
Pagi yang cerah, Andrea sudah beraktivitas dengan normal. Ia mulai kembali mengisi kesibukannya di kantor. Resi dan Ari mulai tampak tenang, perkembangan Andrea begitu signifikan. Namun, hari konsultasi berikutnya masih menanti. Penjelasan jenis virus yang mungkin akan Andrea tanyakan. Keresahan masih meliputi hati Resi dan Ari. Tak hanya takut akan reaksi Andrea, namun juga keadaan Ayah Andrea saat mengetahui hal ini. yah, ini hal penting yang harus dikabarkan, tidak mungkin ditutupi seumur hidup.
“Bun, Bunda masih kepikiran pertemuan dengan Dokter nanti sore ya?”
“Ya, Ri. Bunda pikir semua telah selesai kemarin. Ternyata tidak,”
“Ya, Bun. Tapi sebaiknya Bunda jangan terlalu memikirkan hal ini. Bunda juga harus memikirkan keadaan Bunda.”
***
Kring ....
“Halo, Bun. Andrea akan menyusul ke rumah sakit. Bunda pergilah terlebih dulu bersama, Ari.”
“Ya, baiklah.”
“Bun, kalau kita yang lebih dulu sampai, mungkin kita bisa meminta bantuan Dokter untuk mengatasi kerisauan kita. Mungkin saja dengan menceritakan sikap Kakak, Dokter bisa menjelaskan dengan cara terbaiknya.”
“Benar, Nak! Semoga saja”
Dengan wajah hawatir, Resi berdoa sepanjang jalan. Berkali-kali ia menggenggam jemarinya. Terlihat buliran keringat membasahi seluruh lengannya. Ia benar-benar takut saat ini. apalagi jenis virus ini sangat buruk di pandang banyak kalangan.
***
“Selamat siang, Dok.”
“Siang, Ibunya Andrea, bukan? Silahkan duduk.”
“Dok, saya sebenarnya begitu bingung. Saya tak tahu harus cerita darimana.”
“Begini, Dok. Kakak saya Andrea, memiliki kelainan yang bisa dibilang mudah depresi. Bunda takut, reaksi yang akan terjadi saat Kakak tahu tentang virus yang ada di tubuhnya. Takut, kalau itu kembali memicu depresi syndrom Kakak. Apakah bisa kita tidak perlu memberitahukan akan jenis virus itu?”
“Maaf, Ari dan Bu Resi. Itu merupakan pelanggaran kode etik. Saya tidak bisa melakukan hal yang anda pinta. Virus ini tidak sepenuhnya berbahaya, karena kini sudah ada obat yang dapat di konsumsi teratur, hingga penderita bisa hidup layaknya kebanyakan orang. Saya juga ragu, jika jenis virus ini tidak diberitahukan kepada Kakak anda, justru ini akan menjadi penyebab penularan kepada orang di sekitarnya. Tidak selamanya ketakutan kita akan sama dengan hal yang akan terjadi. Kita berdoa saja semoga saudara Andrea bisa menerima keadaannya saat ini.”
“Berarti, kita harus memberitahukan kalau Kakak pengidap HIV positif?”
__ADS_1
Andrea yang tengah berdiri tepat di belakang mereka, mendengar semua pembicaraan itu.
“Apakah benar, saya HIV positif Dok?”
Resi dan Ari secara bersamaan memandang ke arah belakang, dimana suara itu berasal. Kaget bukan kepalang, wajah Resi dan Ari pucat pasi, tubuh mereka mendadak kaku tak bisa digerakkan. Hanya mata mereka yang saling melirik satu sama lain.
“Saudara Andrea, silahkan duduk.”
Ari segera bangkit dan menyerahkan kursinya pada Andrea. Andrea pun duduk dengan sikap tubuh yang santai sambil bersandar. Menaikkan sebelah kakinya kepada kaki lainnya.
“Ya, benar. Namun hal ini bukanlah sesuatu yang menakutkan lagi. Sudah ada obat yang bisa digunakan untuk terapi pada semua penderita. Bahkan banyak dari mereka yang memiliki umur panjang dan berkeluarga layaknya kebanyakan orang. Mereka aktif kegiatan dan mengikuti anjuran. Hingga penderita wanita tetap bisa melahirkan dengan kondisi anak HIV negatif. Saya harap saudara Andrea tetap tenang dan bisa menjalani hidup seperti biasa.”
“Hm ..., baiklah, Dok. Saya senang mendengar hal ini. Saya harap Dokter siap sedia membimbing saya. Saya tak ingin merepotkan dan menularkan ini pada keluarga saya.”
Mata Andrea memandang Resi yang berada di sebelahnya. Tersenyum dan menyentuh lembut tangan Resi. Ia mengisyaratkan pada Resi untuk tidak perlu hawatir.
“Baiklah saudara Andrea. Saya akan mulai menjelaskan beberapa hal dasar mengenai virus ini.Ssaya ingin anda benar-benar memahaminya dan melaksanakannya.”
“Baik, Dok. Saya siap.”
“Baik, Dok.”
“HIV yang tidak diterapi obat dan kerap dimasuki virus lain misalnya sejenis virus flu dan batuk akan menyebabkan imunnya semakin turun. Penurunan imun ini paling lama bertahan sepuluh tahun. Namun, bersyukur saat ini telah ada obat terapi untuk penderita HIV positif tahap awal. Obat itu disebut ARV. Bahkan ada program gratis untuk masyarakat umum dari pemerintah.”
