
Pusing yang tak tertahankan. Mata dan kepala yang begitu berat membuatku sulit membuka mata. Perlahan kugerakkan kaki dan tanganku. Ada yang beda, kupaksa buka mata dan melihat.
Benar saja, aku bukan berada di kamarku. Melainkan di atas sebuah ranjang empuk di dalam kamar hotel. Terduduk sambil menahan pusing, namun aku menyadari tubuhku yang kini tanpa sehelai benang pun.
Sial !!!
Apa yang telah terjadi?
Kulihat kemeja dan celanaku telah tersusun di sudut ranjang. Pusing dan sakit di perutku membuatku mual, berlari sambil menahan sakit kepala, aku memuntahkan segala isi perutku.
Duduk tersandar di dinding kamar mandi, lemas tak berdaya. Perlahan aku bangkit dan berjalan menuju tumpukan bajuku. Kuraba segala sisi berharap menemukan ponselku.
Ponsel yang berada di kantung jas pun kutemukan. Dengan membuka sebagian mata, aku mengaktifkan ponselku.
Ping ...
Ping ...
Ping ...
Begitu banyak panggilan dan pesan yang masuk. Semua itu aku abaikan, aku segera memilih nomor supirku, meminta ia untuk menjemputku di sini. Hotel Gloria, hotel mewah yang tak jauh dari tempat makanku tadi malam.
Sambil terus menahan sakit, aku mencoba mengenakan pakaian lengkap. Aku tak ingin Pak Deno melihat keadaanku saat ini, hingga ia memberikan kesimpulan yang buruk nantinya.
Setelah mengenakan semuanya, aku duduk di ranjang menunggu panggilan Pak Deno. Terlihat sebuah kertas berada tepat di samping dasiku.
Tolong maafkan saya,
Saya hanya suruhan Pak Wijaya.
Secarik kertas itu cukup membuatku berang. Apa yang sudah ia lakukan padaku? Mengapa ia harus meminta maaf?
Sial !!!
Hah !!!
Arrghh !!!
Kring ....
Dering ponselku berbunyi. Aku pun mengambil kertas itu dan memasukkannya ke dalam kantong bajuku. Aku bergerak keluar hotel menuju mobil. Terlihat Pak Deno melambaikan tangannya dari kejauhan.
“Mas darimana saja? Mengapa tiada kabar? Bunda dan Ari begitu kecarian. Sepanjang malam mereka menunggu kepulangan Mas. Bunda sakit, kakinya terluka karena ketumpahan sayur panas. Beliau sedang istirahat di rumah.”
__ADS_1
“Ayo, Pak. Kita segera berangkat, saya ingin melihat keadaan Bunda.”
“Baik, Mas.”
***
“Andrea, darimana saja kamu? Mengapa tidak pulang dan tak mengabari Bunda?”
“Kak, Kakak baik-baik saja? Mengapa wajah Kakak begitu pucat?”
Andrea tak menjawab, berawal ingin melihat keadaan Bunda, malah Andrea yang kini jatuh pingsan tepat dihadapan keduanya.
“Andrea ....”
“Kakak ....”
Jerit keduanya membawa Pak Deno berlari ke arah mereka. Pak Deno dan Ari berupaya membawa Andrea menuju kamarnya. Pak Deno seger bersiap menjemput Dokter pribadi mereka, sedangkan Ari selalu sedia berada di sampingnya.
Bunda dengan kaki yang penuh luka hanya bisa duduk menjauh dari Andrea, luka akibat ketumpahan sayur panas itu lumayan parah, hingga menyebabkan kaki Bunda sulit digerakkan dengan bebas.
Dokter pun datang, memeriksa dengan penuh teliti keadaan Andrea.
“Bagaimana keadaan Andrea, Dokter?”
“Alkohol? Bukankah Kakakmu bukan peminum, Nak?”
“Iya, Bun. Setahu Ari, Kakak bukanlah peminum, bahkan juga bukan perokok.”
“Apa yang terjadi tadi malam pada dirinya? Pasti ada sesuatu yang buruk, Kakakmu bukan anak yang suka dengan dunia malam.”
“Maaf, Bu. Tadi malam Mas Andrea diminta untuk pertemuan dengan rekan bisnis Tuan. Dan Mas Andrea dilarang menggunakan supir pribadinya, hingga akhirnya saya memutuskan menunggu di kantor. Namun, sampai malam tiada kabar dari Mas Andrea, hingga tadi pagi, saya diminta Mas Andrea sendiri untuk menjemputnya di sebuah hotel. Begitulah Bu, kronologisnya.”
