
After Storm
Kepergian Ibu menjadi awal perubahan bagi sikapku. Sikap manis nan ceria itu berubah jadi kaku dan pendiam. Menyendiri merupakan hal terbaik yang aku rasakan. Tak berteman, meskipun ramai di sekelilingku.
Ayah sudah dari dulu kala lebih banyak menghabiskan waktu diluar. Hal ini tak bisa kupungkiri lagi. Keberadaan sosok ibu yang senantiasa bersamaku di rumah, begitu membuatku kehilangan. Hilang, sampai aku pun turut hilang akal.
Gila? Bukan. Aku hanya senang bercerita sendiri, karena dahulu Ibulah yang menjadi tempatku bercerita. Ibu dan aku suka bermain di taman. Aku meletakkan kepalaku dipangkuan Ibu dan Ibu membelai lembut rambutku. Kami akan membahas banyak hal, bercerita hingga impian. Yah, hal apa saja yang sedang ingin kami bahas.
Kebiasaanku yang aneh ini menjadi perbincangan keluarga besar. Para Paman dan Bibiku turut menyarankan agar aku dibawa terapi ke rumah sakit. Sedangkan Ayah tak menyetujui hal ini.
“Apakah kalian berpikir anakku gila? Jika ya, lihatlah sekarang! Ia berkelakuan normal, bukan?”
“Tapi, Mas. Ia sudah semakin sering bercerita sendiri?”
“Itu hanya kebiasaannya sedari dulu, saat Ibunya masih ada.”
“Ya, Mas. Tapi Ibunya kini sudah tidak ada. Berbicara sendiri itu suatu keanehan.”
“Aku tak paham dengan cara berpikir kalian. Kalian hanya tak mengerti posisi aku dan Andrea. Kami hanya sedang kehilangan, itu saja.”
“Mas, bukan hanya Mas yang kehilangan Mba Sri. Bahkan kami yang tak serumah pun turut kehilangan!”
“Jika kalian yang tak serumah saja kehilangan, bagaimana dengan kami yang sudah terbiasa bertemu dengannya setiap hari?”
“Mas ..., yakin tak ingin membawa Andrea ke psikiater?”
“Ya, Tuhan ..., harus berapa kali aku katakan. Anakku tidak gila!”
“Baiklah, Mas. Jika itu yang menjadi keputusan Mas. Kami hanya bisa mengikut saja.”
“Tapi kami harap, Mas mau memikirkan kembali.”
“Memikirkan apa lagi? Tindakan kalian seperti ini pun bisa membuatku menjadi gila beneran!”
“Maaf, Mas. Bukan begitu maksud kami.”
“Kami menyayangi Mas dan Andrea, itu saja.”
“Jika kalian menyayangi kami. Tak seharusnya kalian berkata demikian. Apakah kalian malu? Jika para kolegaku tahu keadaan Andrea yang seperti ini?”
__ADS_1
Saat ucapan itu dilontarkan Ayah, seluruh Pamanku hanya terdiam dan terduduk. Saat itu aku hanya mampu melirik dari lubang kunci. Aku terdiam, sulit menggambarkan perasaanku saat itu. Tapi aku sadar, aku tak membenci Paman dan Bibiku yang berkata begitu. Aku tahu, mereka hanya merisaukan keadaanku. Namun, Ayah. Aku begitu bangga pada Ayah. Dia benar-benar mengerti aku. Yah, Aku tak gila. Namun, aku hanya sulit menahan untuk tidak bercerita seharian.
Demi menengahi permintaan Paman dan keadaanku kini. Ayah pun mulai berusaha dengan memanggil seorang kakak mahasiswa untuk jadi teman cerita dan belajarku. Seperti yang biasa Ibu lakukan padaku.
Awalnya hanya sebagai teman belajar. Namun, sikapnya yang lembut dan perhatian berhasil membuatku nyaman. Aku pun meminta Ayah untuk menambah jam belajarku, agar aku bisa punya banyak waktu dengannya. Hal itu berhasil, kakak itu dengan mudah menyetujuinya.
Meski usia kami terpaut sepuluh tahun, namun sikapnya yang dewasa dan keibuan membuatku merasa nyaman. Aku benar-benar bahagia. Perlahan kebiasaanku berbicara sendiri pun berkurang dan kemudian hilang. Hal ini kerap menjadi perhatian Paman dan Bibiku. Mereka senang, mereka mengakui kehebatan Ayah, yang tak hanya bijak sebagai Kakak, namun juga sungguh mengenal bagaimana sosok anaknya.
“Ndre, apa cita-citamu?”
“Hm ..., aku tak yakin. Selama ini aku belum pernah memikirkannya.”
“Mengapa? Bukankah itu bahasan untuk anak seusiamu?”
“Entahlah, Kak. Selama Ibu tak ada, aku tak banyak membahas diriku,”
“Baiklah! Bagaimana jika kamu membahasnya bersamaku.”
“Tapi aku tak tahu, harus memulainya darimana?”
“Mulailah dari kesukaanmu.”
“Kesukaan? Bermain dan belajar.”
“Bermain bola, berenang dan gym.”
“Ups ..., itu menyehatkan. Kamu akan memiliki tubuh yang bagus dikala besar nanti. Tapi, apakah kamu memiliki sebuah kesenangan?”
“Kesenangan? Aku kurang begitu mengerti maksud kakak.”
“Bermain bola, berenang dan sebagainya, itu merupakan hobi dan kesenanganmu. Tapi yang aku maksud adalah passion Ndre, kesukaanmu, hal yang benar-benar membuat kamu senang dan bahagia menjalaninya. Apakah kamu paham?”
“Aku bingung menjawabnya, karena aku tak tahu apa yang benar-benar aku sukai kak!”
