
“Bagaimana Bun, siap untuk makan enak?”
“Bukannya harus pesan dulu, jika ingin makan disana?”
“Ya, jika kita ingin makan di ruang VIP.”
“Kalau aku sih, enggak perduli makan di mana.”
“Ya sudah, kamu makan di parkiran aja ya.”
Andrea merangkul leher Ari, tertawa dan berjalan masuk menuju restoran. Resi sambil tersenyum berjalan mengikuti kedua anaknya.
Hah! Syukurlah, akhirnya Andrea bisa menerima keadaannya. Namun, mengapa jantungku berdetak begitu cepat? Mata ini juga, sudah dua hari ini bergetar dengan sendirinya. Aku harap tak ada kejadian buruk lagi.
“Bun, aku pilihkan menu spesial yang paling enak ya.”
“Ya,” sambil tersenyum.
“Aku juga kak,”
“Kalau untuk kamu, yang paling murah aja. Karena apapun yang diberikan, pasti akan habis kamu makan.”
“Awas aja, kalau aku sudah punya penghasilan sendiri nanti.”
“Mau mengancam Kakak, nih ceritanya? Oke, akan kakak telepon Ayah. Kakak akan minta Ayah untuk mengurangi jajan kamu.”
“Ya, curang dia. Tapi jangan lupa, Kakak masih rahasia padaku.”
“Sialan ..., baiklah kali ini kamu yang menang.”
Meja telah dipenuhi berbagai macam makanan. Semua jenis laut tersedia di sini. Udang saus tiram, sop kepiting segar, tumis cumi-cumi sampai ikan bakar kampung. Lengkap dengan wedang jahe, bermacam jenis jus dan minuman lainnya.
Uhuk !!
Uhuk !!
“Minum dulu, Nak!”
Ari pun mengambil segelas air putih yang ada di hadapannya.
“Pelan-pelan makannya, jangan seperti orang kelaparan.”
__ADS_1
“aku tak perduli, aku tak dengar, makanan ini terlalu enak.”
“Lihatlah, Bun. Begitu, tuh. Kalau sudah kalah malu.”
“Sudah, sudah. Makanlah dengan tenang. Kalian bukan anak kecil lagi.”
Mereka pun kembali melanjutkan makannya. Restoran ini merupakan tempat makan kesukaan Andrea dan Ayahnya. Kini kesibukan Ayahnya menjalani proyek luar negeri membuatnya banyak menghabiskan waktu bersama Resi dan Ari. Termasuk sering membawa keduanya untuk menikmati makanan di sini. Biasanya Andrea akan memesan ruang VIP untuk dia dan keluarganya, ataupun rekan bisnisnya. Ia ingin bebas makan dengan sikap manjanya. Ia tak mau ada seorang pun yang tahu sifat aslinya. Begitulah cara Andrea menjaga image nya di mata banyak orang selain keluarganya.
Tetapi kali ini ada yang berbeda, surutnya berat badan Andrea membuatnya tak dikenali para pelayan restoran. Belum lagi dengan baju kaus dan celana jeans yang ia pakai, berhasil mengelabui sosok dirinya.
Andrea yang kini berusia dua puluh sembilan tahun, selalu tampak muda dan manja jika berada diantara Bunda dan Ari. Beda sekali dengan sikapnya saat di kantor. Ia berubah menjadi direktur Killer dan tegas. Membuat hampir seluruh karyawan yang mengenalnya takut, bahkan untuk sekedar menyapanya.
Begitu juga dengan Ari. Ia akan menunjukkan sisi lemah dan manjanya hanya pada Kakak dan Bundanya. Jika ia berada di kampus, maka ia menjadi sosok pria yang pendiam dan cuek. Dengan wajah yang lumayan tampan dan tubuh yang kekar, ia pun menjadi salah satu idola di kampusnya. Banyak wanita yang penasaran dengan dirinya. Namun, keadaan dan status dirinya yang hanya anak tiri dari pengusaha kaya, membuatnya tak ingin dikenal lebih dalam lagi. Ia tak ingin, mereka mendekatinya hanya karena ada maksud tertentu. Maka dari itu, ia tak memiliki teman yang benar-benar dekat dengannya.
Suatu keadaan yang unik. Setidaknya ini cukup menunjukkan bahwa Ayah Andrea dan juga Resi telah berhasil mendidik keduanya untuk menjadi pria penyayang. Bukan pria angkuh dengan membanggakan harta dari orang tuanya saja.
“Bun, dengar deh lagu yang sedang dimainkan sekarang.”
“Wah, lagu ini ...,”
“Lagu kesukaan, Bunda kan, Kak?”
“Terim kasih, Nak!”
