CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
season 2 bab 3


__ADS_3

Malam Duka


Sore bahagia penuh tawa. Hanya aku dan Mia cucu Kakek. Hingga kami berdualah yang menjadi pusat perhatian malam. Mia yang masih berusia hitungan bulan, belum mampu menunjukkan kelebihannya. Sedangkan aku disibukkan dengan jutaan pertanyaan tentang cita-citaku. Apakah aku mau menjadi seperti Ayah, atau memiliki impian lain.


Aku hanya tersenyum, senyumanku membuat haru. Yah, senyuman ini membuat wajahku semakin mirip dengan almarhum Kakek. Wajah yang tampan, bermata sipit dan berkulit putih. Senyum yang menampilkan lesung dikedua pipiku. Senyum manis yang membuat Ayah dan Paman begitu semangat menjalani hidup.


Semua orang asik menikmati waktu. Pamanku yang turut datang bersama calonnya pun penuh semangat memperkenalkannya pada keluarga besar kami. Malam yang indah, dengan sinar bulan yang begitu terang. Seakan turut merayakan kebahagiaanku.


Kado bertumpuk di sudut dekat meja. Ada kue tar besar berbentuk mobil di sana. Yah, mobil impianku, mobil sport bewarna merah. Ayah bilang, merah merupakan lambang kekuatan dan keberanian.


“Yah, jika Andre besar nanti. Andre ingin memiliki mobil yang seperti ini,” aku menunjukkan gambar yang ada di layar kaca.


“Mobil besar, bewarna merah. Mobil dengan kecepatan penuh, tapi bukan untuk balap. Melainkan kelebihan mobil itu, Yah. Mobil dengan kedua pintunya yang terbuka ke atas. Mobil keren, meskipun bisa ngebut, tapi tak bersuara Yah. Bolehkan, Andre punya mobil seperti itu nanti?”


Ayah tersenyum, ia membelai lembut rambutku dan berkata “boleh, belajar yang serius. Bekerja dengan sungguh-sungguh, dapatkan mobil impian Andre. Ayah mau, Andre berusaha sendiri untuk mendapakan itu. bagaimana?” aku pun mengangguk. Aku senang Ayah setuju dengan pilihanku. Meski syaratnya harus membeli sendiri dengan uang tabunganku.


Alunan musik klasik menemani makan malam kami. Semua tampak bahagia, tiada wajah tanpa senyum malam itu. Gaun putih dengan aneka macam gaya berjajar rapi. Kemeja dan jas hitam menjadi pilihan Ayah malam itu. kemeja putih dengan segala aksesorinya membuat Paman-Pamanku tampak gagah. Yah, meski dikatakan pesta sederhana, namun bagi banyak orang tetap mengatakan mewah. Setidaknya beginilah, cara Ayah dan Ibuku mengajarkan sederhana padaku. Mengutamakan keluarga dan hidup berbahagia.


Sampai menjelang pukul 06.00 WIB. Aku menemui Ibu di kamar, Ibuku tengah asik menulis buku diarynya.


“Bu, Paman dan Bibi sudah berkumpul. Ibu kenapa tidak keluar?”


“Kemarilah sayang ....”


Ibu memelukku dan membelai rambutku. Dikecupnya dahiku berulang kali. Kedua pipi dan hidungku pun turut menjadi sasaran ciumannya.


“Andrea, anak Ibu yang paling Ibu cinta. Apakah Andrea juga mencintai Ibu?”

__ADS_1


“Yah, Andrea sayang Ibu. Mengapa Ibu bertanya begitu?”


Ibu menggelengkan kepalanya lalu berkata “ Ibu hanya ingin memastikan. Ibu takut kamu tak menyayangi Ibu dan melupakan Ibu.”


“Tidak mungkin, Bu! Bagaimana bisa Andrea melupakan Ibu. Ibu begitu baik, Ibu cantik, Ibu paling Andrea cinta. Ibu wanita yang Andrea cintai.”


Ibu tersenyum, raut bahagia terpancar diwajahnya.


Aku pun membisikkan ini di telinga Ibu, “ Asal Ibu tahu, Andrea lebih mencintai Ibu daripada Ayah. Tapi jangan bilang-bilang kepada siapapun ya, Bu!”


Ibuku tertawa, pipinya merona merah, senyumnya begitu lebar. Begitu bahagianya Ibu sampai meneteskan air mata.


“Mengapa Ibu menangis? Maafkan Andrea, Bu. Jika Andrea berkata yang menyakiti hati Ibu.”


Ibu menggelengkan kepala, mendekatkanku tubuhku tepat di dadanya. Mendekapku hangat, dekat dan dalam. Seakan hendak menyatakan, pelukan ini adalah sebuah perpisahan.


