
Enam bulan berlalu setelah aku mengetahui keberadaan virus HIV yang telah bersarang di tubuhku. Aku saat ini telah bergabung dengan kelompok ODHA yang ada di kotaku. Aku juga telah mengkonsumsi ARV secara teratur. Meskipun aku berstatsu tenaga medis. Namun, adakalanya aku tak mampu menenangkan diriku sendiri dengan ilmu yang kuketahui.
Yah, aku butuh mereka para carrier lainnya. Mereka yang terus menyemangatiku, mengingatkanku dan mengajakku untuk bertemu para carrier lainnya. Mereka yang menjadikan hidupku jauh lebih bermanfaat bahkan sebelum aku berstatus ODHA. Mereka yang saling berpegangan tangan memberikanku rasa nyaman layaknya kembali pulang pada keluarga. Mereka yang siap melihat tangisan dan mendengar jeritan kekecewaan para carrier. Mereka yang selalu ada, siap sedia memberikan pundaknya untuk kami para carrier bersandar.
Kini aku jauh merasa lebih hidup. Yah, kegersangan hati akan kasih sayang orang tua kini tergantikan. Hatiku selalu bersemi penuh semangat. Seakan aku berkata aku siap hadapi dunia! Duniaku kini berubah lebih baik, lebih indah dan jauh lebih tertata.
Kegiatan yang aku lakukan benar-benar mengikuti anjuran terapi yang ada. Benar saja, meski aku positif HIV. Namun, keadaan fisikku normal dan segar. Bahkan jauh lebih segar dari sebelum virus itu hinggap. Aku benar-benar merasa di dunia yang baru. Dunia penuh tawa.
Mungkin inilah kebahagiaan yang telah Allah janjikan. Kebahagiaan yang begitu aku rindukan. Kebahagiaan yang berhasil mewarnai hari-hariku. Terkadang aku terbuai akan lamunan. Lamunan panjang dari setiap perjalanan takdirku. Yah, kematian ibu, kematian nenek, tindakan buruk dari saudara tempatku di titipkan, tekanan Bunda akan niatku untuk melanjutkan kuliah, Tekanan yang harus Ayah terima karena membelaku. Semua itu terbayang jelas layaknya mata menatap layar kaca.
Tetapi kesedihan itu tak lagi menjadi beban yang mengganjal. Kesedihan itu tak lagi menjadi luka yang mengering. Kejadian itu tak lagi menjadi memori buruk yang tak mau kuingat. Tapi kejadian itu kini menjadi bukti cinta dari Sang Maha.
__ADS_1
Mungkin aku pernah terluka, sering kecewa dan kerap menangis. Namun, hal ini bukan aku saja yang hadapi. Aku hanya menutup diri dari dunia luar. Dunia luar yang ternyata lebih kejam dari keadaanku. Setidaknya, setiap keadaan buruk yang terjadi. Allah terus memberiku orang-orang yang menyayangiku. Ayah yang dengan lembut menjaga hatiku, Tama yang selalu bersikap hangat menggantikan Ayah, Jo yang usil dan jahil namun selalu memperhatikan kebutuhan dan kebiasaanku.
Hingga kini, Ela- wanita yang menjadi inspirasi kecilku. Keadaan kami mirip, tapi sesungguhnya nasibku jauh lebih baik. Bunda menyayangiku dan Ayah tetap menjadi milikku. Sedangkan Ela, ia harus berjauhan dengan Ayahny karena sikap Ibu tirinya. Ia harus mencari uang untuk biaya hidupnya, agar tak memberatkan neneknya. Dia benar-benar sendiri, saat aku masih memiliki sahabat dan orang yang kucintai.
“Re, aku harus pulang kampung. Nenekku meninggal! Aku izin cuti tiga hari. Awalnya, aku ingin mengajakmu, Re. Tapi, Kak Joya mengatakan, kamu yang harus menggantikanku, hingga kamu tidak bisa ambil libur selama aku cuti. Maaf ya, Re. Aku jadi merepotkanmu,” jelasnya dengan wajah sedih dan mata yang membengkak karena terus menangis.
“Aku yang seharusnya minta maaf, El. Aku tak bisa menemanimu. Aku harap kamu terus tegar. Karena aku tak ingin melihat Nenekmu bersedih, jika melihatmu yang terus terperangkap dalam kesedihan.”
Tiga hari ini, aku pulang kerja sendirian. Bahkan, saat aku keluar untuk berbelanja atau sekedar mencari makanan. Terasa sepi, karena biasanya ada Ela yang menemani.
Aku pun meyakinkan diri. Emang benar ada seseorang yang memata-mataiku. Entah siapa. Rasanya aku tak memiliki musuh, apalagi seorang pria. Hanya Tama dan Jo pria lain yang benar-benar dekat denganku. Tama begitu jauh dan kini telah memiliki kekasih, tak mungkin ia melakukan hal ini. Jo bukan pria yang akan melakukan hal ini, meskipun aku tahu betapa usilnya dia. Siapa sih, pria yang bertingkah aneh ini?
__ADS_1
Jalan takdir kerap curang dan berbatu cadas
Begitu pula dengan cuaca dan keadaan yang terus berubah
Namun kita sebagai manusia lebih suka mengingat penderitaan
Padahal tak selamanya tangis itu menunjukkan kesulitan
Karena kini aku kerap menangis karena bahagia
Bahagia akan kado indah yang telah kudapatkan
__ADS_1
Kado terbaik yang manusia manapun tak mampu berikan
Bahagia penuh syukur akan takdir yang kudapatkan