
Ela gadis yang baik. Dia pun dengan mudah berbaur dengan teman kerja lainnya.
“El, kamu berani banget ngomong begitu ke kak Joya,” ucapku yang baru selesai mandi.
“Habisnya, sementang aku anak baru. Dia suka-suka menyuruhku. Membantu sih enggak apa, tapi kalau dia tuh ya, emang dasar aja. Mentang-mentang senior,” ucap Ela kesal.
“Tapi kamu keren ih, salut aku lihatnya,” ucapku sambil menyisir rambut di depan cermin.
“Re, kamu tahu enggak? Tempat makan yang enak dan pas di kantong,” ucapnya malu.
“Tahu dong, Rere ... gitu loh. Siap-siap gih, kita jalan-jalan. Aku yang traktir,” ucapku semangat.
Sore itu kami berjalan di sekitaran. Dengan bermodal dengkul, kami mencari tempat berbelanja ataupun tempat makan yang enak dan sesuai harga anak kos-an.
Ternyata Ela memiliki selera yang sama. Hingga ia pun ketagihan makan di tempat yang aku tunjukkan. Kami kerap berjalan bersama, nge-mall bareng meski hanya sekedar cuci mata. Mencari baju di pasar, jalan-jalan ke taman hanya untuk sekedar memenuhi memori ponsel dengan foto aneh-aneh kami.
Tak terasa dua bulan begitu cepat berlalu, kami semakin dekat dan terbuka. Sungguh Allah tak pernah tidur, Ela tak hanya sekedar bisa menjadi teman dekatku. Tapi ia juga begitu mengerti perasaanku, karena kami memiliki latar belakang yang sama. Ia ditinggal Ibunya saat melahirkannya. Hingga tak sedetik pun ia mendapatkan kasih sayang dari Ibunya. Bahkan tidak pernah menatap wajah Ibunya secara langsung. Aku malu, malu karena merasa menjadi anak yang begitu buruk nasibnya. Aku lupa, masih ada mereka yang jauh lebih buruk dari keadaanku. Kupeluk tubuh Ela yang begitu tegar, sepertinya aku harus banyak belajar darinya. Belajar untuk tegas dan tegar dalam menjalani hidup. Belajar untuk bersyukur akan setiap keadaan. Belajar untuk berdamai dengan takdirku.
Ela begitu santai menceritakan keadannya. Tak terlihat kerapuhan di wajah maupun sikapnya. Ia begitu kuat. Terima kasih ya Allah, karena keberadaannya membuatku sadar. Sadar akan betapa memalukannya keluhan-keluhanku selama ini.
**Pelajaran terbaik akan kau dapati dalam kehidupan
Dalam keseharian, dari mereka yang berada di dekatmu
Gunakan akal, cari kebaikan dan sabar menjalani
Sungguh tiada kesulitan yang tak mampu dilewati
Kita hanya terlupa akan rasa syukur
__ADS_1
“Re, kamu ikut team check up enggak?” tanya Ela padaku yang tengah asik membaca novel.
“Eh, ya El. Ikut dong. Lumayan tahu, dibayar cash, dapat makan siang dan marciendise. Tiga hari kan, ya?” tanyaku kembali.
“Aku ingin ikut, tapi ... Kak Joya sengaja enggak pilih aku karena masalah kemarin,” ucapnya kesal.
“Iya sih, Kak Joya yang punya andil pemilihan team,” sambungku.
“Tapi, kalau rezeki enggak kemana. Mana tahu, ada satu yang undur diri, ya kan?” tanyanya dengan penuh keyakinan.
Benar saja, saat itu Kak Sinta mengundurkan diri karena anaknya tengah sakit. Alhasil mau tidak mau Kak Joya harus memilih Ela yang menjadi penggantinya.
“Yes, benarkan Re. Kalau rezeki enggak akan kemana!” ucapnya bangga padaku.
Aku hanya tersenyum. Tak hanya baik dan ramah, ia juga selalu berbaik sangka. Itu merupakan suatu hal yang luar biasa. Aku benar-benar terhanyut akan sikap manisnya sehari-hari. berasa bahagia terus rasanya.
Kembali teringat akan masa bersama Jo dan Tama. Mereka juga berhasil membuatku mampu membuka hati untuk kembali berteman dekat, kembali percaya kepada orang lain. Terkadang rasa rindu menghampiriku, namun sayang jarak yang jauh mempersulitnya.
Besok, kami mulai melakukan medical check up di sebuah perusahaan besar ternama. Event ini kami lakukan tak setiap waktu. Bergantung dari permintaan saja. Hingga kami akan berebut jika event ini diadakan. Aku dan Ela sudah tidak sabar rasanya. Tidak sabar untuk makan enak yang disediakan perusahaan itu. Begitulah kami, para anak kos-an.
