
tiga tahun sudah lamanya, aku dan Kak Resi menjalin pertemanan. Kami kian dekat dan saling mengerti. Tak jarang Aku, Ayah dan Kak Resi makan diluar bersama. Banyak yang mengira aku dan Kak Resi menjalin hubungan. Padahal tidak, rasa sayangku seperti aku menyayangi Ibuku bukan kekasih.
Kedekatan kami inilah yang membuat Paman-Pamanku tergerak untuk meminta Ayah segera mengakhiri masa dudanya. Menikah lagi, tak pernah terpikirkan oleh Ayah. Namun, kedekatan kami dengan Kak Resi banyak menghabiskan waktunya. Yah, Kak Resi tak sempat menjalin hubungan dengan pria lain.
“Mas, bagaimana jika Mas mengakhiri masa Duda?”
“Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Aku rasa tak ada yang mampu menggantikan Sri.”
“Saya tahu, Mas. Mba Sri terlalu sempurna untuk digantikan. Hanya saja, Andrea butuh teman Mas. Butuh perhatian.”
“Sudah ada Resi. Setidaknya sampai Resi memutuskan berhenti menemani Andrea.”
“Tapi Mas, Andrea sudah mulai dewasa. Saya tak tahu bagaimana cara mengatakannya.”
“Yah, saat Andrea dewasa. Ia akan mulai bisa hidup tanpa Resi.”
“Bukan begitu Mas. Mengapa tidak Mas menikahi Resi saja? Bukankah Resi sudah menyayangi Andrea layaknya anak sendiri?”
“Aku benar-benar tak habis pikir. Mengapa kamu berkata begitu, Bram. Jika kamu menyukainya, biar aku yang mengatakannya pada Resi.”
“Tidak, tidak. Bukan begitu Mas. Saya sungguh-sungguh ingin menjdodohkan Mas dengan Resi.”
“Bukankah Usia kalian sepantaran? Mas rasa ia lebih cocok dengan kamu saja.”
“Mas, saya rasa Mas belum mendengar hal ini.”
“Hal apa maksudmu?”
“Resi, ia merupakan korban pelecehan. Yah, dia gadis baik yang hidup dengan Nenek dan Kakeknya. Ia belajar sambil mengajar, malam-malam saat ia hendak pulang, beberapa orang preman menjambret tasnya. Ia terjatuh, kemudian ia sadar tengah berada di sebuah hotel. Begitulah yang saya dengar dari Neneknya.”
Mas Jaya terdiam, ia mulai meletakkan lembaran yang di genggamnya. Meletakkan jemari kanannya tepat di hidung. Itu tandanya ia tengah berpikir keras. Serius memikirkan sesuatu. Aku tahu benar kebiasaan Kakak kandungku yang satu ini.
__ADS_1
“Mas, saya rasa ia akan sulit menikah lagi. Maksud saya, mungkin saja ia tak pernah terpikir untuk menikah lagi. Mengapa tidak, Mas saja yang menikahinya.”
“Apakah ia memiliki anak saat ini?”
“Yah, seorang anak lelaki yang bernama Ari. Kini usianya tiga belas tahun. Hal yang membuat saya kaget, Ari mengenal sekali sosok Andrea. Seakan Andrea telah bertemu langsung dengannya. Ia juga begitu mengenal Mas. Mungkin Resi yang menceritakannya pada Ari.”
“Baiklah! Coba aku pikirkan kembali.”
Ayah yang sedari dulu tak pernah mengajakku berbicara serius. Kini ia memanggilku ke dalam ruang kerjanya. Entah mengapa, setiap orang yang memasuki ruang kerja Ayah akan merasakan aura yang berbeda. Aura penuh tekanan, seakan sedang berhadapan bukan dengan Ayahku sendiri.
“Ndre, apakah Ayah mengganggu waktumu, Nak?”
“Tidak, Ayah.”
“Bagaimana dengan Resi, apakah kamu masih membutuhkannya untuk menjadi temanmu?”
“Mengapa Ayah menanyakan hal itu? ada apa dengan Kak resi, Yah?”
“Tidak, Nak! Ayah hanya bertanya. Tak ada masalah apapun yang terjadi.”
Ayahku mulai menghela napas. Begitu berat rasanya yang akan ia ungkapkan.
“Apakah kamu benar-benar mengenal Resi?”
“Maksud Ayah?”
“Apakah Resi ada menceritakan perihal diri dan keluarganya padamu, Nak?”
