
Pernahkah kau rasakan sedetik kebahagiaan,
yang kemudian hilang berganti menjadi kekecewaan?
Kau tak akan pernah tahu, kapan kekecewaan akan datang menyapa.
Maka siapkan hatimu,
Aku tak mau kau terhanyut dan terbuai hingga masuk ke dalam penyesalan yang tak berujung.
Gubrak, suara benturan kuat itu menghentikan langkahku. Membuatku berbalik menuju kamar. Namun sayang, tiba\-tiba saja pintu kamar Ayah terbuka dan Ayah tengah mendapatiku yang mematung membelakanginya.
“Re, apa itu yang di tanganmu, Nak?” tanya Ayah dengan nada yang lembut.
“Enggak, Yah,” jawabku ragu.
Aku memilih untuk tidak mengabarkan berita bahagia ini. karena aku telah mendengar perbincangan Bunda dan Ayah tadi, Bunda begitu keberatan akan usahaku memasuki universitas keperawatan. Karena Bunda tahu, perusahaan Ayah sedang goyang. Bunda takut tak mampu membiayai kuliahku. Sedangkan Bunda kini tengah mengandung anak pertamanya bersama Ayah.
Sebulan belakangan ini Ayah tak pernah lagi di kirim keluar kota oleh perusahaannya. Yah, tutupnya perusahaan cabang membuat terancam posisi Ayah. Hingga menyebabkan pemotongan gaji sampai pemberhentian sepihak oleh perusahaan.
Bunda marah, karena Ayah masih saja mendukungku untuk kuliah. Bunda merasa Ayah terlalu memanjakan dan menurutiku. Padahal Bunda Tahu, jurusan ini merupakan impian Ayah dan almarhumah Ibu. Mereka ingin anaknya bisa menjadi petugas tenaga medis. Awalnya aku mendaftarkan diri pada jurusan kedokteran. Namun aku sadar, kini bukan hanya aku yang menjadi anak Ayah. Lagipula aku tak yakin benar akan kemampuanku dalam meraih beasiswa di sana.
“Ini kertas pengumuman? Kamu lulus, Nak?” tanya Ayah yang merampas selebaran kelulusan yang ada di genggamanku.
__ADS_1
Ayah menangis, ia memelukku begitu erat. Ada rasa bangga dari tiap deru napasnya. Kembali teringat akan keadaan almarhum Ibu waktu itu, Ibu terbaring sakit. Klinik tempat Ibu dirawat tak memberikan pelayanan yang baik kepada Ibu. Ibu diabaikan begitu saja, itulah mengapa Ibu berpesan padaku jika kelak kamu menjadi dokter, maka jadilah tenaga medis yang baik, yang sungguh-sungguh merawat pasiennya. Karena ada keluarga mereka yang mengharap kesembuhannya.
Airmataku jatuh, mengingat akan ucapan yang merupakan pesan terakhir Ibu.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya ayah.
“Rere bahagia, bisa lulus Yah,” ujarku.
Peluk kami terlepas saat mendengar kerasnya suara bantingan pintu yang dilakukan oleh Bunda.
“Yah ....”
“Sudah, kamu tenang saja. Tugas kamu saat ini belajar yang serius, Ayah masih punya banyak tenaga untuk mencari biaya kuliahmu,” Ucap Ayah yang tengah berusaha menenangkanku.
Semangatku melemah, dinding tinggi kini sedang menutupi impianku yang begitu dekat. Kerja kerasku belajar demi bisa lulus di sana serasa terabaikan. Kecewa, namun aku tak berani menampilkan wajah sedih dan ragu ini di depan Ayah. Karena aku tau, Ayah pun tengah berjuang demi diriku. Aku sadar, aku tak sendiri dalam menjalani hidup. Namun, sedih yang tak terkira jika aku harus mengetahui penderitaan yang Ayah rasakan demi membelaku.
Berulang kali aku menatap lembar kelulusan itu, berulang kali pula aku bertanya apakah itu terbaik untukku. Bisik-bisik ragu terus menyerang hatiku. Rasa takut untuk melangkah membuatku memilih mundur. Lagi-lagi hatiku turut bergeming, akan besarnya perjuangan yang harus aku lewati demi mendapatkan semua ini.
Kupaksa memejamkan mata yang telah lelah menangis. Berharap kejadian malam ini hanyalah mimpi semalam.
“Mas! Sampai kapan kamu mau memanjakan Renata?” bentak Bunda kepada Ayah.
__ADS_1
“Aku hanya ingin mengabulkan impian Renata dan Ibunya,” jawab Ayah penuh lembut. Ya, Ayahku merupakan pria terlembut dan penuh kasih sayang. Bukan karena ia Ayahku, namun begitulah realitanya.
“Kenapa kamu enggak menceritakan yang sebenarnya, Mas? Kenapa kamu tidak jujur saja akan keadaan kita? Apa kamu tidak memikirkan nasib anak yang kukandung?” jelas Bunda dengan suara parau, diiringi tangisan yang menyayat jika mendengarnya.
“Aku memikirkanmu juga anak kita, Dik,” ucap Ayah sambil membelai lembut telapak tangan Bunda. Yah, dari cela pintu yang tak tertutup rapat, aku melihat langsung apa yang terjadi.
Bunda melepas paksa tangan Ayah, hingga Ayah terdorong. Itulah mengapa ada suara benturan kuat dari dalam sana. Ayah kemudian bangkit kembali dan memeluk Bunda seraya berkata “ Dik, kontrol emosimu. Mas tak ingin terjadi apa\-apa pada anak kita!” pinta Ayah. Saat itu mata Ayah mengarah ke arah pintu dan mendapatiku yang tengah berbalik arah.
Lagi\-lagi bayangan itu yang bergentayangan dipikiranku. Bagaimana bisa aku tidur, jika ini saja yang terus menghantuiku. Berulang kali kubalikkan tubuhku. Memperbaiki letak bantalku, lalu mengambil salah satu bantal untuk kuletakkan dibawah kakiku. Kemudian kubalikkan lagi tubuhku menghadap dinding. Hingga tanpa sadar waktu telah menunjukkan pukul 00.00 wib. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah tidur di atas lantai tanpa sehelai alaspun. Namun lagi\-lagi mataku tak dapat terpejam.
Perlahan kubuka pintu, lalu berjalan mengendap menuju dapur. Kubasahi tubuhku dengan wudu’ dan kusujudkan wajahku di atas sajadah. Sudah habis caraku untuk menikmati malam ini. Malam kelam yang cukup sulit kujalani. Berulang kali aku katakan pada diriku, bahwa aku tak sendiri. Namun berpasrah pada Sang Penguasalah jalan terbaiknya.
Diriku bukanlah milikku,
Masih ada pencipta yang punya kuasa atas diriku.
Mata tak akan terpejam, tanpa izin-Nya.
Ya, Rabb. Bimbing aku dijalan-Mu.
Karena takdirku ada di tangan-Mu.
__ADS_1