CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
My New Boyfriend bab 8


__ADS_3

Pagi ini hingga tiga hari kedepan kami akan melaksanakan OSPEK. Setiap jurusan diminta berkumpul dan berbaris sesuai urutan namanya. Maka berjajarlah aku, Jo dan Tama. Bagaimana tidak, ternyata nama kami sama-sama berawal dari huruf J. Jonathan wijaya, James pratama dan aku, Julia Renata. Lebih herannya lagi, hanya kami bertiga yang memiliki nama berawalan dari huruf  J. Digelarilah kami dengan trije (3J). 


Hal ini pula yang membuat kami bertiga kian dekat. Aktifitas OSPEK yang kebanyakan dilakukan berkelompok membuat kami senantiasa berada di kelompok yang sama. Jo dengan tengilnya, Tama dengan sikap lembutnya dan aku dengan sikap pendiam membuat kami begitu dikenal banyak mahasiswa lainnya.


OSPEKnya seru. Hari pertama merupakan sesi perkenalan. Namun bukan perkenalan diri, karena kami diminta memilih salah satu tumbuhan yang akan digunakan untuk memanggil nama kami. Kemudian ditulislah nama ilmiah dan manfaatnya.


Maklum saja, anak kesehatan akan terbiasa dengan bahasa latin, sebutan nama-nama yang asing di mulut dan telinga masyarakat umum. Jika kalian mengatakan kunyit maka kami menyebutnya curcuma, jika kalian mengatakan jahe maka kami akan menyebutnya zingiberis officinale dan jika kalian mengenal beras maka kami menyebutnya oryza sativa.


Akhirnya selembar kertas karton ini telah terisi. Oryza sativa lengkap dengan guna dan manfaatnya. Yah, karena aku ingin layaknya beras. Bermanfaat bagi banyak orang, menjadi kebutuhan bagi segala kalangan dan semakin tua semakin merunduk.


Selanjutnya pita kertas yang di susun rapi di atas tali pelastik untuk di jadikan bando. Lalu rok hitam berbiku, selanjutnya kaus kaki berwarna hitam kanan dan putih kiri. Entah seperti apa diriku besok jika harus mengenakan ini semua secara lengkap. Syukurnya diriku tinggal di asrama, hingga tak perlu merasa begitu malu dilihatin banyak orang di area kampus. Sedangkan mereka harus menggunakan ini di sepanjang jalan, dilihatin banyak orang, malu dan lucu. Membayangkannya saja membuatku tertawa sendiri.


Tok! Tok! Tok!


Kulirik jam dinding yang berwarna putih itu. Siapa sih, yang datang jam segini. Dengan penuh rasa malas, aku bergerak menuju pintu. Kuintip dari jendela, tak terlihat seorang pun. Aku pun mengira ketukan itu untuk kamar sebelah. Namun lagi-lagi pintu di ketuk, kembali kuintip dan tak terlihat seorang pun. Aku pun berniat, jika pintuku kembali diketuk maka akan kusiram air saat membuka pintu.

__ADS_1


Benar saja, pintu kembali diketuk dan aku segera membuka pintu dan menyiram air tanpa melihat siapa yang ada di hadapanku.


“Apa-apaan, ini?” tanya Bu Lastri pengawas asrama.


“Maaf, Bu. Saya pikir orang iseng, sudah berkali-kali pintu kamar saya di ketuk. Tapi tak ada orang, Bu,” jelasku dengan wajah penuh rasa bersalah.


“Lain kali, hati-hati. Ini selebaran yang harus ditanda tangani orang tua kamu. Paling lama seminggu dari hari ini, sudah harus kembali ke saya!” tegasnya sambil mengelap bajunya yang basah, kemudian berlalu pergi menuju kamar selanjutnya.


Aku pun menutup pintu dan terduduk bersandarkan pintu. Ya Allah, sial bener sih. Ada aja kejadian yang membuatku malu begini. Syukurnya Ibu itu tidak terlihat begitu marah. Namun beberapa saat kemudian pintuku kembali diketuk.


“Maaf, ya Re. Kita enggak berniat ngerjain kamu. Kami ingin menemuimu, tapi dari kejauhan Bu Lastri datang. Karena tak ingin ditangkap karena main ke asrama cewek, kamipun bersembunyi di balik bangku,” jelas Tama dengan wajah merasa bersalah, sambil berulang kali menggaruk rambut belakangnya.


Sedangkan Jo, terlihat menahan tawa sambil menutup mulutnya. Ia tengah asik memandangi wajah kesalku. 


“Kalian mau ngomong apa?” tanyaku bete.

__ADS_1


“Begini, kita kan satu kelompok. Nah, kamu pilih tumbuhan apa? Aku harus laporin kepada kakak tingkat, Nih!”


“Beras, oryza sativa!”


“Oke, oh ya. Ini ada martabak, emang sengaja kami tinggalin untuk kamu,” jawab Tama lembut sambil menyerahkan sepelastik martabak.


“Thanks ....”


“Bye Rere, mmuuahhh,” ucap Jo dengan tangan melambai kemudian berlalu bersama Tama.


Kenapa sih, aku harus mengenal mereka. Kenapa juga aku harus satu kelompok? Ya Allah, sampai kapan aku harus bernasib buruk begini? Semenjak bertemu mereka, aku mendapati banyak ujian begini.


Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Sang Maha.


Begitu pula buruk menurut kita, belum tentu buruk menurut Sang Maha.

__ADS_1


Karena hanya Sang Mahalah yang mengetahui masa depan


__ADS_2