CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
season 2 bab 15


__ADS_3

“Pagi, Bun. Andrea berangkat dulu ya”


“Andrea, kamu belum sarapan, Nak!”


“Tenang, Bun. Aku sudah meminta Mba Ani mengisi bekalku dengan buah dan sayuran rebus.”


“Oh, baiklah. Hati-hati, Nak. Jangan lupa minum obatmu, ya!”


“Siap, Bun. Bye ....”


Resi tampak bingung, Andrea berangkat ke kantor begitu pagi. Bahkan Resi baru saja hendak memulai masak sarapan mereka. Resi turut berjalan menuju teras untuk melihat kepergian Andrea. Namun, yang membuat Resi tenang, Andrea tidak pergi sendiri. Ada Pak Deno bersamanya.


Tampak wajah Andrea yang ceria menatap dari jendela. Mengabaikan tangannya kearah Resi sambil tersenyum. Resi pun membalas lambaian tangan Andrea dengan senyuman.


“Bun, Kakak tidak ikut sarapan?”


“Kakakmu sudah berangkat sedari tadi, Nak!”


Uhuk !!!


Uhuk !!!


“Masih jam berapa ini, Bun. Mengapa Kakak begitu cepat berangkat?”


“Entalah, Bunda tidak tahu.”


“Bunda yakin, Kakak pergi ke kantor?”


“Ya, jika dilihat dari gayanya.”


“Kakak pergi sendiri?”


“Tidak, Nak! Kakakmu pergi dengan Pak Deno. Itulah yang membuat Bunda juga tenang.”


“Sepertinya kita terlalu hawatir, Bun. Ini tak baik buat keadaan Kakak.”


“Ya, kamu benar. Kita tak boleh bersikap begini terus.”


“Ya, Bun. Kita tak boleh menganggap Kakak seperti orang yang sedang sakit. Itu akan menjadi beban untuknya.”


***


“Kak, apakah aku boleh masuk?”


“Ya, masuklah!”


“Kakak sedang apa? Mengapa tak kunjung keluar kamar?”


“Siapa? Kakak?”


Andrea pun mendekatkan dirinya dan melingkarkan lengannya pada kepala Ari.


“Sial! Tubuhmu bau keringat. Lepaskan!”


“Hahahaha, kini kamu tahu kan apa yang aku kerjakan di kamar.”


“Ya, baiklah. Bunda menunggu Kakak untuk makan malam. gara-gara Kakak, aku harus mandi lagi, nih!”


Andrea hanya tertawa. Ia merasa senang setiap selesai mengusili adiknya.


***


“Kok pada mandi?”

__ADS_1


“Iya, nih Bun. Kakak sengaja memelukku dan memberikan ketiak baunya di hidungku. Aku jadi harus mandi lagi.”


“Siapa suruh menggangguku yang sedang olahraga!”


“Aku bukan mengganggu! Tapi aku diminta Bunda untuk memanggil Kakak.”


“Ya, Tuhan ..., anakku tidak pernah dewasa. Terus bertengkar jika sedang di meja makan.”


Makan malam itu, dihiasi dengan canda tawa. Cerita dan banyolan-banyolan. Mereka tampak santai, seakan telah menerima keadaan yang terjadi. Kehangatan malam itu berhasil membuat mereka merasa nyaman dan bahagia.


***


“Selamat siang, Dok. Saya Andrea, apakah Dokter masih mengingat saya?”


“Oh, Andrea. Yah, tentu. Bagaimana kabarmu?”


“Lebih baik, Dok. Dokter, bisakah aku meminta waktu Dokter esok hari. Ada beberapa hal yang ingin aku konsultasikan.”


“Ya, tentu. Datanglah ke rumah sakit, saya akan berada di sana hingg pukul sepuluh malam.”


“Bukan begitu, maksud saya, bisakah kita bertemu diluar dan berbicara empat mata saja?”


“Baiklah, sepertinya saya punya waktu di jam makan siang. Sekitar pukul dua belas hingga pukul satu.”


“Baiklah, Dok. Saya akan menghubungi Dokter kembali, terima kasih.”


***


“Selamat siang, untuk berapa orang?”


“Saya ingin menemui saudara Andrea.”


“Oh, Bapak Andrea sudah menunggu anda. Silahkan ikuti saya!”


“Silahkan, duduk Pak! Saya akan membawakan pesanan anda”


Pelayan wanita itu meninggalkan Andrea dan sang Dokter berdua di dalam ruang VIP.


“Terima kasih, Dokter. Atas waktu yang diberikan.”


“Oh, tak apa saudara Andrea. Apa yang bisa saya bantu?”


