
Kring ....
Kring ....
“Halo, Dok. Oh, ya. Sukurlah. Baik, akan saya hubungi beliau. Terima kasih atas bantuannya, Dokter.”
Hah !!!
Syukurlah, rumah sudah tersedia. Tinggal aku memutuskan kapan untuk pergi. Tapi sebaiknya aku menyelesaikan tugas-tugaskantorku terlebih dahulu.
“Maaf, apa Pak Andrea memanggil saya.”
“Ya, duduklah. Saya ingin menginfokan, saya akan berada di luar negeri untuk jangka panjang, mungkin enam bulan sampai setahun. Untuk laporan dan pekerjaan kantor, kamu bisa mengirimkan via email. Saya akan berusaha untuk selalu aktif. Saya rasa itu saja yang ingin saya sampaikan. Terima kasih, silahkan kembali ke ruangan anda.”
“Baik, Pak! Saya permisi dulu.”
***
“Malam, Bun. Bunda sudah makan?”
“Belum, Ndre. Bunda masih menunggu Ari. Jam segini ia belum pulang juga.”
“Bunda sudah coba telepon?”
“Ya, setengah jam lalu ia mengatakan sedang jalan pulang.”
“Oh, baiklah. Andrea mandi dulu, ya Bun.”
Resi tengah asik menikmati acara TV. Tak beberapa lama Ari pulang.
“Selamat ulang tahun, Bunda ....”
Ari datang dengan membawa kue dan buket bunga di kedua tangannya.
“Wah, bagusnya. Terima kasih sayang ..., jadi karena ini kamu pulangnya telat.”
“Ya, Ari singgah ke toko kue dan bunga.”
Resi memeluk hangat tubuh Ari. Saling mencium pipi dan tersenyum bahagia.
“Wah, ada apa ini?”
“Bunda ulang tahun, Kak. Kakak enggak tahu?”
“Hah! Iyakah?”
Wajah Andrea tampak pura-pura lupa. Namun, sayang aktingnya tak sebagus itu untuk menutupi kepura-puraannya.
“Halah ..., akting!”
Resi dan Ari pun menertawakan sikap Andrea.
__ADS_1
“Ya enggak mungkin Kakak lupa. Sebentar lagi juga datang hadiahnya.”
Tok !!!
Tok !!!
“Selamat siang, kami hendak mengantarkan pesanan Bapak Andrea.”
“Oh, iya silahkan Pak. Kak ..., sudah datang, nih!”
Resi dan Andrea berjalan menuju ruang tamu.
“Wah ..., terima kasih sayang. Kamu paling mengerti Bunda.”
Pelukan hangat dan begitu erat membuat Andrea bersedih. Yah, mungkin untuk kedepannya ia akan sangat merindukan momen seperti ini di hari-harinya.
Resi berjalan mendekati kursi goyang yang terbuat dari kayu itu. Berwarna putih, sesuai dengan keinginannya. Hal ini pernah Resi ungkapkan saat Andrea berumur 17 tahun, resi ingin di masa tuanya duduk santai di atas kursi goyang seperti yang Andrea berikan kini.
Resi duduk dan menikmati kursi itu. bersandar dengan bantal yang bersarung hitam dengan payet kuning di atasnya. Benar-benar bahagia hati resi saat itu.
Syukurlah jika Bunda senang. Mungkin, aku tak akan bisa selalu menyenangkan Bunda lagi.
“Bun, laper, nih. Makan Yuk!”
“Oh, ya. Maafkan Bunda, Bunda keasikan sendiri.”
Makan malam ini dengan menu kesukaan Andrea, seakan sedang merayakan perpisahan dirinya.
“Oh, ya Bun. Maaf, aku sepertinya tak bisa pergi bersama Bunda ke puncak. Ada urusan bisnis keluar negeri, mungkin aku akan lama berada di sana. Maaf, ya Bun.”
“Sorry, ya Ri. Ke puncaknya batal.”
“It’s Okey, kalau aku bisa menang di pertandingan nanti, mungkin aku akan membawa Bunda nyusul ke tempat Kakak,” ujar Ari dengan senyum penuh keyakinan.
“Wah, makin sombong aja, nih bocah. Baiklah! Kakak tunggu kamu dan Bunda di sana.”
Ada perasaan bersalah dalam hati Andrea, bersalah karena telah membohongi orang yang begitu ia cintai.