“Pergilah keluar, panggil Ayahmu. Ibu akan menyusul!”


Ibu tersenyum, melambaikan tangan dan mengusap air mata yang ada di pipinya. Itulah pandangan terakhir Ibu.


Aku pun mendekati Ayah, menyatakan bahwa Ibu tengah menunggunya. Ayahpun permisi kepada tamu lainnya dan berjalan menuju kamar. Semua tampak biasa dan bahagia. hingga saat aku mendengar suara teriakan Ayah memanggil nama Ibuku.


“Sri ....”


“Bangun ....”


Seketika semua mata saling bertatap ke arah rumah. Pamanku berlarian menuju kamar, sedangkan aku ditahan oleh Bibiku. Tak tahu apa yang terjadi. Yang kutahu, Ibuku telah pergi.

__ADS_1


Malam itu, pesta ulang tahun sekaligus pesta perpisahan Ibu kepada kami.


“Apa yang terjadi Kang?”


“Mba Sri telah berpulang, Dik. Baru saja, dalam pelukan Mas Jaya.”


“Ya, Tuhan ....”


Mendengar hal ini, aku melepas pegangan Bibi dan berlari menuju kamar. Di saat itu aku melihat Ibuku tertidur di atas ranjang dengan senyum terbaiknya. Ibu terbaring bak putri tidur. Gaun indah, riasan wajah dan senyum indah itu seakan menggambarkan kepergiannya yang terencana. Ibu memiliki kelainan pada paru-paru dan jantungnya. Hal ini pun telah diketahui Ayahku jauh hari dari sebelum perjodohannya dengan Ibu terjadi. Ayah telanjur mencintai Ibu, hingga kekurangan dan sakit Ibu tak menjadi beban bagi Ayah. Bahkan Ayah berjanji, akan menjaga Ibu hingga menua.


Ayahku duduk tepat di samping Ibu terbaring, Ayah meraihku, mendekap erat dan mengatakan “Ibu telah pergi ke tempat terbaik, pesan Ibu jangan jadi anak yang nakal. Andrea berjanji?”


Air mataku pecah, baru saja aku memberitahukan rahasia pentingku pada Ibu. Baru saja aku menyatakan rasa sayang dan cintaku. Baru saja aku memeluk Ibu. Kini semua itu menjadi yang terakhir.


Aku mengangguk sebagai jawaban dari ucapan Ayah. Ayah pun memberikan jari kelingkingnya padaku, jari kami pun saling melingkar. Beginilah cara aku, Ayah dan Ibu saat akan membuat perjanjian.


Aku mendekati Ibu, kuraih tangannya, kukecup hangat tangan yang tampak lemah itu. dingin, tak ada lagi kehangatan.


Kuletakkan telapak tangan yang selalu membelaiku itu, tepat di atas kepalaku. Sayang, tangan itu tak bertenaga, hingga kembali jatuh ke ranjang.


Yah, sosok bidadari tak bersayapku lenyap. Tak bisa terima, namun aku sudah berjanji pada Ayah dan Ibu untuk tidak menjadi anak yang nakal.


“Andrea ..., jangan terlalu lama menangis. Kekuatan kamu akan hilang, Nak! Kan Andrea pahlawan Ibu.”


Ucapan itulah yang selalu terngiang diingatakanku, kala aku harus menangis karena sedang bersedih. Setiap mengingat ini, perlahan air mataku berhenti menetes. Bahkan, saat aku begitu kesulitan menghentikannya.


Tawa yang menghiasi wajah kami berubah menjadi isak tangis kepedihan. Ibu tak hanya baik dan penyayang bagiku dan Ayah, namun bagi para Pamanku juga. Ibu tak pernah membedakan adik Ayah ataupun adiknya sendiri. Bahkan, saat Pamanku terkendala dan sulit mengungkapkannya pada Ayah, Ibuku yang membantu Pamanku untuk menyampaikannya. Meskipun itu merupakan urusan bisnis. Ibuku wanita cerdas, ia juga turut membantu usaha Kakek pada masa mudanya.

__ADS_1


Hanya saja, Ibu meminta izin kepada Kakek dan Ayah. Untuk menjadi Ibu seutuhnya setelah masa pernikahan.


Malam ini rasanya aku tak mau tidur, aku ingin berada di samping Ibu. Melihat puas wajah rupawan Ibu. Memeluk lengan Ibu selama aku bisa. Namun sayang, kantuk membuatku terlupa. Hingga aku dipindahkan agar bisa tidur lebih nyaman.


__ADS_2