“Begini, Dok. Saya ingin perawatan khusus. Tapi bukan dirawat. Lebih tepatnya rumah yang tak jauh dari tempat Dokter bertugas. Saya rasa dengan saya mengkarantina diri sendiri, membuat diri saya lebih nyaman dan tenang. Setidaknya sampai saya siap beraktivitas kembali.”


“Bukan ide yang buruk. Tapi tindakan ini bukan karena ingin menghindari atau melakukan sesuatu hal kan?”


“Tidak Dok! Sama sekali tidak. Yah, saya rasa Dokter pernah dengar pernyataan keluarga saya tentang trauma syndrom yang saya miliki. Ternyata berpura-pura bersikap wajar itu berat, jika harus saya lakukan setiap hari. saya menyembunyikan ini agar keluarga saya tidak terus hawatir. Itu saja!”


“Jadi, rencana anda ini tidak diketahui keluarga anda?”


“Ya, saya berencana untuk mengatakan pendidikan diluar negeri. Tapi saya tidak akan menghentikan komunikasi, Dok.”


“Baiklah, untuk hal ini akan segera saya kabarkan. Saya rasa ada tempat yang cocok untuk ide anda ini.”


“Terima kasih, Dok atas bantuannya. Silahkan dinikmati hidangannya. Ini makanan terbaik yang ada di tempat ini.”


“Yah, makanan yang begitu menarik. Mari kita makan!”


Andrea dan sang Dokter makan dengan santai. Sambil sesekali bercerita tentang keseharian.


***


“Bunda, kapan Bunda siap untuk berlibur ke Jepang?”

__ADS_1


“Tidak usah, tidak perlu ke Jepang. Ke puncak saja, bagaimana?”


“Yah, baiklah jika itu mau Bunda. Bagaimana jika weekend ini?”


“Yah, Kak. Aku ada acara kampus minggu ini.”


“Ya, sudah. Kamu tidak usah ikut saja. Kan gampang!”


“Bun ....”


Ari meninggalkan stick PS nya dan berlari ke arah Bunda.


“Mulai deh, ngandelin Bunda untuk ngerayu aku.”


Ucap Andrea santai sambil terbaring di atas sofa, dengan tangan sibuk membuka lembaran majalah.


“Ya, sudah. Minggu depannya lagi. Bagaimana Ndre?”


“Ya ..., jika itu permintaan Bunda. Bagaimana aku bisa menolaknya.”


“Ye ..., terima kasih Bunda.”


“Payah, anak Bunda.”


“Biarin!”


Ari pun kembali meraih stick PS nya dan memulai permainannya kembali. Sedangkan Andrea dan Resi sibuk membaca majalah. Beginilah kebiasaan mereka dikala santai. Menghabiska waktu bersama. Hanya keluar jika memiliki keperluan. Resi berbelanja dan Mba Ani, Ari pergi ke kampus dan Andrea pergi ke kantor dan meeting. Hal itulah yang membuat Resi dan Ari begitu kaget, mengapa Andrea harus terjangkit virus ini. Padahal Andrea tak memiliki waktu bermain diluar rumah.


“Bun, malam ini kita makan di restoran kemarin yuk!”


“Tumben kamu mengajak Bunda kesana. Emangnya hari ini, hari spesial?”


“Enggak juga, Aku hanya ingin saja.”


“Bagaimana Ri, kamu ikut, Nak?”


“Yup, jam berapa?”


“Yah, Bun. Kalau ajak Ari, aku entar rugi lagi!”


“Oh, tenang saja Kak. Aku akan bayar sendiri makananku, bila perlu malam ini aku yang bayarin.”


“Wah, dapat uang darimana kamu, Nak?”


“Ada, deh ....”


“Entar kamu nyuri uangku lagi!”


“Eh, enak aja. Ari menang lomba Bun, tapi karena tidak juara tiga besar, Ari malu mengatakannya.”


“Emang lomba apa sih? Kan kamu gak ada keahlian”


“Yah, dia menyepelekan Ari, Bun.”


“Dia ikut lomba badminton, Ndre.”


“Berapa sih, hadiahnya? Palingan ratusan ribu.”


“Hahahahah, jika hanya segitu. Mana berani aku mentraktir Kakak dan Bunda.”


“Iya ..., iya ..., emang berapa sih?”


“Ada deh. Pokoknya malam ini kita makan enak ya ....”

__ADS_1


Resi tersenyum bangga. Ari anaknya kini mulai bersaing dengan Kakaknya. Selama ini Ari hanya pasrah akan kemampuannya yang dibawah rata-rata. Berkat keberadaan Andrea, Ari kini mencari kelebihan yang ia miliki. Yah, tenaga. Ari rajin berlatih untuk bisa membanggakan Resi dan Andrea.


__ADS_2