang emas dari kejadian ini.”


“Bunda rasa Ayahmu perlu tahu masalah ini.”


“Tidak, Bun! Ayah jangan sampai tahu masalah ini. Setidaknya, jika tak ada berita buruk tentang kejadianku malam itu. Aku tak ingin Ayah mengalami kesulitan, terlebih lagi Ayah sedang berada jauh dari kita.”


Ari dan Resi menyetujui Andrea. Belakangan ini keadaan Ayah Andrea sedang tidak baik. Kesehatannya menurun. Namun bisnis yang berada di negeri sakura itu tak dapat ditunda. Paman-Paman lainnya tak siap untuk menggantikan Ayah. Hingga akhirnya Ayah terus berada di sana.


“Kak, sebaiknya Kakak tidak pergi sendiri lagi. Aku tak ingin hal buruk begini terjadi lagi. Biar aku yang ikut bersama Kakak.”


“Ya, begitulah seharusnya. Maafkan aku yang telah menyusahkan kalian.”


“Tidak, Ndre. Tidak ada yang disusahkan, kami bersama kamu. Dan akan selalu mempercayaimu. Kami mengenalmu, Ndre.”


Keadaan mulai kembali normal, Andrea mulai kembali aktif menjalani karirnya sebagai pengganti Ayahnya selama Ayahnya berada di luar negeri. Ari dan Resi juga bersikap wajar, mereka menepati janji untuk tidak kembali lagi membahas hal ini juga untuk tidak menyampaikan kabar ini kepada sang Ayah. Ini semua demi kebaikan keluarga ini. Seperti halnya yang Andrea katakan, selama tak ada berita buruk tentang kejadian kemarin. Maka tak ada pula yang perlu dihawatirkan.


Makan bersama, bercerita dan bermanja. Meski terkadang Andrea tampak murung, hal ini terjadi karena ia masih teringat kejadian malam itu. Ia tak menyangka hal buruk itu bisa terjadi pada dirinya. kacau, namun itulah kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2