CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
New Life


__ADS_3

Aku pun berlari masuk menuju kamar, aku begitu penasaran akan isi surat dan hadiah besar apa yang ada didalamnya. Kukunci pintu kamarku, aku tak ingin orang lain tahu. Perlahan aku baca surat itu.


Dear Rere,


Terima kasih, sudah datang mengantarkanku. Aku takut kamu membenciku karena ungkapan perasaan itu. Namun, engkau kini datang meski itu hanya sebagai sahabat.


Maaf, jika selama ini aku banyak membuatmu susah dengan sikapku. Maaf atas segala keusilanku. Maaf, karena aku baru mampu menyatakan perasaan sukaku sebelum keberangkatanku. Maaf,  karena tak mampu jujur akan rasaku sedari awal kita bertemu. Maaf,  jika aku tak bisa memberi kehangatan layaknya pria yang kau dambakan. Maaf,  karena egoku ingin memilikimu.


Re, aku mohon berjanjilah untuk terus memberi kabar padaku. Berjanjilah untuk menceritakan kesusahan dan kesedihanmu. Disini aku akan terus mencintaimu, aku tak mengharapkan rasa cintamu. Biarkan aku terus membantumu, mencintaimu meski tak bisa berada di dekatmu.


Re, teruslah jadi wanita yang kuat. Wanita yang terus tegar dibalik airmatamu yang selalu kamu sembunyikan. Jadilah wanita hebat, yang terus bertahan meski merasa sendirian.


Terima kasih sudah mengajarkanku banyak hal. Terima kasih karena telah menerimaku menjadi sahabat dekatmu. Terima kasih akan tiga tahun yang indah saat kita bersama. Terima kasih akan pelajaran dan perjuangan hidup yang begitu menyadarkanku akan hidupku yang sekarang. Terima kasih untuk segalanya. Teruslah menjadi wanita inspirasiku.


Yang begitu mencitaimu,


Jonathan


Tangisku pecah, aku hanya bisa meraung sejadi-jadinya. Kembali teringat ucapan pak supir, “Mas Jo begitu mencintai Mba Rere. Mas Jo banyak berubah semenjak kenal Mba Rere. Mas Jo lebih dewasa dan mandiri, Mba. Mas Jo bilang, andaikan Mba meminta Mas Jo untuk tidak pergi. Maka Mas Jo akan melakukannya. Enggak pernah saya melihat Mas Jo seserius ini mencintai seseorang. Bahkan Mas Jo dengan gampang menyampakkan wanita jika sudah merasa bosan.”


Kuhempaskan tubuhku di atas kasur. Aku meraung menangisi kejadian ini. meski aku tak benar-benar tahu hal apa yang sedang aku tangisi. Rasa sesak didadaku membuat tubuhku hilang kendali. Rasa kecewa dan sedih menghantui hari-hariku. Tanpa sadar bingkisan Jo tersentuh kakiku. Aku pun bangkit dan meraihnya, masih dalam keadaan terisak.


Jaket, payung dan gaun serta sepatu tinggi dan tas dengan warna kesukaanku. Terdapat pula secarik kartu ucapan di dalamnya “untuk wanitaku.”


Lagi-lagi kehilangan datang, meski tak diinginkan


Biarpun kehilangan datang setelah permisi, namun hati tetap tak pernah sudi


Takdir berjalan dengan langkahnya, datang dan pergi pasti terus menghampiri.

__ADS_1


Hidupku tentang aku


Aku yang terus melangkah, melangkah maju untuk kehidupanku


Terkadang aku tak mampu


Namun, mengakhiri hidup bukanlah jawaban.


Aku hanya bisa terus bertahan, meski takdir tak bersahabat


Pagi ini langit kian mendung, sepertinya kesedihanku turut terasa hingga ke langit. Yah, inilah kenyataannya. Aku kembali lagi sendiri. Hangatnya kehidupan kembali pergi. Tinggalkah aku dengan jiwa yang kering. Kekecewaan yang kerap datang berhasil membuatku takut untuk berharap. Namun hidup tetap terus berjalan. Aku hanya cukup bertahan. 


“Hai ...,” sapa seorang gadis berkacamata dan menggunakan jilbab hitam di kepalanya.