Malam ini Ela tengah sibuk menggosok bajunya, ia tak mau terlihat tak menarik meskipun sedang berbaju dinas. Mana tahu ada pria ganteng dan kaya yang tertarik padanya, begitulah ucapnya sambil tersenyum.
***
Pagi ini kami telah berada di sebuah gedung yang mewah. Para pegawainya tampak rapi dan berkelas. Kami masing-masing tengah sibuk mengatur perlengkapan, berdiri di meja masing-masing. Aku bertugas sebagai pendata yang kemudian diarahkan kepada meja Ela, untuk dilakukan pengecekan tensi darah dan tinggi serta berat badannya, lanjut ke meja dua untuk melakukan pengambilan sampel darah, kemudian mereka akan di tempatka di sebuah ruangan untuk menikmati hidangan. Yah, bekerja di sebuah kantor yang berkelas emang beda dengan kami yang berada di sebuah laboratorium. Namun, aku tak menyesali pilihanku untuk bekerja di sini. Karena ini merupakan impianku dan kedua orangtuaku. Bangga rasanya meski hanya mampu mengirimkan sedikit uang setiap bulannya kepada Ayah dan Bunda. Setidaknya gajiku yang kecil ini bisa dinikmati bersama.
Melayani orang kaya emang beda, mereka dengan sabar antri dan duduk rapi. Hingga kami tak kesulitan melakukan protokol tugas. Pekerjaan lebih cepat, hingga kami bisa lebih lama saat jam makan siang.
Kami makan dengan lahapnya, Ela memilih makan di mejaku.
__ADS_1
“Re, lauknya enak betul ya? Maulah kalau ada event lagi,” katanya dengan mulut dipenuhi makanan.
“Makan dulu, nanti ngomongnya!” ucapku sambil tertawa.
Setelah makan dan salat zuhur, kami dikejutkan akan suara ramai. Ternyata seorang Ibu tengah marah-marah, ia keberatan karena telah menunggu lama. Akhirnya Ela menarik tanganku dan mendekati Ibu itu.
“Maaf Bu, sudah menunggu lama. Kami akan periksa Ibu sekarang!” ucapnya santun yang kemudian menyenggol lenganku dengan lengannya meminta bantuan. Aku yang tersadarpun mulai meraih data dan melakukan tahap demi tahap pengecekan. Sedangkan teman kami yang lainnya masih beristirahat di ruangan.
“Nah, gitu dong. Kalau daritadi begini kan, enggak perlu ada kericuhan. Ini silahkan check anak saya terlebih dahulu,” ucapnya angkuh, dengan sebelah mata memandang kami.
Ela dengan sikap santunnya meladeni anak dan Ibu tersebut, sedangkan aku menyediakan alat yang digunakan. Yah, setiap orang akan diberikan jarum dan alat yang baru. Berharap tidak akan menularkan sesuatu jika seorang diantara mereka memiliki penyakit menular.
Ibu dan Anak lelakinya pun selesai di check. Kami pun kembali duduk di meja masing-masing. Saat aku hendak membuang jarum suntik bekas mereka, tanganku tertusuk salah satu jarum itu. Namun, aku mengabaikannya. Sudah menjadi hal yang biasa bagi kami jika tertusuk jarum.
“El, kamu nekad benar sih, tadi!” ucapku sambil menyenggol lengannya.
“Habisnya ..., kalau enggak begitu, tuh Ibu kaya enggak akan diam Re,” ucapnya kesal.
“Iya sih, tapi kamu keren, ih. Berani gitu, kalau aku milih bersembunyi,” ucapku.
“Ngomong-ngomong, itu perusahaan baik banget ya. Enggak hanya karyawannya yang diperiksa, tetapi beberapa anggota keluarga juga boleh dibawa untuk diperiksa kesehatannya. Semoga perusahaan itu berkah dan berjaya, agar karyawannya bisa mengambil rezekinya di sana, aamiin.”
Ela semakin mengagumkan saja, tak hanya berani. Namun, ia juga tak pelit mendoakan kebaikan untuk banyak orang, meskipun tak dikenalnya. Aku harus benar-benar memperbaiki sikapku dan mengambil kebaikan dari dirinya. Terima kasih ya Allah, akan keberadaan sahabat yang baik untukku.
Kekecewaan dan kesedihan yang datang, kerap membuat kita mengeluh
Mengeluh dan terus mengeluh hingga lupa bersyukur
Padahal, dari ribuan kesusahan yang datang
__ADS_1
Telah diberikan jutaan kebaikan yang terlupakan**