CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
My New Boyfriend


__ADS_3

Hari ini, merupakan hari terakhir OSPEK. Giliranku untuk maju memperkenalkan diri. Yah, syukurnya semua berjalan lancar. Aku mampu menjawab pertanyaan usil kakak tingkat yang bahkan belum layak dipertanyakan. Yah, kak Mimi menanyaiku tentang beberapa nama latin. Ia memintaku minimal sepulu nama latin tumbuhan dan hewan. Allah menyayangiku, aku mampu menjawab semua pertanyaannya. Hingga akhirnya banyak mata memandangku kagum. Yah, aku tak pernah terpikir mendapatkan simpatik dari banyak orang, namun begitulah kenyataannya. Hari terakhir yang membahagiakan.


Kini perlahan mata iri dan penuh kebencian dari para mahasiswi memudar. Aku bisa bersikap santai jika berada diantara Jo dan Tama. Yah, mungkin mereka mengakui kecerdasanku. Hingga mereka merasa aku layak berada diantara kedua pria tampan itu.


Malam harinya, Jo dan Tama mengajakku untuk makan di simpang kampus. Entah mengapa, kali ini aku begitu semangat. Dengan pakaian seadanya aku keluar menuju tempat janjian bertemu.


Warung seafood menjadi tempat pilihan makan kami malam itu. Jo, yang mentraktir kami.


“Pesan saja apa yang kalian inginkan, biar Jo yang traktir!” ucapnya dengan sikap sombongnya.


Aku pun tanpa malu memesan tiga lauk sekaligus, biar kapok tuh anak sombong. Siapa suruh nawari dengan gaya sombong begitu.


Jo dan Tama hanya geleng-geleng kepala melihatku makan. Yah, tiga lauk itu aku lahap hingga habis. Aku sengaja tak memakan nasi, perbaikan gizi niatku. 

__ADS_1


“Re, jika masih kurang. Kamu boleh pesan lagi, kok. Tenang saja, Papaku baru kirim bulanan,” ucap Jo yang terlihat tak mau kalah.


Dengan mulut penuh makanan, sambil menatap Jo aku mengacungkan jempolku. Terlihat Tama dan Jo tertawa kocak melihat tingkahku.


“Re, kamu kok bete banget lihat, Jo. Emang dia ada salah apa?” tanya Tama lembut.


Aku hanya mengayunkan telapak tanganku, menandakan tak ada masalah. 


“Aku berasa kamu enggak senang denganku, Re!” ucap Jo.


Jo hanya tertawa terbahak-bahak. Ia terlihat bahagia akan jawabanku. Sedangkan Tama turut tersenyum, dengan tangan menutup mulutnya.


“Ada yang aneh?” tanyaku kebingungan sambil menatap wajah mereka bergantian.

__ADS_1


Mereka hanya menggeleng, namun masih dalam keadaan tertawa.


“Maaf, deh. Aku senang aja lihat kamu bete. Sedari awal, aku sudah memperhatikanmu. Berhubung aku tahu hal yang membuat kamu marah, maka semakin aku buat, deh. Niatnya sih, pengen berteman dekat dengan kamu. Tapi kalau itu yang membuatmu enggak nyaman. Aku enggak kan begitu lagi,” jelasnya lembut.


Bisa lembut juga nih anak, ternyata ia sengaja bersikap begitu padaku. Senang sih, mendengar pernyataannya barusan. Tapi mengapa wajah Tama berubah kaku. Seperti tak nyaman.


“Kenapa kamu, Tam?” tanyaku serius.


Ia tak menjawab, hanya menggelengkan kepala lalu membuang jauh pandangan ke arah kampus. Entah apa yang ada di pikirannya. Malam itu kami asik bercerita bertiga. Saling mengenal satu sama lain. Bercerita tentang keluarga dan banyak hal. Tanpa sadar malam telah datang, keasikan ini membuat kami terlarut. Kami baru tersadar jam asrama telah lewat, kami pun saling bertatapan. Bagaimana cara kami memasuki kamar asrama? Bila pengurus tahu, kami akan dihukum.


Mencari seorang sahabat lebih sulit daripada mencari seribu musuh.


Buka hatimu, buka pikiranmu.

__ADS_1


Pilihlah mereka yang layak kau dekati, bukan sekedar asas manfaat.


__ADS_2