Andrea membuang jauh pandangannya. Seakan ia terperangkap dalam sosok yang membuatnya merindu. Raut wajah itu berubah menjadi sendu, terdiam cukup lama dalam bayang lamunan. Ia seakan sedang menikmati sebuah film seru yang tak ingin ia lewatkan barang sedetik. Terkadang raut itu berubah menjadi kesedihan, kadang pula berubah senyum manis. Senyum termanis yang belum pernah Resi temui. Resi terdiam memandangi hal itu, tak terpikir bahwa Andrea itu gila. Resi malah berpikir, bahwa itulah kelebihannya. Resi sosok mahasiswa yang cerdas, mungkin itu yang membuat ia mampu membaca karakter Andrea.
“Ndre ..., are you oke?”
“Yah, maaf kak. Aku melamun tadi,”
__ADS_1
“Ndre, bisakah kamu menceritakan padaku apa yang kamu lihat?”
“Hah! Bagaimana kakak tahu?”
“Percayalah, aku mengenalmu Ndre. Jadi percayalah! Ceritakan padaku.”
“Aku seakan sedang melihat layar besar, layar itu berisi kenanganku dan Ibu. Tadi, aku melihat Ibu tengah tersenyum dan menarik tanganku. Kami berlarian, tertawa dan bercerita. Tapi tahukah Kakak, aku tak pernah melihatku Ibuku bersedih dan menangis karena kecewa. Aku harap Ibu bahagia hidup bersamaku dan Ayah.”
“Ndre, Ibumu bahagia. Bahkan sangat bahagia dan bersyukur, memiliki kamu dan Ayahmu. Yah, itu aku ketahui saat membaca catatan Ibumu.”
“Diary Ibu? Bagaimana bisa?”
“Maafkan aku Ndre, tak seharusnya aku membocorkannya. Sebelum aku memutuskan untuk menerima tawaran Ayahmu, aku meminta Ayah dan beberapa pekerja juga Pamanmu untuk menceritakan seperti apa sosok Ibumu. Hal itu aku lakukan agar aku tahu, seberapa baik aku untuk melakukan pekerjaan ini. Salah satu hal yang dilakukan Ayahmu, memberikan diary Ibumu untuk kubaca. Hingga aku mengenal cara pandangnya kepadamu dan juga Ayah. Maafkan aku, jika kamu kesal, karena aku yang lebih dulu membaca buku itu.”
“Tidak Kak, aku begitu yakin dengan Ayah. Jika Ayah melarangku, maka itu yang terbaik buatku. Begitulah pesan Ibu, mempercayai orang yang mencintai kita itu kunci kebahagiaan.”
“Wah ..., kalimat yang indah Ndre. Sayang aku tak bisa bertemu langsung dengan Ibumu. Andai saja aku bisa, maka aku juga akan jatuh hati padanya.”
“Yah, kau tahu Kak. Ibuku seperti bidadari, itulah mengapa ia tak bisa lama tinggal di dunia ini. Jika Ayah belajar bisnis dari Kakek, maka aku belajar kasih sayang dan santun dari Ibu. Kakak tahu? Ibuku cantik, cerdas dan ..., sempurna.”
“Aku tahu Ndre, aku menyadari hal itu saat membaca buku diary Ibumu. Beliau benar-benar wanita yang hebat. Jika wonder women merupakan super hero. Maka Ibumu lebih hebat lagi dari itu.”
“Benar Kak, aku setuju.”
Andrea tersenyum, dengan senyum terindahnya. Kali ini senyuman indah itu kian sering hadir di wajahnya Andrea. Hal ini pula yang membuat sang Ayah berterima kasih akan keberadaan Resi. Yah, perlahan semakin terlihat perubahan baik di sisi Andrea.
“Terima kasih, kamu berhasil mengembalikan sosok anakku yang tangguh dan ceria.”
“Saya rasa bukan saya yang mengembalikan sosok itu, Pak. Tapi diary almarhumah istri Bapak. Saya benar-benar belajar dari sana. Di buku itulah saya mendapatkan pemahaman, cara pandang yang berbeda. Itulah mengapa saya berhasil seperti ini. Saya mencoba memandang Andrea dengan sudut yang sama.”
“Meskipun demikian, semua karena usahamu. Saya bersyukur, kamu mau beralih menjadi asisten pribadi untuk menemani Andrea. Saya tahu, kamu berbakat dalam lamaran yang kamu tuju. Namun, saya jauh lebih butuh kamu untuk Andrea, anak sematawayangku.”
“Ini kesempatan emas, Pak. Melalui ini saya belajar banyak hal. Yah, saya banyak bercerita dengan Andrea, saya lakukan hal itu sesuai dengan kebiasaan Andrea dengan Ibunya dulu. Memang benar, berbicara sendiri merupakan keanehan. Hanya saja, cara pandang Ibunya mengajarkan saya untuk memandang dari sudut lain. Sudut kasih sayang, saya rasa itu poin penting dalam hidup.”
“Yah, kamu benar. Hanya saja kita lebih senang memandang dengan akal untuk menyelesaikan suatu masalah. Bukan dengan hati nurani yang diselimuti kasih sayang.”
“Maaf, sepertinya saya kini jauh lebih mencintai pekerjaan ini daripada kembali menjadi karyawan di perusahaan Bapak.”
Wajah Jaya seketika menjadi tersenyum dengan lebarnya. Ada rasa bahagia, karena kini Resi atas kemauannya sendiri memutuskan untuk menjadi teman belajar Andrea.
__ADS_1
“Baiklah! Itu keputusan terbaik, saya harap demikian. Apapun yang terjadi dan bagaimana perkembangan Andrea, silahkan konsultasikan dengan saya. Saya percayakan Andrea dengan kamu.”
“Baiklah Pak, saya permisi.”