Resi dan Ari turut mendengarkan seksama, namun masih dengan sikap tubuh yang kaku. Sedangkan Andrea dengan sikap santai mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut sang Dokter.
“Baik, kita akan membahas gejala yang timbul saat HIV itu menyerang tubuh kita. Gejala yang dihasilkan tidaklah berat, hingga kita kerap terkecoh karenanya. Gejalanya tersebut seperti demam hingga menggigil, muncul ruam pada kulit kadang berupa bentol seperti alergi, mual dan muntah, nyeri pada otot dan sendi sama seperti saat kita meriang di masa demam. Sakit pada kepala, perut, tenggorokan, juga sariawan seperti bibir pecah-pecah dan luka pada gusi dan mulut sampai pembengkakan pada getah bening.”
Mendengar hal ini, Andrea dan Resi saling memandang. Mereka sadar, sebahagian gejala itu tampak jelas saat Andrea mengalami sakit batuk tempo lalu.
Sial !!!
Hampir semua gejala itu aku alami saat batuk kemarin. Benar-benar membuatku terkecoh. Aku hanya merasa batuk biasa, tetapi ternyata itu gejala dari virus HIV itu.
“Kini saudara Andrea mulai memahami, gejala yang anda katakan seperti gejala yang baru saja saya jelaskan. Baik sekarang saya bahas mengenai penularan, ini merupakan hal yang sangat penting. Karena jika kita tidak memahami cara penularannya, maka tanpa sadar sudah banyak penularan yang kita lakukan.”
__ADS_1
Mendengar hal ini, Andrea semakin fokus mendengarkan. Ia masih bingung, hal apa yang membuat ia sampai tertular.
“Penularan HIV ini tergolong tidak mudah. Hanya melalui dua cara, melalui **** bebas dengan bergonta ganti pasangan, dimana kita tidak menyadari pasangan kita terjangkit virus HIV. Kemudian cara kedua melalui darah, ini terjadi jika kita melakukan hal seperti tindik dengan jarum yang telah terkontaminasi virus HIV dimana pengguna sebelumnya merupakan carrier ( orang pembawa penyakit ). Begitu juga dengan penggunakan narkotika jenis suntikan dan donor darah. Jadi, saudara Andrea tidak perlu takut, karena penularan ini tidak dengan udara seperti halnya batuk dan juga melalui kontak fisik saat bersentuhan.”
Andrea tampak termenung, telinga mendengar dengan baik setiap ucapan Dokter. Namun pikirannya melayang, menerka-nerka akan hal penyebab ia tertular.
“Saudara, Andrea. Apakah anda mendengar saya?”
Andrea kaget, teguran Dokter membuatnya kembali sadar dan fokus.
“Eh, iya, Dok. Saya mendengarkan Dokter.”
“Baiklah saya akan lanjutkan. Saran saya untuk anda, lakukanlah hidup sehat, cukup olahraga dan cukup istirahat, konsumsi makanan yang sehat dan banyak makan buah dan sayur. Teratur minum obat dan hiduplah layaknya manusia lainnya. Hindari depresi dan tekanan. Karena HIV tidak membunuh kita, tetapi tekanan yang kita timbulkan pada diri, itu jauh membunuh lebih cepat. Ini berlaku pula bagi manusia yang berada dalam keadaan sehat.”
“Saya mengerti, Dok.”
“Saya harap, saudara Andrea bisa menjaga kesehatan diri anda. Mencegah diri anda dari penyakit ringan lainnya. Dengan begitu maka imunitas tubuh anda akan selalu stabil. Hanya itu yang bisa saya sampaikan saat. Jika ada keluhan apapun silahkan konsultasikan kepada saya.”
Dokter itu pun menuliskan resep pada selembar kertas, kemudian menyerahkannya kepada Andrea.
“Ini resp yang harus anda konsumsi, anjuran pakai dan lainnya sudah tertulis jelas di sana. Satu hal penting yang harus anda ingat. Tidak semua penderita HIV itu buruk, karena penularan dapat dilakukan dengan sengaja. Saya harap anda paham. Jangan merasa rendah dan hina, karena sesungguhnya penyakit ini datang atas izin yang kuasa.”
“Terima kasih sekali lagi, Dok. Ucapan Dokter benar, saya seperti memiliki semangat lagi.”
Resi, Ari dan Andrea berjalan keluar. Andrea merangkul Ari di lengan kanannya dan Resi di lengan kirinya.
“Bun, Ri. Tenang saja, aku tidak apa-apa. Aku kuat kok.”
Seketika Ari berhenti melangkah yang kemudian diikuti dengan Andrea dan Resi.
“Kak, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menutupi ini dari Kakak. Aku hanya ....”
Ari meraih tangan Andrea dan menggenggamnya erat.
“Hei, sudahlah. Bukan salahmu, ini takdirku. Jangan menangis di tengah keramaian, itu hanya akan membuatku malu.”
__ADS_1
Resi tak mampu berkata sepatah kata pun. Hanya tangis bahagia, karena yang terjadi diluar prasangkanya. Andrea dengan tenang menerima keadaannya. Tatapan haru itu disadari Andrea, yang kemudia memeluk Bundanya.