
Setelah membaringkan Andrea di atas ranjangnya Ari berkata, “ Kak, bagaimana jika aku sendiri saja yang mengambil hasil laboratoriumnya?”
“Aku harus ikut Ri, aku ingin mendengar langsung penjelasan Dokter. Berapa kali aku harus mengatakannya?”
“Kak, Bunda sendiri di rumah. Bagaimana jika terjadi apa-apa pada Bunda?”
Mereka terdiam sejenak. Kemudian Andrea berkata, “ Bagaiman kalau aku dengan Pak Deno saja yang pergi. Kamu di rumah saja menemani Bunda?”
“Aku tak yakin, Kak. Bunda juga pasti ingin mendengar penjelasan Dokter kan Kak? Kakak tahu kan, seperti apa kerasnya Bunda jika itu berhubungan dengan kita berdua?”
“Yah, Bunda pasti juga akan ngotot pergi meskipun ia sedang sakit.”
“Ya, sudah. Sebaiknya kita menunda terlebih dahulu masalah ini. Setidaknya kita harus bicarakan hal ini dengan Bunda.”
Andrea tak berkata apa-apa. Ia hanya menghela napas dan menggangguk, namun dengan raut wajah yang terus berpikir.
“Aku pergi melihat Bunda dulu Kak!”
Andrea pun merebahkan tubuhnya, namun wajahnya masih saja dalam keadaan berpikir.
“Halo, Pak Deno. Bisakah Bapak pergi ke klinik Sehati? Ambilkan hasil laboratorium atas nama saya. Jika Bapak menemui Dokternya, maka sambungkan pada saya. Terima kasih.”
Pak Deno yang berada di kantor pun segera pergi ke rumah sakit yang di tuju. Ia duduk santai ambil menunggu urutannya, lalu pergi menemui Dokter.
“Siang Dok, saya datang untuk mengambil hasil laboratorium atas nama Andrea Dinata.”
“Oh, mengapa tidak mereka langsung yang datang?”
“Ibu sepertinya kurang enak badan, maka saya yang diutus untuk mengambil hasilnya. Mas Andrea ingin menghubungi Dokter melalui telepon.”
“Hah! Baiklah, berikan teleponnya.”
Dokter pun meminta Pak Deno untuk tetap duduk menunggu. Sedangkan Dokter pergi ke ruangan lain untuk memulai pembicaraan.
“Selamat sore, Ndre. Bagaimana keadaan kamu saat ini?”
“Baik Dok. Jauh lebih baik sekarang. Tanpa batuk dan tidur dengan nyenyak. Bagaimana hasil laboratoriumnya, Dok?”
Sesaat pembicaraan itu terhenti. Dokter terlihat bingung untuk memulai pembicaraan.
“Dok, apapun hasilnya saya siap. Saya begitu yakin dengan kelainan yang terjadi beberapa bulan belakangan ini. Tubuh saya lebih mudah sakit, bahkan meski hanya batuk, itu benar-benar lama dan terlihat parah.”
“Baiklah saudara Andrea, saya akan menjelaskannya pada anda. Sebenarnya saya ingin anda datang langsung, agar lebih mudah menjelaskannya.”
“Apakah menurut Dokter sepenting itu? hingga tidak dapat dilakukan melalui telepon?”
“Bukan ..., bukan begitu. Saya rasa, saya hanya perlu menjelaskannya secara langsung karena akan ada terapi selanjutnya.”
“Apakah saya memiliki penyakit lain? Tidak hanya batuk yang saat ini saya derita?”
“Tidak, bukan penyakit lain. Tetapi sejenis virus. Dan anda tahu bukan, virus ini harus dimusnahkan.”
“Baiklah, Dok. Pantas saja kesehatan saya begitu buruk belakangan ini. Kapan kita bisa melanjutkan konsultasinya, Dok?”
__ADS_1
“Kapan pun, silahkan hubungi saya jika ingin melakukan konsultasi lanjutan.”
“Terima kasih, Dok. Saya akan segera memberi kabar. Saya harap Dokter orang yang tepat untuk mengobati penyakit saya. Setidaknya itulah yang saya rasakan saat ini.”
“Senang mendengar ucapan anda. Semangat itu penting untuk sebuah kesehatan. Baiklah! Akan saya berikan hasil laboratoriumnya nanti, saat anda berkunjung untuk konsultasi saja.”
“Baik, Dokter. Sampai ketemu lagi.”
***
“Ri, bagaimana keadaan Bunda?”
“Bunda lebih baik, hanya kelelahan begitulah katanya.”
“Syukurlah, untuk menemui Dokterku sebaiknya menunggu Bunda benar-benar pulih saja.”
“Ya, Kak. Itu ide bagus, biar kita bertiga mendengar langsung penjelasan Dokter.”
***
Tiga hari pun berlalu, Resi mulai tampak tegar. Sepertinya ia telah siap mendampingi Andrea untuk mendengar penjelasan Dokter.
“Bun, apakah Bunda sudah siap menemani Kakak?”
“Harus, Nak! Kita tidak bisa menunda lebih lama lagi. Hal ini harus dihadapi, meskipun pahit. Hanya saja Bunda begitu iba melihat jalan hidup Kakakmu. Rasanya nasib buruk tak pernah berhenti menghampiri jalan hidupnya.”
“Ya, Bunda benar. Ari juga tak tega melihat keadaan Kakak! Setidaknya apapun yang terjadi dengan Kakak, kita akan selalu bersamanya, Bun. Tidak akan pernah membiarkannya sendiri mengalami kesulitan hidupnya. Dibandingkan harta Ayah, Kakak itu jauh lebih berharga buat Ari, Bun.”
