CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
season 2 bab 10


__ADS_3

“Andrea bagaimana keadaan kamu?”


“Lebih baik, Bun. Setelah minum obat dari Dokter kemarin. Tubuhku sudah tidak seperti korban penggebukan. Yah, sakit di seluruh tubuhku ini, seperti jambret yang tertangkap dan dipukuli masa.”


“Ya ampun ..., ada-ada saja perumpaan yang kamu buat Ndre. Tapi Bunda senang, jika kamu sudah bercanda, berarti keadaanmu benar-benar mulai membaik.”


“Ya, begitulah. Tapi bisakah Bunda membawakan makan siangku ke kamar saja. Tubuhku begitu lemas untuk berjalan menuju ruang makan.”


“Baiklah, apapun itu, hanya untuk kamu Nak!”


Resi yang ingin melangkah pergi meninggalkan kamar Andrea terhenti dengan pertanyaan Ari.


“Bagaimana keadaan Kakak, Bun?”


“Lebih baik, Kakakmu sudah bisa mencandai Bunda dengan leluconnya.”


“Benarkah?”


Ari pun berlari masuk menuju kamar Andrea.


“Kak, benarkah keadaanmu kini lebih baik?”


“Oh, tidak. Aku hanya berpura-pura agar Bunda tak risau saja.”


“Benarkah? Tapi setidaknya hari-harimu tak dihabiskan dengan batuk lagi kan saat ini.”


“Begitu ....”


Uhuk !!!


Uhuk !!!


Uhuk !!!


“Kak, kamu enggak apa-apa?”


Ari bergegas menghampiri Andrea, menepuk lembut punggungnya dan memeriksa suhu tubuh Andrea.


Haahahahahah


Andrea tertawa. Puas sekali rasanya ia bisa mengecohkan Adiknya.


Sial !!!


“Ternyata Kakak sedang mencandaiku. Awas saja benar batuk, ya? Aku tak akan menolong kakak!”


“Ayolah ..., maafkan Kakak. Lagian mengapa kamu tak percaya pada ucapan Bunda?”


Andrea menggelitiki tubuh Ari, Ari yang terlihat manyun dan kesal menjadi tertawa dengan tingkah Kakaknya. Andrea suka mengusil dan membuat keadaan riuh. Beda sekali dengan tampilan kala ia berada di kantornya. Ia akan menjadi pria berpenampilan dingin dan sangar. Banyak karyawatinya yang jatuh hati dengan harta dan ketampanannya, namun justru itu yang membuat ia tak mudah jatuh cinta. Baginya, semua wanita sama. Hanya menginginka apa yang ada pada dirinya, bukan dirinya seorang.


Resi pun masuk membawa makanan untuk Andrea.


“Bun, lihatlah Kakak. Ia mengerjaiku, ia berpura-pura batuk parah lalu tertawa saat melihat wajahku risau!”


“Bukankah sudah Bunda katakan, Kakakmu sudah pulih, ia sudah bisa bercanda dengan Bunda. Kenapa kamu tidak memprercayai ucapan Bundamu?” jawab Resi dengan senyum manisnya. Tergambar jelas di wajahnya kebahagiaan akan kedua putra yang ia miliki.


“Bunda kenapa tidak membelaku?”


“Itu bukan hal yang perlu di bela, Nak!”


“Kamu durhaka, tak mempercayai Bunda!” ungkap Andrea sambil tersenyum puas melihat wajah Ari yang cemberut. Begitulah Ari, ia suka kesal dan itu akan begitu kelihatan di wajahnya. Namun, ia tak pernah sakit hati dan benar-benar marah. Itu pula yang membuat Andrea mencintai Adik satu-satunya itu.


“Bun, apakah Kakak makan siang di kamar?”


“Ya, begitulah.”


“Bun, kenapa kita tidak juga makan bersama di sini? Menemani Kakak!”


“Tidak! Kamu makan seperti bocah, bisa-bisa karpetku akan kotor dengan tumpahan makananmu!”

__ADS_1


“Woii ..., itukan dulu waktu aku masih begitu kecil. Kak, andai saja kamu sehat, maka saat ini akan aku pitting kepala Kakak.”