Resi tampak menikmati lagunya. Sampai ia menghentikan makannya. Lagu lama dengan nada slow itu berhasil membuat hati Resi tenang. Ia benar-benar menikmati malam ini.
Alunan nada dan gemerlapnya lampu itu membuat suasana begitu syahdu. Ruangan terbuka yang seakan menyatu dengan alam, berhasil menyempurnakan makan malam itu. Mereka tak hanya asik menikmati makanan yang lezat, namun kebahagiaan kala melihat Bunda yang begitu mereka sayangi tengah asik memanjakan dirinya.
Mereka tahu betul, sikap Bundanya yang selalu menjadi orang nomor satu untuk membela mereka. Menjadi tameng akan hal apapun, termasuk adanya amarah dan tekanan dari Ayah. Yah, Resi selalu dianggap memanjakan kedua putranya. Namun, lagi-lagi Ayahnya tak mampu membantah semua tindakan Resi terhadap kedua putranya. Karena Andrea kini menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya, bahkan saat Ibunya masih hidup.
Akan tetapi, sosok Andrea yang unik tidak benar-benar hilang dari hidupnya. Hanya saja, Andrea mulai bijak menempatkan sikap unik itu. dan hanya Resilah yang benar paham cara menghadapi sosok unik Andrea.
“Bun, adakah tempat lain yang ingin Bunda kunjungi? Katakan saja! Aku tak ingin Bunda terlalu sibuk memikirkan kami, lalu lupa dengan kesenangan diri Bunda sendiri.”
Resi terlihat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Tidak, Nak! Kalian nanti akan tahu, bahwa tempat terbaik dan terindah bagi seorang Ibu adalah berada di tengah anak-anaknya. Bisa melihat tumbuh kembang dan kebahagiaan anaknya.”
“Yah, Bunda. Kalau ditanya itu, selalu begitu jawabannya. Sekali-kali jawabnya yang lain gitu, Bun. Pergi kemana gitu? Luar negeri liburan.”
“Yeee, itu sih kamu yang mau. Dasar !!!”
__ADS_1
Andrea mengetukkan gagang sendok ke kepala Ari. Kemudian mereka beradu mulut saling bercanda.
“Bunda, apakah Bunda menyukai bunga sakura? Atau ingin melihatnya langsung?”
“Darimana kamu tahu hal itu?”
“Bunda tidak pernah bilang, namun Bunda selalu terkesan setiap melihat atau mendengar tentang Jepang dan sakura. Aku tahu, Bunda sedari kecil ingin kesana kan? Jepang merupakan negara impian Bunda?”
Resi tersenyum, wajah haru kebahagiaan menghiasinya. Ia tak menyangka, Andrea terlalu peka untuk hal seperti itu juga. Ia semakin sadar, bahwa sungguh mereka saling menyayangi. Tulus, tanpa ada niatan lain di dalamnya.
“Kakak mau ajak Bunda ke Jepang?”
“Ya, tapi hanya Bunda dan Kakak. Kamu tidak!”
Wajah Ari memurung, kemudian Ari merangkul kedua lengan Kakak dan Bundanya lalu bersikap manja.
“Jika, aku tak ikut. Maka kalian, tidak boleh pergi juga.”
Hahahah
Semua jadi tertawa. Itulah pembahasan terakhir, hingga akhirnya Resi mengajak kedua anaknya untuk pulang.
“Kak, makanannya enak. Jika kesana lagi, ajak aku ya.”
“Bisa tumpur, aku jika bawa kamu.”
“Oh, ya Bun. Aku lupa nanya, virus yang Dokter itu maksud, sejenis apa ya?”
Mendadak aura di dalam mobil menjadi tidak karuan. Sikap tubuh Resi yang sedari tadi bersandar santai, kini memperbaiki sikap duduknya. Begitu pula dengan Ari, ia mendadak kaku layaknya supir yang sedang ditodong pisau.
Mata Resi dan Ari saling pandang melalu cermin. Mereka seakan sedang memberikan isyarat, untuk menjawab pertanyaan Andrea.
“Ya, Tuhan ..., mengapa Kakak tak menanyakannya tadi? Bunda juga, biasanya Bunda yang paling cerewet jika dalam keadaan begini.”
“Maafkan, Bunda Nak. Bukankah kamu akan ada pertemuan selanjutnya dengan Dokter itu?”
“Huh! Bagaimana aku bisa lupa menanyakan nama dan jenis virus itu ya.”
Andrea pun mengabaikan pertanyaannya, ia tengah asik memandang jauh keluar jendela sambil mendengarkan musik yang ia nyalakan.”
Ari dan Resi terlihat sedikit bernapas lega. Mereka tak tahu apa jadinya jika mereka menjawab nama virus itu saat ini, saat di dalam mobil yang sedang melaju kencang di jalan raya.
__ADS_1