***
“Kak, perlu aku bantu jalan ke mobil?”
“Ayolah Ri, Kakak belum setua itu. Jangan terlalu mengejek.”
“Sorry, Kakak begitu tuh, Bun. Kalau sudah sembuh langsung sombong.”
Mereka bertiga tertawa. Meski Resi menjadi tak banyak bicara sepanjang jalan. Ia benar-benar sedang mempersiapkan banyak kata dan tenaga untuk merangkul anaknya nanti.
“Bun, apakah Bunda masih sakit? Mengapa Bunda banyak diam?”
“Bunda, sudah lama ingin makan malam diluar bersama kita, Kak. Itu tuh, di restoran langganan Kakak.”
“Ya Tuhan ..., kenapa Bunda tidak bilang. Nanti, sepulang dari rumah sakit kita langsung ke sana.”
“Bukannya kamu yang ingin kesana, Ri?” ejek Bunda.
“Yah, Bunda. Kenapa buka kartu sih, entar Kak Andrea jadi gak mau deh.”
“Iya, Bun. Suka rugi kalau bawa Ari.”
“Enak saja, emangnya makanku sebanyak apa?”
Mereka berdua tertawa, bahagia, seakan melupakan kejadian buruk yang mungkin terjadi. Mungkin begitulah rencana Ari, membiarkan Kakaknya tertawa lepas saat ini. karena bisa jadi selepas menemui Dokter, Kakaknya akan kembali mengurung diri.
__ADS_1
***
“Selamat sore, Dok.”
“Sore, bagaimana keadaan anda?”
“Lebih baik, Dok. Lihatlah! Saya sudah mulai berdaging kembali.”
“Iya, Dok. Hingga saya tak perlu takut membawa Kakak pergi keluar. Apalagi ke daerah yang banyak anjingnya, bisa-bisa Kakak jadi incaran.”
Resi menyikut lengan Ari. Namun, Dokter, Ari dan Andrea tertawa. Tidak dengan Resi, ia hanya tersenyum kecut dengan lelucon anaknya.
“Bagaimana Dok, tindakan apa selanjutnya yang harus saya lakukan untuk memusnahkan virus itu?”
Resi kaget, mengapa Andrea tahu mengenai virus itu.
“Nak, bagaimana kamu tahu tentang virus. Bukankah kamu baru kali ini mengunjungi Dokter?”
“Ya, Bun. Kemarin aku meminta Pak Deno mengambil hasilnya, namun Dokter menyarankan agar aku datang langsung kesini. Ada virus yang harus kutangani.”
Resi kaget bukan kepalang. Ia melirik ke arah Ari. Namun, Ari hanya menaikkan kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya.
Huh ....
Sikap tubuh Resi yang begitu kaku sedari tadi, kini mulai rileks. Ia bisa duduk santai menyandar untuk mendengarkan saran Dokter. Sedangkan Ari yang sedari tadi berdiri di belakang tempat Andrea duduk, mulai menyenderkan tubuhnya pada kursi Andrea. Sikap kaku Ari seperti bodyguard gagah yang siap melindungi Andrea berubah seketika menjadi adik lelaki yang menyayangi Kakaknya.
“Melihat dari kemajuan kesehatan anda, maka kemungkinan virus itu masih bisa diatasi. Bukankah sedari awal kesehatan anda begitu baik dan stabil, seperti yang anda bilang saat di telepon?”
“Benar, Dok. Saya selalu menjalani hidup sehat, makanan yang bergizi dan olahraga serta cukup istirahat.”
“Benar, Dokter. Andrea anak yang tahu menjaga dirinya.”
“Ya, itu perbuatan yang seharusnya dilakukan semua orang. Saya senang anda memiliki kebiasaan baik seperti itu.”
“Dok, apakah saya perlu perawatan intens? Atau rawat inap dan pengecekan lanjut yang teratur?”
“Oh, tidak perlu. Anda hanya perlu melakukan gaya hidup sehat seperti yang biasa anda lakukan dan minum obat secara teratur. Anda juga tidak perlu konsultasi setiap masa, hanya jika anda mengalami keadaan tertentu saja. Seperti kesehatan yang menurun dan lainnya.”
“Baiklah, itu tidak sulit menurut saya.”
“Syukurlah, untuk seminggu pertama anda akan diajarkan untuk mengenal diri anda. Maksudnya gejala dan segala yang berhubungan dengan virus ini. karena virus ini bersifat menular. Untuk fase ini, anda akan dihubungi oleh perawat kami.”
“Virus ini menular layaknya seperti batukkah?”
“Oh, tidak. Anda tidak perlu takut, penularannya tidak mudah dan segampang itu. anda tidak perlu berpikir macam-macam. Cukup jalani hari dengan pikiran positif, jangan mendengarkan apapun perkataan orang diluaran sana. Karena prasangka buruk dan beban pikiran yang dapat membunuh seseorang lebih cepat dari jenis penyakit berbahaya manapun. Saya harap anda memahaminya.”
“Syukurlah, Dok. Saya turut senang mendengarnya. Saya hanya tak ingin menularkan ini kepada siapapun, terutama keluarga saya.”
“Baiklah, ini hasil laboratoriumnya. Sampai jumpa lagi.”
“Terima kasih, Dokter. Kami permisi dulu.”
Resi terus saja melirik ke arah Ari. Diluar dugaan, kejadian yang terjadi tak semenakutkan dari apa yang Resi perkirakan. Ari pun tampak lega, karena ia tak menyangka Kakak yang ia kenal sedari kecil itu, kini lebih kuat dan dewasa dalam menerima keadaan.
__ADS_1