CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
My New Boyfriend bab 14


__ADS_3

“Re, temani aku ya entar malam. Bisakan?” suara  Jo dari  ponselku. Aku tak banyak berkata, hanya menjawab oke.


Malam itu hujan gerimis,  jaketku satu-satunya belum kering. Aku pun pergi hanya dengan kaos lengan pendek dan celana lea panjang. Yah, sesusah dan sesederhana itu hidupku hingga payung kecil pun tak punya. Namun semua kujalani dengan senang, setidaknya tak ada suara jeritan yang harus kudengar.


“Re, kenapa enggak pakai jaket? Payung pun enggak? Kamu mau aku merasa bersalah kalau kamu sakit karena hujan-hujanan malam ini?” tanya Jo yang tengah duduk di dalam sedan hitamnya.


“Belum kering  jaketku, Jo,” ucapku cengengesan.


Mobil sedan pun melaju dengan cepat menuju mall. Kami berbelanja beberapa keperluan anak kost. Yah, Jo meminta izin agar ia kost di dekat kampusnya. Itulah alasan ia mau melanjutkan kuliah di luar kota. Sebagai teman dekat yang terbiasa tinggal di asrama, maka akulah yang akan membantunya mencari keperluannya selama kost nanti.


Berkeliling mencari keperluannya, sebenarnya tak perlu waktu lama. Karena jika ini keperluanku, aku cukup mencari mana yang murah saja. Namun sayangnya ini untuk Jo, pria muda nan kaya ini begitu memilih. Bahkan ia sempat-sempatnya searching terlebih dahulu, produk mana yang terbaik kualitasnya. Orang kaya mah bebas, bedalah dengan diriku yang kere ini.

__ADS_1


Setelah tiga jam berkeliling, Jo pun mengajakku makan di sebuah restauran mewah.


“Aku malu Jo, penampilanku memalukan untuk makan di sini,” ujarku lembut, tak berniat menolak traktirannya.


“Oke, kalau begitu kamu ikut aku,” pinta Jo sambil menarik tanganku.


Kami berjalan menuju butik, dengan sigap Jo mengambil tiga buah gaun. Ia memintaku mencobanya di ruang ganti. Terpilihlah sebuah gaun hitam lengan pendek dengan panjang selutut. Kemudian entah kapan ia mengambilnya, telah ada dua sepatu berwarna hitam dan emas yang siapku coba. 


Jadilah aku ratu dalam semenit. Gaun hitam, sepatu tinggi berwarna emas dan tas kecil berwarna hitam kombinasi emas. Awalnya Jo memintaku masuk saloon untuk merias wajah dan rambutku, namun aku menolak. Aku pun berkata “Aku hanya malu dengan bajuku, Jo.”


Kami berdua makan, steak lembut dan gurih itu berhasil memanjakan lidahku. Tingkat kepedeanku pun meningkat. Bak ratu aku bertingkah begitu anggun malam itu. Lantunan lagu dari biola berhasil menyempurnakan suasana.

__ADS_1


“Re, aku ingin kamu tahu. Aku mencintaimu, jauh sebelum Tama,” ucapnya dengan sorot mata tajam mengarah ke mataku.


Aku terdiam, tanganku pun turut berhenti dari memotong steak. Jantungku berdetak kencang, aku terpojok meski bukan sedang di pojokkan. Aku bingung harus bereaksi bagaimana. Aku ragu akan kenyamanan yang Jo berikan selama Tama tak ada. Aku sadar akan banyaknya pengorbanan Jo selama ini, yang aku kira hanya karena ia seorang yang mampu. Aku takut kecewa, aku tak menyangka ia menyatakannya saat ia akan pergi jauh dalam jangka yang lama. Aku merasa malu akan keadaan keluargaku yang tak sederajat dengannya. Aku takut mencoba menerima cintanya yang menjadi sosok berarti bagiku selama ini. aku bingung.


“Re, aku tak akan memaksamu jika kamu tak mencintaiku. Aku hanya ingin kau tau akan perasaanku. Aku siap selalu ada untukmu. Aku mau kamu Re,” ucapnya dengan tangan mulai berani menyentuh punggung tanganku.


Cinta datang tanpa izin, cinta pergi tanpa tanda-tanda


Cinta membuatku bimbang dan hampir gila


Cinta ini berjuta rasanya

__ADS_1


__ADS_2