“Hai ...,” jawabku kikuk. Ada rasa malu, malu jika sampai ia sadar akan mataku yang bengkak akibat menangis semalam.


“Kamu, Rere kan?” tanyanya ramah.


“Kenalkan, nama saya Nur Laila,” sambil menyerahkan tangannya,


“Oh, saya Renata,” jawabku malu yang kemudian menyambut tangannya.


“Re, kamu sudah kenalan dengan Laila?” tanya Bu Kia- pemilik kontrakan.


“Sudah, Bu,” jawabku dengan senyum di wajah.


“Laila akan menjadi teman sekamarmu mulai saat ini, semoga kalian akur ya. Ibu permisi dulu,” ucap Bu Kia yang kemudian berlalu pergi.


Kontrakan ku kini berupa rumah besar dengan beberapa kamar di dalamnya. Sudah menjadi perjanjian di awal, setiap kamar akan diisi dua orang. Selama ini hanya kamarku yang masih berisi satu orang. Itulah mengapa Laila diminta untuk sekamar dengan ku.

__ADS_1


“Oh, oke. Kamu mau teh?” tanyaku ramah.


“Thanks, Re. Aku sudah sarapan,” jawabnya ramah.


“Ayo, aku tunjukkan kamarnya!” ajakku. Dia gadis yang manis, lembut dan begitu baik. Meski hanya baru pertama bertemu, setidaknya aku berharap dia gadis yang demikian. Aku hanya ingin kembali memiliki sahabat wanita. Yah, selama ini hanya Ayah, Jo dan Tama yang berhasil membuatku nyaman untuk berteman dekat, berbagi cerita dan keluh kesahku.


“Em ..., anu. Laila, di sini tempat tidur kamu. Lemari dan meja ini boleh kamu isi dengan barang-barang kamu,” jelasku yang hampir lupa siapa namanya.


“Thanks, Re. Semoga kamu bisa berteman dekat denganku, Ya. Karena aku anak perantauan. Jika bukan karena lulus di terima kerja, aku tak akan bisa sampai di sini,” jelasnya yang tengah duduk di atas ranjang.


“Wah, selamat ya. Kamu akan kerja di mana?” tanyaku yang tengah mengaduk-aduk segelas teh yang ada di tanganku.


“Laboratorium Jendral Sudirman, depan tugu apa ya? Aku lupa,” jelasnya.


Uhuk !!!


Aku terbatuk, bukan karena tehnya yang manis hangat. Namun, karena Laila ternyata akan menjadi teman kerjaku juga.


“Re, kamu enggak apa-apa?” tanyanya sambil mendekati dikirku.


“Enggak apa-apa, El. Maaf, aku manggil Ela,” jawabku yang mulai tenang.


“Aku senang, jika kamu memanggilku dengan santai begitu,” jawabnya dengan wajah tersenyum manis.


“Kamu akan jadi teman kerjaku. Aku bekerja di laboratorium yang sama, El.”


“Benarkah? Syukurlah. Aku begitu bahagia mendengarnya,” ucapnya yang kemudian memandang ke langit, lalu menyapukan wajahnya dengan kedua tangannya.


“Oke, Aku harus bersiap-siap untuk bekerja. Kamu silakan merapikan barang-barangmu. Oh ya, ini kunci kamar. Kita masing-masing pegang satu,” jelasku yang kemudian pergi menuju kamar mandi yang berada di dapur.

__ADS_1


Ada rasa bahagia dan nyaman sesaat bersama Ela. Yah, aku harap dia benar-benar bisa menjadi sahabatku kelak. Sebenarnya aku tak serapuh itu, hanya saja, aku terlalu lelah untuk menjalani setiap masalah yang datang. Hingga ada kalanya aku merasa butuh seorang, yah cukup seseorang yang bisa aku percaya untuk mendengar cerita sedihku. 


Meski takdir terus tak bersahabat, aku masih berharap Allah mengirimkan seseorang yang bisa menemaniku. Teman berbagi tawa dan cerita. Yah, hanya itu harapan kecil yang kupunya saat ini. bertahan dalam menjalani hari-hariku.


__ADS_2