“Alasan! Emang kamu sudah kuat sekarang?”


Ari pun lantas merangkul kepala Andrea dengan lengannya yang berisi. Lalu Andrea berekspresi seakan sesak napas dan tercekik.


Hah !!


Hah !!


Hah !!


“Sudah, sudah. Kalian sudah dewasa untuk melakukan hal itu!”


“Bun ..., tolong!”


“Ari, mengapa kamu beneran melakukannya?”


“Tidak Bun, sorry Kak!”


Hahahhahahah


Andrea tertawa puas, kemudian mengatakan “ Dua, nol ya”


“Bun, aku yakin Kakak benar-benar sembuh. Lihat saja, dia akan senang menjahili kita dan membuatku kesal!”


Mereka semua tertawa. Keberadaan Ari dan Resi sudah cukup membuat kehangatan di sisi Andrea. Sikap mereka yang perduli dan tulus mampu mengobati kekosongan hati Andrea.


Kring ...


“Halo? Ya benar saya Ibu dari Andrea. Oh, baik. Terima kasih!”


“Siapa Bun? Mengapa menyebut nama Kakak?”


“Pihak rumah sakit, mereka mengatakan untuk segera mengambil hasil laboratorium Andrea.”


“Yah, kapan pun itu, Bun!”


“Bun, mengapa aku tidak ikut?”


“Bukannya kamu berkata kamu masih lemas?”


“Bun, aku pergi kesana tidak dengan berjalan kaki kan? Aku juga ingin mendengar langsung penjelasan Dokter.”


“Baiklah, sore nanti kita akan pergi bersama mengambil hasilnya.”


Kring ...


“Ya, Halo. Oh, Dokter. Ya? Oh, baik. Tunggu sebentar!”


Resi mengangkat teleponnya, melirik ke arah Andrea kemudian pergi meninggalkan kamar Andrea.


“Ri, bukankah itu telepon dari Dokterku? Bunda tidak sedang berobat juga kan?”


“Tidak, Bunda tidak sedang melakukan pemeriksaan apapun.”


“Jika bengitu, mengapa Bunda harus keluar kamar untuk menerima telepon itu?”


Andrea penasaran, Ari pun tak mengerti mengapa Bunda harus menerima telepon itu di luar. Ari hanya mengangkat kedua bahunya atas jawaban dari pertanyaan Andrea.


“Ri, pergilah keluar. Dengarka percakapan Bunda dengan Dokterku. Aku curiga ada sesuatu yang Bunda sembunyikan.”


“Baiklah, sebentar.”


Ari pun berjalan mengendap mendekati ke arah Bunda.


Sesuai perkataan Andrea, Bunda tampak lain saat melakukan percakapan dengan Dokter. Bunda menggigit jarinya, itu kebiasaan Bunda jika keadaan kacau dan menakutkan. Sudah begitu lama Bunda tak melakukan kebiasaannya itu. kali ini pasti terjadi sesuatu yang tidak beres, hingga Bunda tampak begitu tegang dengan lengan menggenggam teleponnya.


Perlahan Ari berjalan mendekati Bundanya, kali ini bukan untuk mencuri dengar pembicaraan, namun menenangkan Bundanya yang tampak menahan suara tangisnya. Tubuh Bunda bergetar dengan tangan menutup mulut.

__ADS_1


Bagi Ari, Bundanya wanita terkuat dengan segala keadaan hidup yang sudah Bundanya lalui. Hanya kematian buyutnya saja yang membuat Bunda sempat tertekan begini.


“Bun, ada apa?”


Tangis Resi pecah, ia memeluk Ari dan menangis membasahi kaosnya. Nangis sengsenggukan sampai tak bisa bersuara. Sepertinya Resi takut, tangisnya terdengar oelh Andrea.


“Bun, tenangkan diri Bunda. Ada apa? Mengapa Bunda seperti ini?”


Resi mencoba menahan tangis dan mulai berbicara. Namun sayangnya, tubuh Resi terkulai lemas tak sadarkan diri dalam pelukan Ari. Ari pun lantas membawa sang Bunda untuk di baringkan di atas ranjang Bunda.


