
Hari ini hari istimewa. Bagaimana tidak, aku dan Ela mendapatkan hari libur yang sama. Segeralah kami mengatur rencana, dimulai maskeran, luluran, makan diluar dan apa aja deh. Yang penting bareng. Sore ini rencananya kami akan nge-mall, cuci mata aja sih.
“Re, pakai baju dengan warna yang sama yuk!” pinta Ela.
“Oke, tapi tolong jangan warna pink, aku paling anti, El.”
“Hijau muda ya!” ucapnya sambil tersenyu.
“Baiklah,”
Setelah Ela tampak rapi, baru aku menyadari.
“Dasar! Pantas kamu meminta warna hijau, kamu mau pakai baju baru ya,” ucapku dengan wajah usil.
Dia hanya tertawa, terlihat rona bahagia di wajahnya. Kini, aku menjadi pribadi yang lebih peka dan jauh memikirkan orang lain. Setidaknya begitulah yang diungkapkan Ela. Aku lebih mudah bersosialisasi. Jika dahulu aku hanya punya Jo dan Tama, kini aku memiliki banyak teman dengan. Bahkan pasienku pun turut menjadi temanku.
“Re, ada yang mencarimu. Segera datang ke klinik, mereka menunggumu!” ujar Kak Joya dari balik ponsel.
“El, sepertinya kita harus ke klinik dulu, deh,” ucapku lemas.
“Oh, oke. Aku tak ingin di terkam Kak Joya, jika kita tidak singgah,” ucap Ela dengan wajah mengejek.
***
“Selamat siang, dengan Mba Renata?” tanya seorang pria gagah dengan jas rapinya.
“Ya, anda siapa?” tanyaku kebingungan. Aku yakin tak pernah melihatnya, apalagi mengenalnya.
“Perkenalkan, saya Alex Wijaya- sekretaris keluarga Dinata. Saya kemari hanya ingin memberikan ini kepada Mba. Ini pesanan tuan muda Andre Dinata. Ini kartu nama saya, jika Mba telah membuka isinya, silahkan hubungi saya. Permisi,” ucapnya sopan yang kmeudian pergi begitu saja meninggalkanku yang masih dalam keadaan kebingungan.
“Re, buka dulu. Entar isinya bom lagi?” tanya Ela penasaran.
Ternyata isinya sebuah kotak dan surat. Aku pun membaca suratnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Dear Renata
Hai Re, maaf jika aku kembali mengganggumu.
Sesungguhnya, jika surat ini sampai padamu. Berarti aku telah pergi dari dunia ini.
Pasti kamu bingung, tentang kehadiranku.
Aku telah berulang kali memintamu agar berteman denganku. Rasanya ingin sekali aku bertemu dan berkenalan denganmu.
Aku yakin kamu pasti semakin bingung saat ini.
Aku MR.AD, pria menjengkelkan yang kamu serang di massanger group KODHAM.
Aku rasa kamu mulai mengerti saat ini.
Jujur, aku hanya ingin berteman. Namun sepertinya kematian lebih dulu membawaku.
Maaf, aku pernah mengikutimu beberapa waktu yang lalu. Itu semua aku lakukan hanya ingin mengetahui siapa dirimu.
Awalnya aku sempat ingin melakukan hal gila. Yah, aku berniat untuk menyebarkan virus ini. namun, ocehan dari komentarmu membuatku sadar akan takdir hidup masing-masing orang. Kekayaan dan ketenaran yang aku dapatkan kini tak pernah kusyukuri.
Hingga virus itu datang, keluargaku menyembunyikanku. Mengatakan bahwa aku sedang kuliah di luar negeri. Padahal mereka hanya takut tertular padaku.
Aku tak berlaku jahat dengan uang yang aku miliki, aku tertular karena menolong temanku yang memiliki virus itu. aku menolongnya dalam kecelakaan motor. Itulah sebab yang paling memungkinkan bagiku tertular.
Aku pria baik-baik, Re. Aku begitu menjaga nama baik keluargaku. Sampai saat aku dibuang ke vila bersama para pembantu, baru aku tahu siapa sebenarnya keluarga yang aku banggakan.
Re, semenjak mengenalmu aku banyak belajar akan arti kehidupan.
Bagiku, kau adalah motivasi hidupku.
Mungkin, kita tak pernah bertemu. Namun, keberadaanmu sangat berarti bagiku.
__ADS_1
Terima kasih Renata.
Teruslah bahagia, teruslah menebarkan kebaikan.
Karena kamu enggak akan pernah tahu, berapa banyak orang yang kembali tegar menjalani hidup, setelah mendengar komentar positifmu.
Aku tak dapat memberikanmu apapun.
Hanya sebuah kalung kecil sebagai ungkapan terima kasihku.
Aku harap kamu mau memakainya.
Satu lagi, aku telah menggerakkan suatu lembaga untuk para carrier HIV. Aku sangat berharap kamu mau bergabung bersama mereka, memberikan semangat dan menjadi bagian dari mereka.
Karena aku ingin, mereka mendapatkan kebaikan dari sikapmu yang telah mampu berdamai dengan takdir kehidupan.
Dari yang begitu mengagumimu
Andrea Dinata
Perlahan air mataku jatuh bercucuran. Aku tak mengenalnya, tapi aku merasakan ketulusan dalm tiap tulisannya. Kuraih kotak hitam itu, kalung bertuliskan Renata terukir indah. Perlahan pikiranku melayang, kini aku tahu siapa dirimu.
Bahagia, itulah mengapa aku kini merasa terus bahagia. Aku tak pernah lagi merasa kesepian dan sendirian. Aku hanya ingin menghargai hidup dan waktu.
Kalian pasti pernah mendengar ketakutan saat seseorang terkena HIV AIDS, kematian yang begitu dekat. Padahal tak hanya mereka para penderita yang akan mendekati kematian. Tapi semua orang sedang berjalan menuju kematiannya. Hanya saja kita tak pernah merisaukannya, karena kita merasa hidup kita masih lama.
Tetapi yang terjadi padaku kini, bukan karena berasa kematian yang kian dekat. Namun, karena aku telah menyadari. Sadar akan hidup yang pasti berakhir, hingga tak seharusnya aku mengakhiri kehidupanku karena masalah yang terjadi. Sadar bahwa bahagia itu diciptakan dengan bersyukur, bukan mengeluh yang hanya akan membuat sulit kehidupan. Sadar bahwa semua manusia bisa hidup dengan selayaknya, tinggal aku menjalani hidupku sesuai takdir peran yang Allah tentukan. Sadar bahwa serendah dan seburuk-buruknya manusia, selalu dapat memberikan manfaat.
Yah, kedatangan virus ini berhasil menyempurnakan takdir hidupku. Takdir yang awalnya kutangisi, karena membuatku terus berada pada penderitaan. Virus ini menjadi hadiah terindah yang dibungkus dengan lapisan ujian.
Jika kalian bertanya, apakah aku takut mati?
Maka aku akan menjawabnya “YA”. Aku takut mati, karena aku telah melewati banyak waktu tanpa kebaikan yang seharusnya bisa aku berikan. Maka aku memohon kepada Allah, agar memberikanku banyak kesempatan untuk berbuat baik kepada siapapun.
__ADS_1
Aku hanya mampu terus mengucapkan terima kasih kepada Allah atas kedatangan virus ini. yah, karena bahagiaku datang bersama datangnya virus ini. virus ini pula yang berhasil membuatku berdamai dengan takdirku.