
Aku berdiri tepat di sebuah gedung putih dengan banyak jendela di sekelilingnya. Yah, itu asrama analis, dengan menenteng bungkusan di tangan kanan, koper di tangan kiri dan ransel di punggung aku melangkah menuju gedung nan tinggi itu.
Brak!
Cowok bertubuh tinggi berambut kecoklatan menabrak tubuhku. Membuatku terduduk dan seluruh isi bungkusanku berserakan. Dia hanya menutup mulutnya seraya berkata, “ups ....”
“Maafkan temanku,” ujar pria hitam manis dengan kacamata yang bersandang di wajahnya. Ia pun menyodorkan tangannya, mengisyaratkanku untuk meraihnya. Aku pun menyambut tangannya, kemudian bangkit dengan bantuannya. Beberapa saat tangan kami saling berpegangan dengan wajah saling menatap. Lalu pria berambut kecoklatan itu memecahkan keheningan di antara kami dan kami pun segera melepaskan pegangan tangan ini lalu saling membuang pandangan.
“Sorry, ini bungkusan loe. Sepertinya sudah semuanya gua masukkan,” ujarnya sambil menyerahkan pelastik hitam.
Tanpa banyak bicara, aku meraih pelastik itu kemudian pergi meninggalkan mereka begitu saja. Aku terus berjalan, hingga akhirnya aku berhenti. Aku kebingungan, dimana pintu masuknya? Sedari tadi aku berjalan, sepertinya hanya berkeliling saja. Ada pun pintu yang kutemui tertulis sedang perbaikan. Aku pun memilih duduk di bangku taman, lalu mencari-cari botol airku yang ada di pelastik hitam. Sial, botolnya terjatuh nih, gara-gara tabrakan tadi. Aku pun menepuk keningku, baru sampai sudah ada saja ujiannya.
Tak berapa lama dari kejauhan terlihat dua pria yang menabrakku tadi berjalan ke arahku.
“Hai, ini botol minummu. Tadi tertinggal,” ujar si rambut coklat dengan bibir merekah.
Masih bisa tersenyum dia, ingin aku hajar tuh anak rasanya. Dengan cepat kurampas botol itu, lalu kuteguk segera. Jangan sampai keringnya dahaga mengeluarkan kedua tanduk iblisku. Aku begitu anti dengan pria genit apalagi yang berani seperti dia.
__ADS_1
“Maafkan kami ya, boleh tau kamu mau ke asrama mana? Kami ingin membantu, sebagai ungkapan maaf kami. Berhubung pintu utama sedang perbaikan,” ucap si hitam manis dengan lembut. Aku pun menerima tawarannya.
“Analis, terima kasih,” jawabku kaku.
“Mari, aku bantu bawakan kopermu,” pintanya yang segera meraih koperku.
Aku pun berjalan mengikuti kedua pria itu. Benar saja, tanpa bantuan mereka. Aku tak akan pernah bisa sampai di kamarku, karena pintu belakangnya benar-benar tertutup sekali. Seakan pintu ini menjadi pintu rahasia. Bisa gila aku mencarinya, jika aku menolak tawaran mereka.
Langkah kami terhenti di gedung putih dengan kain jendela berwarna merah muda, yah itulah yang menandakan asrama wanita. Sedangkan kain jendela berwarna biru itu menandakan asrama pria yang berada tepat di seberannya.
“Terima kasih,” jawabku dengan tangan menengadah meminta koperku.
“Aku Tama, analis juga. Mungkin kita akan sering bertemu di kelas nantinya,” sapanya lembut tanpa menyentuh tanganku.
“Aku Renata, panggil saja Rere,” ucapku kesal.
“Baiklah Rere, sampai jumpa besok. Bye ...” ucap Jo, dengan gaya genitnya yang hampir membuatku muntah.
__ADS_1
Aku pun memasuki kamar dengan kunci yang telah lebih dulu di berikan pihak kampus. Kamar dengan dua tempat tidur bertingkat. Lengkap dengan lemari dan dua buah meja. Kupandangi setiap sudut ruangan. Indah, nyaman dan aku harap aku bisa betah di sini. Ruang baru, suasana baru dan kehidupan baru.
Aroma kamar ini begitu asing, namun kelak ini menjadi aroma yang akan kuhirup setiap harinya. Kubuang jauh pandanganku ke arah luar jendela. Asri, banyak tanaman bunga dengan bermacam-macam warna. Serta rumput yang terpangkas rapi.
“Hah.”
Belum lagi aku bermalam di sini, rasa rindu rumah sudah terbayang di anganku. Suara tangis Keira, aroma masakan Bunda dan wangi parfum Ayah. Aku tak akan bisa merasakan itu semua di sini. Entah apa yang bisa aku lakukan jika hatiku tengah galau. Biasanya pelukan Ayahlah yang akan menjadi labuhanku. Tiba-tiba saja wajah Tama terbayang di ingatanku. Ih, kenapa wajahnya yang terbayang. Aku pun segera menata rapi semua perlengkapanku. Besok pagi kami semua akan berkumpul bersama di aula dan aku tak mau terlambat bangun.
Waktu tak pernah berhenti, apalagi mundur.
Akan ada banyak hal yang kau jalani,
Terkadang kau ingin waktu segera berlalu,
Namun kadang kala kau ingin waktu berjalan mundur.
Nikmatilah setiap momen, karena ada cerita di dalamnya.
__ADS_1