Ari berlari mengambil minyak angin dan air hangat, meletakkan sebagian minyak itu pada hidung sang Bunda. Yang kemudian Bundanya kembali sadar.


“Ri, Kakakmu. Dia positif HIV, Nak.”


Ari kaget, tangannya yang sedari tadi memijat lembut dahi sang Bunda pun turut berhanti.


“Bunda tidak salah dengar?”


Resi menggeleng, seakan yakin benar dengan penjelasan Dokter yang ia dengar melalui telepon.


“Hasil laboratoriumnya mengatakan begitu, Nak!”


Resi memutuskan untuk duduk, dengan bantuan Ari, Resi pun duduk bersandarkan bantal.


“Bagaimana ini, apa sebaiknya Andrea tidak kita ajak untuk mengambil hasil laboratoriumnya?”


“Bun, pasti Kak Andrea akan curiga dan memaksa ikut. Tadi saja Kakak memintaku untuk menguping pembicaraan Bunda, karena Bunda tiba-tiba saja keluar saat mendengar telepon dari Dokter.”


“Bagaimana ini? Bunda tak sanggup melihat Andrea kembali telarut dalam kesedihan.”


“Bun, aku yakin. Kak Andrea bisa menerimanya. Kita semua tahu, Kakak bukan orang jahat seperti itu.”


“Tapi, bagaimana bisa Kakakmu tertular virus itu?”


“Setahu Ari penularan itu hanya bisa dilakukan melalui **** dan darah. Kakak tidak melakukan pergaulan bebas, Bun. Bahkan ia tak memiliki seorang wanita pun. Aku yakin benar.”


“Iya, Bunda juga percaya akan hal itu.”


“Melalui darah. Kakak bukan pengguna narkotika, bahkan merokok saja pun tidak. Lantas mengapa Kakak bisa tertular?”


“Ya, Bunda juga bingung. Kakak hanya menghabiskan waktu di rumah dan kantor. Bahkan ia tidak ingin keluar tanpa kamu kan?”


“Ya, Kakak bukan orang yang senang dengan pergaulan diluar. Sama denganku Bun. Bahkan Kakak lebih buruk lagi, tak memiliki seorang teman pun.”


“Bagaimana ini? Bunda tak sanggup melihat Kakakmu terpuruk lagi. Jalan takdirnya tak seindah pandangan banyak orang terhadap penampilannya. Bunda tahu benar tekanan panjang yang telah lama, Kakakmu alami, Nak!”


***


“Ari, tanyakan pada Bunda. Jam berapa kita pergi mengambil hasil laboratoriumnya?”


“Kak, Bunda sedang tidak enak badan. Ternyata tadi telepon dari Dokter Bunda. Bunda sempat konsultasi kemarin dengan Dokter melalui telepon.”


“Jadi benar, tadi itu telepon dari Dokter Bunda? Lantas Bunda sakit apa?”


“Bukan sakit yang berat, Bunda sudah lama tidak mengkonsumsi vitamin yang di sarankan Dokter. Wanita yang sudah tak memiliki rahim sedari muda sebaiknya minum vitamin itu secara teratur. Itu saja!”


“Tapi itu bukan hal sepele yang bisa diabaikan, Ri. Tolong bantu aku, aku ingin menemui Bunda. Bunda akan ribut jika untuk kesehatanku, tapi Bunda selalu lupa jika itu untuk dirinya sendiri.”


Ya, Tuhan ..., apa aku salah dengan menjadikan ini alasan. Aku harap Bunda mengerti kemana jalan pembicaraan ini nantinya.


Dengan bantuan Ari, Andrea pun sampai di kamar Resi. Terlihat Resi telah terbaring dengan mata tertutup dan selimut menutup sebahagian tubuhnya.


“Bun ....”


“Sepertinya Bunda tidur Kak, mungkin Bunda ingin beristirahat. Nanti saja kita bicarakan ke Bunda.”


“Hah, Baiklah!”


Andrea menurut dan kembali dipapah Ari menuju kamarnya. Melihat kedua putranya tengah berbalik, Resi pun membuka mata dan tersenyum kepada Ari yang sempat melirik ke belakang melihat kearahnya.

__ADS_1


__ADS_2