
Ada masanya kau hanya mampuelihat dari kejauhan, diam tak berkutik. Langkah terhenti, dengan hati kian berbisik. Memantau dari kejauhan seraya berkata ada masa aku melangkah.
Dering alarm membangunkanku, entah pukul berapa hingga akhirnya aku bisa tertidur. Dengan tubuh yang berselimut mukenah, aku terbaring di atas sajadah. Setidaknya aku merasa lebih tenang sekarang. Dengan tubuh yang berasa sakit bak dipukuli, aku bangkit menuju dapur untuk kembali berwudu’.
“Re, kamu baru bangun?” sapa Bunda.
“Iya, Bun,” jawabku sambil mengucek kedua mataku berulang kali. Karena aku tak ingin Bunda melihat mataku yang bengkak.
“Kamu ada rencana kemana hari ini, Re?” tanya Bunda dengan tangan dipenuhi busa sabun pencuci piring.
“Belum tau, Bun. Kenapa?” tanyaku memberanikan diri menatap ke arah Bunda.
“Enggak apa. Buruan wudu’ keburu habis waktu subuhnya!” pinta Bunda.
Aku pun melanjutkan langkahku menuju kamar mandi, berwudu’ lalu segera kembali memasuk kamar. Hatiku deg\-degan, tubuhku gemetar. Syukurlah Bunda yang terlebih dulu yang menegurku, jika tidak. Aku takut salah tingkah yang justru semakin membuat rusak hubunganku dengan Bunda.
__ADS_1
Setelah beribadah, seperti biasa aku menyapu rumah dan teras hingga halaman. Sedangkan Bunda mencuci piring sisa tadi malam dan memasak. Yah, untuk urusan rumah kami saling berbagi tugas. Bunda kerap berkata, anak gadis harus pintar mengurus rumah. Seperti almarhumah Ibu, Bunda sering memberiku nasehat. Aku mendengarkannya, begitu tulus menerima nasehatnya. Karena yang ia sampaikan, merupakan kebaikan bagiku.
Seharian ini, kuhabiskan waktuku di rumah saja. Dengan tubuh layaknya tak berjiwa, kembali kususun lembar demi lembar berkas yang dibutuhkan universitas. Entahlah, ingin mundur, namun aku telah berjuang untuk bisa lulus. Ingin diteruskan, namun aku takut membebani Ayah. Aku tak ingin Ayah dan Bunda terus bertengkar karenaku.
Malam pun tiba, Ayah baru saja pulang dari kantor. Sedangkan Bunda baru tadi sore balik dari rumah orangtuanya.
“Assalamu alaikum .... “
Suara salam Ayah membuat langkahku tergerak untuk berlari ke arah pintu, namun sayang aku kedahuluan Bunda.
“Dijawab dulu salam Masnya,” rayu Ayah dengan manis.
“Kenapa? Kamu sibuk, cari kerja tambahan untuk kuliah Renata?” tanya Bunda dengan kedua tangan berlipat di dadanya.
__ADS_1
“Mas baru pulang, Dik. Jangan di teror begitu, ah,” pinta Ayah.
Dengan penuh kesabaran Ayah memeluk tubuh Bunda, namun Bunda dengan cepat menolak tubuh Ayah hingga akhirnya Ayah terdorong jatuh. Namun tangan Ayah yang memeluk Bunda membuat Bunda turut ikut tertarik jatuh bersama Ayah.
Aku masih ragu untuk mendekati mereka. Tiba-tiba saja Bunda merintih kesakitan, Ayah dengan sigap membantu Bunda untuk duduk. Saat Bunda mulai bergerak, terlihat darah mengalir diantara kedua kakinya. Aku pun segera keluar kamar dan menghampiri Bunda. Sedangkan Ayah berlari memanggil becak yang sering berkumpul di ujung komplek.
Aku berlari menuju kamarku, mengambil sebuah sarung lalu menutupi tubuh bunda dengan sarung. Yah, sebagian baju Bunda sudah terkena darah. Ayah kembali masuk lalu dengan sigap menggendong Bunda menuju becak. Aku pun membersihkan darah yang mengalir disepanjang jalan menuju pintu keluar. Kuberanikan diri memasuki kamar Bunda, yang dulunya menjadi kamar ibuku. Kubuka lemari Bunda, kuraih beberapa daster dan sarung juga keperluan Bunda lainnya. Kususun rapi dalam sebuah tas. Sebenarnya aku ingin sekali mneyusul kesana, namun aku ragu. Aku ragu emosi Bunda kembali terpancing jika melihat wajahku. Tak ada yang dapat aku lakukan, selain berdoa untuk keselamatan keduanya. Yah, bagaimana pun Bunda sudah merawatku dengan baik belakangan ini.
Setelah menunggu beberapa saat, telpon genggamku berdering. Panggilan dari Ayah, moga bukan berita buruk.
“Re, kamu bisa menyusul kemari dengan membawa baju Bunda?” tanya Ayah.
“Iya, Yah,” jawabku cepat.
Sesaat keraguanku hilang, dengan penuh semangat kuraih tas berisi keperluan Bunda. Mengunci pintu dan berlari ke arah kumpulan tukang becak. Dinginnya angin malam itu tak berasa, karena dahsyatnya kerisauanku. Sepanjang jalan kuhabiskan waktuku untuk terus berdoa kepada Sang Maha, aku tak mau Ayah semakin merasa bersalah jika terjadi apa-apa pada Bunda.
Aku terhenti di sebuah klinik bersalin terdekat, setelah membayar ongkos becak, perlahan keraguanku untuk menemui Bunda kembali muncul. Jarak yang tak begitu jauh, tak membuatku lebih cepat menemui Ayah dan Bunda. Yah, langkah kakiku semakin berat saat jarakku semakin dekat. Hingga akhirnya langkahku terhenti tepat di depan pintu ruangan Bunda. Tak sanggup rasanya aku masuk, aku hanya berdiam diri, mematung dengan tas yang berada dipelukanku.
Waktu seakan berhenti, saat nyalimu telah pergi.
Kau akan tertinggal, tanpa engkau sadar.
Butuh waktu panjang memanggil kembali semangat.
__ADS_1
Terdiam, namun bertahanlah.
Karena ini belum berakhir, namun harus diselesaikan.