CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
season 2 bab 9


__ADS_3

Baru saja aku ingin menikmati hidup normalku. Lagi-lagi ada dipertemukan dengan takdir buruk. Aku kini mulai sering sakit. Bahkan, hanya batuk saja pun aku bisa menderita hingga berbulan-bulan lamanya.


Awalnya aku merasa ini hal yang wajar, karena aku dan Ari sama-sama menderita batuk. Kami juga berobat di tempat yang sama. Dokter pribadi kami, obat yang biasa Dokter itu resepkan padaku seakan tidak mempan. Bahkan Batukku kian parah saja.


Hal ini menimbulkan prasangka bahwa aku tidaklah batuk biasa, melainkan adanya virus lain. Virus yang menggerogoti paru-paruku. Dokter pun menyarankan agar aku bersedia di rontgent. Dengan penuh kerisauan Bunda, akhirnya aku bersedia.


Tetapi apa yang terjadi? Paru-paruku tampak begitu sehat. Dokterku hanya terdiam. Ia tampak turut bingung dengan keadaan tubuhku.


“Ndrea, sebaiknya kita mencoba konsultasi ke Dokter lain saja. Bunda takut, jika dibiarkan terlalu lama. Saat ini tubuh kamu begitu kurus, Nak!”


“Iya, Kak. Biasanya Kakak yang paling sehat, sedangkan aku yang si tukang sakit. Ayolah Kak, kita coba check ke Dokter lain saja.”


“Baiklah! Aku tak juga tak ingin Ayah menjadi hawatir setelah melihat fisikku saat ini.”


Kami pun memutuskan untuk pergi bertiga saja. Kami tak ingin pekerja di rumah tahu tentang ini. kami tak ingin berita ini sampai terdengar ke telinga Ayah.


“Bagaimana Dokter, anak saya?”


“Melihat hasil dan pemeriksaan secara langsung, kesimpulan saya sama persis dengan Dokter pribadi anda. Hanya saja, jika benar anak anda sudah menderita batuk ini lebih dari sebulan, itu bukanlah hal yang wajar. Saya sarankan agar anak anda diambil darahnya, untuk di periksa ke laboratorium.”


“Bagaimana Ndre?”


“Kakak bersediakan?”


“Baiklah, jika itu yang terbaik.”


Sepanjang jalan menuju rumah Andrea terus saja batuk.


Uhuk !!


Uhuk !!


Uhuk !!


“Andrea, kamu enggak apa-apa Nak?”


Andrea terus saja batuk-batuk. Ia tak mampu menahannya. Bahkan ia sampai sulit bernapas karena batuk yang tiada henti. Hingga akhirnya Ari memutuskan meminggirkan mobilnya dan menghidupkan lampu.


“Bun, batuk Kakak berdarah!”


“Ndrea, apakah kita harus kembali ke rumah sakit?”


Andrea menggelengkan kepala. Dengan sisa tenaganya ia berkata, “pulang saja, aku ingin istirahat.”


Ari pun segera fokus pada kemudinya, menyalakan mesin mobil dan berjalan menuju rumah.

__ADS_1


Malam itu Andrea memutuskan untuk beristirahat saja. Ia membaringkan tubuhnya yang sudah semakin lemah tak berdaging. Resi pun menyelimuti tubuh kecil yang tampak kedinginan itu. Resi membelai lembut rambut Andrea, napasnya tampak sesak. Matanya begitu cekung dengan lingkaran hitam di bagian bawahnya. Rahang pipinya begitu timbul, sangat cepat batuk itu mengambil tubuh gagah Andrea.


Ari duduk di sebelah Andrea, memijit tubuh Andrea. Yah, Andrea merasa ngilu di hampir seluruh sendi tubuhnya. Ari juga memutuskan untuk tidur bersama Andrea sebulan ini. Ari takut, jika malam datang, terjadi sesuatu pada Andrea dan mereka tak ada yang mendengarnya. Ari menjadi adik siap siaga untuk Andrea.


Malam semakin larut. Keluhan Andrea selama ini yang tak bisa tidur malam karena batuk yang tak henti, membuat sang Dokter memberikan resep obat tidur. Yah, benar saja. Selepas makan beberapa suap nasi, ia meminum obat yang diberikan padanya. Tak butuh waktu lama, Andrea pun tertidur pulas.


Resi yang kelelahan, memilih untuk tidur di sofa yang berada di dalam kamar Andrea.


“Bun, sebaiknya Bunda kembali ke kamar. Bunda juga butuh istirahat.”


“Tidak, Nak! Bunda juga ingin menjaga Kakakmu. Bunda mungkin semakin tak bisa tidur, jika berada di kamar Bunda.”


“Baiklah, Bun. Tapi, kapan pun Bunda ingin kembali ke kamar, silahkan. Biar Ari yang menjaga Kakak di sini.”


“Iya, Nak. Terima kasih sayang.”


