
Pagi ini semua mahasiswa baru berkumpul di aula. Setiap jurusan akan berbaris, sehingga dengan mudah akan kukenali siapa saja calon teman sekelasku nanti. Sialnya aku harus berbaris tepat di sebelah Jo, pria berambut coklat yang menjengkelkan. Namun mataku seakan mencari seseorang, berulang kali mata ini menyoroti setiap sudut barisan anak-anak analis. Tetapi tak kudapati sosok hitam manis. Gila, kenapa aku mencarinya ya?
“Hai, mau permen?” tanyanya lembut dengan tangan kanan menepuk pundak kananku.
“Eh, hai. Boleh,” jawabku malu. Ternyata pria yang kucari sebenarnya telah berdiri di belakangku sendiri.
Hari ini begitu melelahkan, seharian berdiri mendengarkan pembukaan dan banyak kata sambutan. Panas, lelah, hingga berujung pusing. Tubuhku keringatan, rasanya pandanganku mulai buram. Tiba-tiba saja mataku terpejam dan terjatuh.
***
Pusing kepalaku belum hilang, namun ada sesuatu yang dingin di keningku. Ternyata kompresan handuk dan air es yang bertengger di sana. Perlahan kubuka mataku yang begitu terasa berat, berupaya duduk untuk memastikan keberadaanku.
“Hati-hati, bagaimana keadaanmu?” tanyanya lembut. Aku belum tau siapa yang berucap tadi, karena mataku belum mampu terbuka lebar.
“Minum dulu tehnya,” dengan lembut ia mendulangiku segelas teh hangat. Tanpa sadar tangan kami saling berpegangan di gelas. Aku pun segera menarik tanganku, lalu berkata “maaf.”
Perlahan kembali kubuka kedua mataku, ternyata itu Tama. Pria berkulit coklat. “Terima kasih ... maaf, merepotkan,” ucapku lembut.
“Tak apa, aku senang melakukannya. Biar ada alasan untukku meninggalkan aula,” jawabnya sambil tersenyum dengan menutupi mulutnya dengan tangannya. Manis, wajahny terlihat begitu manis. Tanpa sadar aku jadi memperhatikan setiap sisi dari wajahnya.
“Eh, apa yang terjadi padaku?” tanyaku malu, setelah mata kami saling bertatapan.
“Kamu terjatuh, aku segera memegangi tubuhmu agar tak jatuh ke lantai. Kemudian kakak tingkat memintaku mengendongmu ke uks, dan disinilah kita sekarang,” jelasnya.
Segera saja kututupi wajahku dengan kedua telapak tanganku. Malu rasanya, tak pernah ada pria lain yang menyentuh sampai menggendongku selain Ayah.
__ADS_1
“Kenapa? Tenang saja. Tubuhmu tidak berat kok, bahkan terlalu ringan,” ucapnya sambil tertawa cengengesan.
“Dasar!” ucapku sambil tertawa pula.
“Kamu istirahat saja dulu, atau mau aku antarkan ke asrama? Nanti aku kabari tentang pembahasan yang ada di aula,” tanyanya lembut. Aku masih terdiam, bingung mau bagaimana. “ Ini nomor ponselku, aku akan segera datang jika kamu kenapa-kenapa. Aku takut kamu enggak nyaman, jika aku temani disini,” jelasnya.
Aku tak mampu berkata-kata, hanya mengambil secarik kertas yang berisi nomor ponselnya. Ada rasa ingin bersamanya lebih lama, bercerita tanpa gangguan Jo. Si pria berambut coklat yang sok ganteng itu.
Beberapa saat kemudian pihak pengurus UKS datang menghampiriku, ia mengatakan tensiku begitu rendah. Hingga ia memintaku untuk mengkonsumsi banyak daging atau vitamin. Yah, kata kakak itu benar, sebagai petugas kesehatan sebaiknya aku menjaga kesehatanku. Agar aku bisa membantu kesehatan banyak orang.
