
Seminggu berlalu, Andrea mulai merasakan kebosanan tingkat tinggi.
Sial!!!
Baru seminggu aku berada di rumah ini.
Mengapa aku merasa begitu bosan?
Arghh!!
Aku rindu masakan Bunda.
Mengusili Ari dan tidur di kamarku.
Aku rindu kalian ....
Bagaimana jika aku pergi jalan-jalan sejenak.
Oh, tidak. Aku tak ingin mereka bertemu denganku.
Bunda dan Ari sering bepergian keluar untuk belanja kebutuhan rumah.
Arrgghh !!!
Bagaimana ini, aku benar-benar bosan !
Oh, ya.
Kring ....
Kring ....
“Halo, Pak Deno. Bisa tolong pergi ke retoran Diamond, belikan saya udang saus tiram, tumis cumi dan sop kepiting, kemudian antarkan ke sini! Oke, saya tunggu.”
Jika aku tak bisa keluar, setidaknya aku bisa makan makanan kesukaanku di sini.
“Masuk, Pak.”
“Saya permisi ya Mas.”
“Mengapa buru-buru, saya memesan semua makanan ini untuk kita makan bersama. Saya keepian, butuh teman.”
“Tapi, Mas ....”
“Sudahlah, ayo masuk. Ini perintah!”
“Baik, Mas.”
Dengan penuh rasa sungkan Pak Deno masuk dan berdiri di dekat pintu.
“Ayo Pak, duduk dengan nyaman. Mari kita makan, saya ambil dulu peralatannya.”
“Eh, aduh Mas. Biar saya saja yang menyediakannya.”
“Janganlah! Pak Deno tamu saat ini.”
“Baiklah, Mas.”
Ada rasa bahagia terpancar di wajah Pak Deno. Ia merasa senang akan sikap baik Andrea.
__ADS_1
Ia begitu mirip dengan tuan Wijaya, saya bangga bisa bekerja bersama orang-orang hebat seperti mereka.
“Mari, Pak. Kita makan,”
Andrea pun makan dengan lahapnya, begitu juga dengan Pak Deno. Turut menikmati makanan yang tersedia.
“Bagaimana Pak, enak? Ini menu kesukaan saya.”
“Iya, Mas. Enak sekali. Segar dan berasa bumbunya.”
“Iya, restoran ini tempat kesukaan Bunda dan Ari juga. Oh, ya. Bagaimana keadaan Bunda dan Ari?”
“saya jarang ke rumah, Mas. Namun, terakhir kali saya lihat Bunda dan Mas Ari sehat dan berkegiatan seperti biasa. Oh, ya Mas. Bunda senang sekali duduk di kursi goyang itu, bahkan Bunda sampai tertidur jika duduk di sana.”
“Syukurlah! Saya senang mendengarnya.”
“Mas, bagaimana keadaan Mas disini. Maksudnya hidup sendiri di sini. Tidak pernah keluar rumah?”
“Bosan, Pak! Biasanya saya pun tidak kemana-mana, hanya ke kantor dan meeting saja baru keluar rumah. Tapi, di rumah ada Bunda dan Ari, itu yang membuat saya jadi merasa bosan di sini.”
“Mas, kangen? Tapi enggak bisa ketemu ya?”
“Ya, Pak. Saat jauh baru terasa akan keberadaan keluarga. Saya masih berkomunikasi dengan mereka, hanya saja tidak seasik kalau bertemu langsung.”
“Ya, Mas. Saya mengerti perasaan Mas. Ngomong-ngomong soal Bosan, mengapa Mas tidak berteman dengan sesama penderita seperti Mas. Mungkin dengan berteman dengan mereka, Mas memiliki cara pandang baru tentang sakit Mas. Solusi atau pemulihannya, begitu. Maaf, Mas. Saya malah terkesan mengajari.”
Seketika wajah Andrea berubah. Wajah murung kebosanan itu berubah menjadi mimik bahagia.
“Tidak, Pak. Justru saya yang berterima kasih. Bapak benar, saya akan coba bergaul dengan mereka. Terim kasih, Pak!”
Andrea pun mulai sibuk dengan ponselnya. Ia mulai mencari-cari group yang berisi carrier HIV. Dan ia pun menemukan group itu di facebook, KODHAM ( kumpulan orang dengan HIV Aids Medan).
Andrea pun mulai asik membaca postingan demi postingan yang ada.
‘ Sialan, karena pemeriksaan laboratorium. Jadi ketahuan, aku HIV positif. Nganggur lagi ..., nganggur lagi .... ( Masnya alya )’
‘Teman-teman, ada yang bisa bantu aku kirimin obat gak? Aku di Malaysia, ngedrop bangey, nih. ( Jaka tarub)’
Kasihan mereka, sebenarnya keadaanku jauh lebih baik dari mereka semua. Sial! Mengapa aku tidak bergabung di group ini dari dulu.
‘HIV itu virus berbahaya yang penularannya tidak sembarang. Kalian yang terkena HIV, rasakan! Ngapain **** bebas dan narkotika? (bro ambyar)’
Apa-apaan anak ini! hey, tak semua yang tertular karena kesalahannya ya. Sialan!