“Ya, Ayah. Maaf jika aku tak menceritakannya pada Ayah. Kak Resi pernah mengalami kesulitan besar masa mudanya, ia sudah memiliki anak meskipun belum menikah. Ari nama anaknya. Kak Resi mencintai Ari seperti Ibu mencintaiku. Mungkin itu yang membuat Kak Resi mudah mendekatiku hingga aku begitu nyaman di dekatnya.”
“Tak disangka, kamu mengetahui hal itu juga. Nak, Pamanmu Bram meminta Ayah menikahi Resi. Tapi Ayah belum memberikan keputusan, kini kamu mulai dewasa. Ayah ingin meminta pendapat kamu.”
__ADS_1
Andrea terdiam, ia tertunduk dengan raut wajah sedihnya. Melihat hal ini, Ayahnya datang dan menghampirinya.
“Ada apa, Nak? Ayah tak akan memaksa jika kamu tidak setuju. Karena sedari awal tiada niatan Ayah untuk menikah lagi. Hanya Ibumu yang masih mengisi hati Ayah, hingga kini.”
Andrea tersenyum, mengangkat wajahnya dan menatap wajah Ayah. Ia memeluk Ayahnya dan berkata, “ Mau, Yah. Andrea menginginkan ini dari dulu. Hanya saja, Andrea takut mengatakannya. Karena Andrea tahu, Ayah begitu mencintai Ibu. Hingga kini.”
“Mengapa kamu tak pernah menceritakan isi hatimu pada Ayah selama ini, Nak?”
“Maafkan Andrea , Yah!”
“Tidak, Nak! Ayah yang seharusnya meminta maaf padamu. Ayah telah lupa untuk menghabiskan waktu bersamamu. Kenangan bersama Ibumu selama di rumah ini, membuat Ayah tak betah berlama-lama di sini. Selama ada Resi, Ayah mengabaikanmu. Ayah menyerahkanmu padanya sepenuhnya. Itulah yang membuat Ayah melupakan anak hebat Ayah.”
Pelukan terhangat, pelukan yang begitu aku rindukan. Semenjak kepergian Ibu, Ayah menghabiskan banyak waktunya di ruang kerja. Yah, Ayah melakukan itu karena Ayah terus bersedih setiap berada di rumah. Ternyata, goncangan jiwa Ayah tak kalah berat dari yang kukira.
“Resi, ada hal pribadi yang saya ingin tanyakan padamu.”
“Apa itu, Pak?”
“Begini. Benarkah kamu memiliki masa lalu yang buruk. Maaf sebelumnya, saya menanyakan hal ini.”
“Tidak mengapa, Pak. Benar, saya dulu memiliki masa lalu yang buruk. Tapi itu dulu sekali, sekarang saya sudah berdamai.”
“Syukurlah, saya senang mendengarnya. Resi ada hal penting lain yang ingin saya tanyakan juga.”
Resi menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan santai. Tak ada beban sedikit pun. Ia begitu tenang menghadapi itu semua. Seakan ia telah benar-benar berdamai dengan takdirnya.
“Maaf, setelah mengetahui keadaan dirimu kini. Saya ingin menyampaikan niat saya. Saya ingin menikahimu, maaf tetapi bukan untukku. Melainkan untuk Andrea. Andrea menyukaimu dan juga Ari-anakmu. Hingga aku rasa keputusan baik untukku menikahimu. Saya tak butuh pendamping, karena saya masih begitu mencintai Sri- Ibunya Andrea. Mungkin ini terdengar kurang mengenakan, namun keputusan ada di tangan kamu Resi.”
“Apakah saya tidak salah mendengar? Bukankah saya sudah menyampaikan keadaan rahim saya? Saya sudah tak memiliki rahim dan saya tak akan bisa melayani anda layaknya seorang istri.”
“Resi, bukankah saya sudah jelaskan. Saya butuh kamu untuk Ibu bagi Andrea, bukan menjadi istriku. Meskipun demikian, Ari tetap akan aku anggap seperti anakku sendiri. Aku belum begitu tua, namun gairahku sudah pergi bersama kepergian Sri. Itu pula yang membuatku tak ingin menikah lagi. Namun, Andrea sepertinya begitu membutuhkanmu.”
__ADS_1
“Saya rasa, saya harus memikirkannya lagi. Saya juga memiliki Ari dan Nenek di rumah. Saya harus benar-benar memikirkan mereka juga. Layaknya Bapak memikirkan Andrea. Saya izin pamit.”