Aku pun keluar UKS, ternyata aku tengah menemui Jo dan Tama yang sedang asik duduk di depan ruang UKS.
“Hai, gimana? Sudah enakan? Aku berasa lihat Romeo dan Juliet tadi,” ledek Jo dengan cengengesannya bak kuda.
“Mari, kami temani ke asrama. Aku takut, kamu masih lemas menaiki tangga sendirian,” tawar Tama dengan lembut.
Setelah mengantarkanku, mereka pun segera berbalik arah menuju asrama seberang. Dari kejauhan, Tama mengisyaratkanku untuk menelponnya. Yah, karena hanya aku yang tau nomornya.
Setelah mandi dan salat magrib, aku pun mengaktifkan ponselku. Banyak pesan masuk dari Ayah dan Bunda, mereka menanyakan keadaanku. Bunda juga mengirimiku video Keira yang mewek ketika Bunda memanggil namaku di hadapan Keira. Sepertinya dia rindu kak Rere, begitulah kata Bunda.
Wah, sehari tanpa mereka ternyata membuatku rindu. Rasa kesal dan kecewa, pertengkaran dan semua kejadian buruk yang terjadi membuatku sadar, hanya keluarga tempatku berpulang.
Kembali teringat raut wajah Tama, aku pun segera mengirim chat kepada Tama. Namun sayang, sepertinya ponselnya sedang tidak aktif. Aku pun memilih untuk merapikan beberapa pakaian yang akan kugunakan besok, tanpa sadar aku tertidur berbantalkan tumpukan baju.
Tok,tok,tok!
__ADS_1
Aku terbangun, sudah pukul sepuluh malam. aku belum salat isya, tapi siapa ya yang mengetuk pintuku. Bukannya teman sekamarku belum ada ya? Perlahan aku bangkit, mengintip dari jendela sebelum membuka pintu.
Rambut coklat yang terlihat, itu Jo. Aku pun membuka pintu secara perlahan.
“Darimana aja? Daritadi digedorin!” ucap Jo dengan sewotnya.
“Kamu sudah tidur ya, maaf ya jika kami malah mengganggu,” sambung Tama sambil menyikut tangan Jo.
“Ini,nasi bungkus isi daging rendang. Kamu belum makan malamkan? Tadi di ruang makan kamu enggak kelihatan, jadinya aku beliin deh. Biar kamu cepat sembuh my Rere,” jelas Jo sambil menyodorkan sebungkus nasi lengkap dengan sepelastik teh manis hangat.
“Thank’s ya,” jawabku malu. Ternyata Jo itu baik dan perduli, namun sikap dan gaya omongannya itu yang membuatku selalu kesal. Apaan coba My Rere? Emang aku siapanya dia?
“Aku tadi uda coba hubungi kamu, Re. Aku mau nanya kamu ingin lauk apa, tapi karena kamu enggak balas. Jadinya kami memilih rendang daging deh. Kami harap kamu suka,” jelas Tama penuh kehangatan.
“Iya, terus heboh gitu saat kamu enggak balas-balas chat nya dia. Dia takut kamu pingsan lagi, mana di kamar sendirian lagi,” jelas Jo jujur dengan mata melirik ke arah Tama. Kemudian Tama melototkan matanya ke arah Jo. Tanpa sadar aku tertawa dibuat tingkah mereka berdua.
“Nah, gitu kenapa Re, cakep kalau lagi ketawa,” ucap Jo, dengan wajah manisnya. Ternyata anak ini bisa juga berwajah manis.
“Aku masuk dulu ya, belum salat juga soalnya,” kataku.
“Wih, calon istri idaman banget ya Tam,” ledek Jo yang kemudian pamit meninggalkan kamar asramaku.
Tak perlu takut melangkah, karena ada seseorang di sana.
Yakin saja pada janji Allah,
__ADS_1
Orang baik akan bertemu dengan orang baik.