‘Aku terbuang, semenjak keluargaku tahu aku HIV positif, mereka tidak memperdulikanku, bahkan mengusirku dan suamiku menceraikanku serta menyuruhku membawa kedua putriku. Ia malu memiliki istri dan anak yang HIV. Padahal, anakku belum positif terkena HIV. ( Sri asri )’
‘Tuhan itu tidak adil, aku yang terjangkit HIV positif tanpa melakukan kesalahan ini tidak terima. Mereka yang tidak terjangkit dengan angkuhnya menghina diriku. Padahal pekerjaanku mulia. Aku seorang perawat, lihat saja. Siapa yang menghinaku, aku sumpahi akan terkena virus ini juga. (Jhon DP)’
Yah, aku sadar. Aku juga akan turut kesal bila berada di posisinya. Namun, apakah benar Tuhan tidak adil? Entahlah, tapi terkadang aku merasa yang sama. Hidupku tidak pernah bahagia, bahkan menderita sampai saat ini.
Sebaiknya aku mengajak anak ini berteman. Tapi sebelum itu, aku membuat akun palsu dulu. Aku tak ingin yang lain curiga denganku yang berteman dengan group ini.
Hai Bro salam kenal.
Salam kenal juga.
Tadi saya baca status bro. Benar bro perawat?
Ya bro, aku perawat.
__ADS_1
Jadi bagaimana ceritanya, bro sampai tertular?
Kamu carrier juga?
Ya, begitulah bro.
Aku tertular saat hendak mengambil darah seorang penderita. Awalnya aku tak tahu dia penderita. Ia meronta-ronta saat aku hendak mengambil darahnya, tubuhku tertusuk jarum bekas mengambil darahnya. Begitulah, dan itu terjadi sekitar tiga kali. Hingga akhirnya aku dinyatakan positif HIV. Kamu bagaimana bisa tertular?
Aku terjebak bro, dijebak wanita. Aku tak kenal siapa dia. Aku diberikan minuman beralkohol. Selanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi.
Halah! Jangan banyak alasan. Sudah enak menikmati wanita itu, kamu beralasan di jebak pula. Jangan sok suci.
Tidak! Aku benar-benar di jebak. Aku bukan pria yang suka keluyuran seperti dugaanmu.
Pri mana ada yang mau ngaku. Orang kayak kamu itu emang cocok kena HIV. Rasakan sekarang akibatnya.
Hei bro, jaga ucapanmu. Jangan sampai aku memperkarakan ini semua.
Hei, kamu itu bocah nakal yang memakai akun palsu. Aku tidak takut! Silahkan saja perkarakan. Emang kamu punya banyak uang? Jika ya, mengapa kamu tidak sogok saja Tuhan. Agar Tuhan menyembuhkanmu. Sudahlah bro, kematianmu tidak akan lama lagi. Bersiaplah!
Sialan!!
Mengapa aku harus bertemu dengan orang yang seperti ini.
Andrea mencampakkan tubuhnya di atas tempat tidur. Emosinya terpancing, hardikan demi hardikan yang ia dapat membuat kacau pikirannya. Pusing kepala yang ia rasakan, membuatnya menjerit kesakitan. Ia pun menjambak-jambak rambutnya dengan kuat. Bahkan ia pun mengantuk-antukkan kepalanya pada tiang tempat tidur, hingga ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
***
Tepat tengah malam ia pun terbangun. Rasa pusing di kepalanya mulai berkurang, ia kaget melihat keadaan kamarnya yang hancir berantakan. Perlahan ia meraba dahinya, terdapat sedikit dari dari luka akibat benturan yang ia lakukan.
Malam itu ia tidak dapat tidur. Bayangan Resi dan Ari seakan nyata di depan matanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia merasa telah ketahuan membohongi Resi dan Ari. Perlahan umpatan yang ia baca dan dapatkan terngiang-ngiang di telinganya, seakan ia mendengar langsung orang-orang berkumpul mengumpatnya.
Ia dihantui bayangan rasa bersalah, rasa malu dan rasa kecewa, hingga menimbulkan hawatir yang berlebihan. Ia pun meraih apapun yang ada di dekatnya, lalu melemparkan kepada bayangan yang datang. Hingga, seluruh yang ada di sana hancur berantakan. Ia menangis, dan bersembunyi di bawah meja tulis kecil yang ada di ruang kamar itu. ia bersembunyi seakan sedang dicari-cari banyak orang.
Maafkan aku. Ini bukan salahku. Aku dijebak! Sungguh. Tolong biarkan aku, aku ingin hidup.
Bunda ..., Ari ..., maafkan aku. Tolong jangan membenciku. Aku mohon ....
Ayah ..., maafkan aku Yah. Aku menghancurkan nama baik keluarga kita. Maafkan aku ....
Ibu ..., aku lelah Bu. Tolong bawa aku, aku tak sudah tak sanggup. Aku mohon, Bu ....
***
Tok ...
Tok ...
Tok ...
“Mas Andrea, Maaf. Saya mau mengantarkan rantangan untuk Mas.”
Andrea pun terbangun mendengar panggilan Ali. Ia bangun dengan keadaan sedang tertidur di atas ranjang. Tubuhnya merasa begitu berat dan lelah. Matanya bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Ruangan kamarnya tampak rapi dan bersih.
Apakah aku tadi malam hanya bermimpi? Tapi mengapa begitu terasa nyata? Aku benar-benar pusing.
“Mas ..., saya letakkan di atas meja, Ya rantangnya.”
Hah!!!
__ADS_1
Apa yang terjadi pada diriku. Tubuhku benar-benar sulit digerakkan saat ini. sebaiknya aku berbaring kembali.