“Ya Tuhan ..., mengapa ini bisa terjadi?”
“Sebaiknya nanti kita tanyakan kepada Kakak, Bun?”
“Tidak, Nak! Biar Andrea yang menceritakannya pada kita, kita hanya akan menekannya jika menanyakan itu langsung. Sebaiknya biar Kakakmu istirahat, ia pasti bercerita jika waktunya tiba.”
“Baik, Bun!”
***
Perlahan kesadaranku mulai pulih. Sakit kepalaku mulai mereda. Mual yang kurasakan pun turut hilang.
__ADS_1
“Kak, bagaimana keadaan Kakak?”
“Ri, aku sudah lebih baik. Berapa lama aku pingsan?”
“Lumayan, Kak! Sekitar Tiga jam. Apakah kakak ingin makan? Biar aku sediakan.”
“Tidak, Ri. Kakak butuh teh hangat saja.”
“Baiklah, sebentar aku ambilkan.”
***
“Kak, ini minuman Kakak. Aku harus pergi, ada panggilan dari kampus. Setelah itu aku akan segera kembali menemui Kakak. Beristirahatlah Kak, jangan kembali ke kantor dulu hari ini.”
Pintu kamarku kembali terbuka, kali ini Bunda yang masuk.
“Andrea, bagaimana keadaan kamu?”
“Sudah lebih baik, Bun,”
“Syukurlah, Nak! Apakah kamu sudah makan?”
Andrea tak menjawab, hanya menggelengkap kepalanya.
“Sebentar, Bunda ambilkan makanan untukmu. Tunggulah di situ.”
Dengan langkah yang begitu sulit Resi berjalan mengambilkan makanan dan minuman untuk Andrea.
“Makanlah! Apa perlu Bunda dulang?”
Andrea hanya terdiam, tak menghiraukan candaan Resi. Mata Andrea menerawang jauh. Ia seakan tenggelam dalam lamunan. Berkali-kali Resi memanggil namanya.
“Maaf, Bun!”
“Apa yang terjadi, Ndre. Jika kamu ada masalah ceritakanlah pada Bunda. Kamu kini telah dewasa, namun bercerita untuk meraih solusi bukanlah hal yang salah untuk dilakukan seorang pria dewasa. Setidaknya kamu tidak akan salah jika menceritakan itu pada Bunda.”
“Bun ....”
Suara Andrea mendadak hilang, ada yang mengganjal di tenggorokannya. Perlahan air matanya jatuh, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangan lembut Resi membelai kepalanya, ia membiarkan Andrea melampiaskan kekecewaannya dengan air mata. Begitu Andrea, pria yang sangat lembut hatinya.
“Tak mengapa jika kamu butuh waktu untuk menceritakannya. Bunda tak akan memaksamu, Nak! Bunda percaya padamu, saat ini dan sampai kapan pun. Bunda tahu bagaimana kamu. Kamu tak akan melakukan kesalahan yang membuat kami kecewa. Jadi tenangkan hatimu, Ndre. “
Resi meraih tangan Andrea, menggenggamnya lembut, lalu berkata, “Ndre, Bunda keluar dulu. Kamu jangan sampai tidak makan, Ya! Beristirahatlah. Hari ini kamu tidak usah kembali ke kantor dulu, Bunda sudah mengabarkan bahwa kamu sedang sakit.”
__ADS_1
Resi pergi meninggalkan Andrea sendirian. Resi paham benar, bagaimana sikap Andrea. Ia butuh waktu untuk sendiri setiap kali masalah datang. Ia perlu melampiaskan kekesalannya. Akan terdengar jeritan penuh kemarahan. Resi dengan santai membiarkan hal itu terjadi. Karena seperti itulah yang tertulis pada diary Ibunya Andrea. Awalnya Resi selalu mengintip jika Andrea mengurung diri. Resi takut Andrea melukai dirinya. Namun itu salah, Andrea hanya ingin sendiri melampiaskan kemarahannya. Mengeluarkan tangisnya dan menjerit untuk meluapkan kekesalannya. Begitulah uniknya Andrea, hingga tak banyak orang benar-benar mengenal seperti apa dirinya.