Maafkan Andrea Bun, Ari. Tak seharusnya aku membohongi kalian. Aku hanya terlalu lelah bersikap tegar di depan kalian. Bukan aku ingin menjauhkan diriku, hanya saja aku tak ingin terus-terusan membuat kalian susah dan hawatir. Aku ingin, kalian bisa tenang di sini. Menganggap aku sehat dan bahagia dari jauh. Maafkan, aku.
Perlahan, mata Andrea mulai berair. Namun, ia tahan. Ia tak ingin Resi dan Ari mengetahui rencananya.
***
“Bunda, aku pergi dulu. Doakan Aku selalu, ya Bun.”
“Ya sayang. Jangan terlalu lelah bekerja, istirahat dan minum obat. Bunda selalu merindukanmu, Nak!”
Pelukan perpisahan itu berhasil membuat haru Resi dan Ari. Mereka menangis. Seakan ini adalah pelukan terakhir bagi mereka. Ada rasa yang tak biasa dirasakan Resi. Berkali-kali ia menggenggam jemarinya, mengelap keringat yang ada di telapak tangannya.
“Kakak pergi dulu, ya Ri. Jaga Bunda, apapun yang terjadi di sini, hubungi Kakak. Okeh!”
__ADS_1
“Iya, Kak. Kakak juga jangan lupa memberi kami kabar.”
Pelukan Andrea begitu erat kepada Ari. Satu-satunya adik sekaligus teman terbaiknya akan berpisah. Namun ada yang lain kali ini, Andrea menangis begitu terisak. Mungkin karena ia yang tahu, akan berapa lama ia akan meninggalkan keluarga tercintanya.
“Ayo, Pak. Kita berangkat.”
Andrea melambaikan tangannya, begitu juga dengan Ari dan Resi, sampai-sampai Resi berlari keluar melihat ke arah Andrea, hingga mobil itu hilang dari pandangannya.
“Pak, antar saya ke jalan Sucipto nomor 49. Saya ingin, Bapak tidak memberitahukan Bunda dan Ari tentang keberadaan saya. Saya sengaja melakukan ini, demi bisa terapi maksimal. Saya telah membuat bekerja sama dengan Dokter Doni.”
“Baik, Mas. Saya akan lakukan sesuai permintaan, Mas.”
“Terima kasih, Pak. Suatu saat, jika saya memerlukan Bapak. Akan saya hubungi.”
“Iya, Mas. Semoga Mas segera pulih dan bisa berkumpul bersama lagi.”
“Iya, semoga saja.”
Terlihat sebuha rumah kecil yang seukuran dengan kamar tidurnya. Ia menghampiri rumah itu dan duduk di kursi yang tersedia.
“Maaf, ini Mas Andrea? Saya Ali, saya yang dihubungi Dokter Doni kemarin.”
“Oh, ya benar Mas Ali. Saya Andrea.”
“Mari mas, saya antar masuk.”
Andrea mengikuti Ali menuju rumah. Rumah kecil itu tampak rapi dan bersih. Ali pun mengajak Andrea berkeliling rumah, sekaligus menjelaskan keadaan rumah yang akan di huni Andrea itu.
“Baik, Mas. Saya pamit dulu. Jika ada keperluan, silahkan hubungi saya saja. Rumah saya di belakang, kok. Tidak jauh dari sini.”
“Ya Mas Ali. Terima kasih.”
Hah!!!
Akhirnya aku sampai juga. Semoga rumah ini bisa menjadi rumah yang nyaman untukku. Karena kini aku akan sendiri, tanpa Bunda dan Ari.
Huh !!!
Semoga ini yang terbaik.
Terbaik untukku dan mereka juga.
Andrea merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia masih terbayang raut kesedihan pada wajah Resi dan Ari. Hal itu membuat Ari meneteskan air matanya kembali.
Apakah aku mampu hidup tanpa mereka?
Aku tak yakin dengan rencanaku.
Tapi setidaknya, ini semua untuk kebaikan kami semua.
Semoga jarak ini, bisa membuat mereka tenang.
__ADS_1
Tanpa tahu, sakit yang aku rasakan belakangan ini.
Andrea mengalami pusing yang berlebihan, namun ia mencoba menyembunyikan itu darki Resi dan Ari. Ia beralasan memiliki banyak pekerjaan, hingga menghabiskan banyak waktu di kamarnya. Padahal yang terjadi sesungguhnya, ia tengah menahan sakit kepala yang begitu dahsyat.