
Tiba-tiba saja Ayah keluar ruangan dan mendapatiku yang tengah berdiri mematung menghadap pintu.
“Ren, kamu sudah lama sampai, Nak?” tanya Ayah membelai lembut rambutku.
“Belum, Bunda gimana, Yah?” tanyaku.
“Sudah lebih baik, masuklah temani Bunda! Ayah mau menjumpai dokternya dulu,” pin Ayah.
Dengan tangan memeluk tas, perlahan aku membuka pintu dan melangkah masuk. Kudapati Bunda tengah terpejam, mungkin sedang tidur. Aku memilih meletakkan tas di samping Bunda, lalu duduk menghadap kaki Bunda. Tersadar aku akan kaki Bunda yang semakin mengecil, Bunda semakin kurus saja. Ya, Tuhan, sebegitu cueknya aku dengan Bunda hingga baru menyadari hal ini sekarang.
Tanganku tergerak menutupi kaki bunda yang tak tertutup selimut. Bunda terbangun, lalu melihat ke arahku. Aku hanya terdiam, mematung, tak tahu harus berbuat apa. Bunda terlihat hendak duduk, aku pun membantu bunda untuk duduk. Namun rasa sakit pada perut Bunda membuatny kembali memlih terbaring.
“Re, maafkan Bunda. Bunda tak membencimu,” ucap Bunda dengan suara yang terbata\-bata.
Aku tak membalas ucapannya, melainkan airmata yang jatuh membasahi pipiku. Dejavu rasanya, dulu ibuku yang terbaring lemah dihadapanku. Kini Bunda pula yang mengulang kembali kejadian itu. Timbul rasa takut kehilangan, namun kubuang jauh prasangka buruk itu. Aku tak ingin, pikiran ini membuatku salah bersikap dan berucap. Hingga semakin memperburuk keadaan Bunda.
__ADS_1
Pintu terbuka, terlihat Ayah masuk menuju ke arah kami. Dengan lembut Ayah membelai rambut Bunda dan berkata, “ Sayang ... kita akan segera melakukan operasi. Kamu harus kuat ya, yakin saja dengan para dokter!” pinta Ayah.
Seerrr, tiba\-tiba dadaku berdesir. Seakan bumi bergoyang, membuat pandanganku kabur. Kepalaku turut pusing, trauma. Begitulah reaksi kala aku harus menghadapi rumah sakit dan operasi. Karena kedua hal itu yang menjadi penyebab Ibu pergi.
“Re, kamu bisa bantu Ayah. Untuk saat ini, tolong kamu yang menjaga Bunda. Ayah mau menjemput Nenek, karena Bunda akan dioperasi malam ini!” pinta Ayah.
Aku hanya mengangguk. Berusaha tampak tenang, dengan tubuh menahan guncangan dahsyat yang menyerang.
Saat aku dan Nenek melangkah meninggalkan ruangan, tiba\-tiba dokter keluar dan mendekati Ayah. Raut wajah Ayah tampak kacau, namun aku tak ingin memberitahukan ini kepada Nenek. Dengan tangan merangkul lengan Nenek, kami meneruskan langkah menuju ruang kamar Bunda.
Saat keadaan melemahkanmu,
Berusahalah untuk bertahan.
Karena orang yang kuat itu,
__ADS_1
Adalah orang yang menguatkan dirinya untuk mereka yang ia sayangi.
Seminggu pun berlalu, Bunda dan adik bayi yang bernama Keira sudah diizinkan pulang. Keadaan Bunda dan Keira awalnya begitu buruk, sampai-sampai dokter menyarankan untuk diinkubator dan Bunda rawat inap. Syukurnya perkembangan mereka stabil, hingga akhirnya tak perlu melewati masa kritis. Keadaan ini membuat Ayah memutuskan untuk meminta Nenek menginap di rumah, agar bisa membantu merawat Bunda dan Keira.
Tiga hari setelah kepulangan Bunda, surat panggilan pun mendarat di rumahku. Surat yang berisi permohonan beasiswaku dan penempatan asrama gratis untuk beberapa siswa pilihan.
“Ratna, ini ada surat untuk Renata. Apa itu isinya?” tanya Nenek sambil menyerahkan amplop coklat kepada Bunda.
Dengan penuh hati-hati Bunda membuka lalu membaca isi suratnya, “ Renata, Bu. Ia lulus masuk universitas analitika. Ia juga terpilih sebagai siswa yang mendapatkan beasiswa dan asrama gratis yang disediakan pihak kampus.”
“Re, dipanggil Bunda,” ujar Nenek yang menghampiriku di dapur. Aku tengah asik menyusun belanjaan, yah bulan ini aku belanja keperluan rumah sendiri. Tak seperti biasanya bareng Bunda.
“Iya, Nek,” jawabku sambil menganggukkan kepala.
Aku pun melangkahkan kaki menuju kamar Bunda, terlihat Bunda tengah menyusui Keira.
“Bun.”
“Sini!” pinta Bunda dengan tangan mengisyaratkan untuk mendekat ke arahnya. “ Selamat ya, Re. Kamu lulus, kamu hebat, Re. Kamu juga terpilih untuk tinggal di asrama secara gratis. Bunda bangga padamu, Re. Maafkan Bunda, Bunda egois. Bunda enggak memandang usahamu, Bunda hanya merisaukan keadaan Bunda dan Keira. Bunda benar-benar minta maaf,” jelas Bunda yang diikuti buliran deras air mata hingga mengenai pipi Keira. Kami pun saling berpeluk, aku terharu. Perlahan dinding tinggi penghalang antara aku dan impianku kini mulai runtuh. Aku tak melakukan apa-apa. Hanya berusaha yang sesuai kemampuanku dan terus berdoa kepada Sang Mahakuasa. Yah, aku tak punya daya upaya untuk membuat Bunda percaya padaku. Bahkan aku tak punya kekuatan untuk menguatkan langkahku, hanya berpasrah. Kini aku benar-benar bahagia, Allah selalu bersamaku.
Malam ini menjadi malam paling membahagiakan, terlihat raut bahagia di seluruh penghuni rumah. Bahkan Keira, si bayi kecil turut tersenyum malam ini. Yah, mungkin langkahku tak jadi terhenti. Namun, perjuanganku baru akan dimulai. Mempertahankan beasiswa itu tak mudah. Aku tak mau merisaukan hal yang tak seharusnya aku risaukan saat ini. aku hanya perlu terus berjuang dan berusaha, berdoa dalam setiap waktunya. Agar aku bisa terus merekahkan senyum di wajah mereka. Yah, mereka yang ada di sekitarku. Aku juga yakin, Ibu kini tengah tersenyum akan perjuanganku. Perjuangan hidup setelah Ibu tiada, perjuangan untuk meraih impian Ibu menjadi tenaga medis.
Dalam doa aku menangis,
Dalam malam aku bersembunyi,
Dalam diam aku bertahan.
__ADS_1
Tiada hidup tanpa masalah, tiada masalah tanpa penyelesaian.
Aku hanya perlu bertahan, berjuang dan berharap kepada Sang Maha.