Ari tampak tidak bisa tidur, karena ia melihat sang Kakak tidur dengan gerakan kegelisahan. Berulang kali ia melirik ke arah Kakaknya. Tampak Kakaknya begitu lelap, namun berkali-kali bergerak seakan takut dan sesak. Itulah yang membuat kantuk Ari hilang.


Sampai tepat di tengah malam, Ari mulai mengantuk. Bahkan ponsel yang di tangannya tanpa sadar telah jatuh tepat di sampingnya. Andrea menjerit memanggil Ibunya.


“Ibu ....”


“Ibu ....”


“Ibu ....”


Resi yang tidur lelap karena kelelahan pun turut terperanjat mendengar igauan Andrea. Ia segera bangkit dan berjalan mendekatinya. Resi menggenggam tangan Andrea dan berkata, “ Bunda di sini, Ndre. Kamu jangan takut.”


Ucapan Resi berhasil membuat Andrea tenang. Perlahan kerutan ketakutan di wajah Andrea menghilang, diikuti deru napas yang mulai stabil. Kemudian Resi dan Ari pun menghapus keringat yang ada di tubuh Andrea. Kemudian kembali menyelimuti tubuh Andrea dengan selimut yang lebih tipis. Karena suhu dingin di telapak kaki Andrea telah hilang, berganti suhu normal.


Kantuk berat yang dirasakan Ari membuatnya tertidur seranjang bersama Andrea. Sedangkan Resi tidur berbantalkan lengan dengan tangan menggenggam jemari Andrea. Begitulah kasih sayang dan perjuangan mereka dalam mendampingi Andrea.


Matahari pun datang menyapa. Andrea terbangun karena kilauan cahaya berhasil masuk kamarnya melalui lubang ventilasi. Terbangun dengan tubuh bermandikan keringat. Lengan kanan yang di genggam Resi dan lengan kiri yang bersentuhan dengan kepala Ari. Andrea kaget dengan keadaan yang terlihat. Tampak raut haru di wajah Andrea, sedih karena ia bersama orang- orang yang mencintainya.


Untuk beberapa saat, Andrea membiarkan Resi dan Ari tidur dengan pulas.


“Aku yakin, mereka tak bisa tidur tadi malam. Mungkin aku telah mengigau, hingga mereka tidur dalam keadaan seperti ini!”


Rasa sakit pada lengan yang digunakan Resi sebagai bantal, membuat Resi terbangun. Mata yang begitu berat karena tidur yang terganggu membuat pandangannya buram. Hingga akhirnya mata itu kembali melihat dengan benar yang ia lihat sosok Andrea yang tengah tersenyum.


“Pagi, Bun ....”


“Ndre, kamu sudah enakan?”


“Sepertinya begitu. Tidur nyenyak malam ini, membuat tubuhku lebih segar.”

__ADS_1


“Ya Tuhan ..., mengapa Arya tidur dengan posisi seperti itu?”


Resi kaget melihat gaya tidur Ari. Ia tertidur meringkuk layaknya udang, dengan tangan memegang lengan Andrea.


“Biar saja, Bun. Mungkin ia menahan kantuk semalaman.”


Resi hanya tersenyum. Ia pun bangkit menuju kamar. Seperti biasa ia harus bersiap menyediakan sarapan untuk kedua putra tercintanya.


“Ri ..., sudah saatnya kamu bangun. Ini sudah waktunya makan siang?”


Mendengar ucapan Andrea, membuat Ari bangkit seketika, terduduk dan sibuk meraba ponselnya dengan mata tertutup.


“Ri, apa yang kamu lakukan? Ini bukan kamarmu?”


Kali ini ucapan Andrea berhasil membuka mata Ari. Ia terbelalak melihat dirinya tengah terbaring tepat di sebelah Andrea.


“Kak?”


“Kamu lupa? Tadi malam kamu tidur di sini bersama Bunda untuk menemaniku.”


“Ya Tuhan ..., ponselku mana? Ungkap Ari sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Aku tak tahu, dimana kamu meletakkannya tadi malam?”


Ari terdiam, ia mencoba mengingat. Namun sulitnya mengingat kejadian tadi malam membuatnya terpelongo seperti orang bodoh.


“Hei! Apa kamu tertidur dengan mata terbuka?”


“Hah! Enak saja Kakak. Oh ya, aku tadi malam tidur di sofa ungu.”


Ari pun segera turun dari ranjang Andrea dan berlari menuju sofa. Ia terkejut melihat ponselnya.


Sial !!!


“Sudah jam segini ternyata, aku harus segera pergi ke kampus Kak.”


“Baiklah, hati-hati di jalan.”


Ari pergi meninggalkan Andrea yang masih duduk di atas ranjang. Namun, belum jauh meninggalkan pintu kamar Andrea ia pun kembali lagi.


“Bagaimana keadaan Kakak?” tanyaku sambil cengengesan.


“Sudah segar. Cepat pergi sekarang jika kamu tak ingin terlambat ke kampus.”


“Syukurlah, Kak.”

__ADS_1


Ari pun kembali berlari keluar kamar meninggalkan Andrea. Kali ini, tak kembali lagi.


__ADS_2