CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
season 2 bab 18


__ADS_3

Semakin hari keadaan Andrea semakin parah. Malam-malamnya dihantui rasa bersalah. Tiada hari tanpa tangisan. Depresinya memuncak kala ia membaca beberapa postingan terakhir.


‘Orang kaya mah enak, siap cicipin tubuh wanita, tetap terjamin aman dari virus HIV. Kan, orang kaya! Mana bayar wanita murahan. (Jo-22)’


‘Kalau orang kaya yang sakit, pakai Dokter pribadi. Obat lancar dan dirahasiakan, lah kita yang miskin ini, terhina dan sulit dapat obat. Diusir dan diabaikan. (Mamang00)’


‘Maunya para pengusaha dan pejabat yang kena virus ini. mau lihat, apa kita jadi sederajat atau tetap kalian yang lebih mulia? ( Cangcing_)’


‘Aku begitu menderita semenjak terkena virus bang**t ini. aku ingin yang tidak terkena turut merasakan penderitaanku. Aku hanya mau mendapatkan keadilan. Karena aku terkena ini bukan karena kejahatan, tapi sengaja di tularkan. Kalian tahu bagaiamana rasanya diisolasi, dijauhkan, dicampakkan, tidak diperdulikan, sulit mendapat pekerjaan. Kalian enggak tahu bagaimana jadi aku. Aku sudah berusaha mati, tapi aku gak tahu apa mau Tuhan. Mengapa tidak ia ambil saja nyawaku. (o_o)’


Andrea seakan terhipnotis. Ia tak mampu menghentikan pandangannya dari layar ponsel. Ia terus saja bergabung di banyak group carrier HIV. Lebih parahnya lagi, group lain berisi hinaan. Saling menjelekkan dan sampai mereka tidak meyakini bahwa mereka penderita virus HIV, mereka tidak saling berbagi info gejala dan solusi. Mereka sibuk menghujat.


Semenjak mengenal group itu, Andrea semakin tertekan. Jantungnya kerap kambuh, mendadak sesak napas dan keringat dingin seluruh tubuh hingga membuat tubuhnya bergetar hebat. Ia sering berhalusinasi akan wajah-wajah kemarahan dari orang-orang yang mengenalnya.


Tubuhnya semakin kurus, matanya cekung dan banyak luka hampir diseluruh tubuhnya. Langkahnya gontai saat melangkah, seakan nyawa sudah sampai di tenggorokan. Rambutnya semakin tipis, rontok karena terlalu sering dijambaknya kala rasa pusing itu hadir.


Tubuh gagahnya hilang, tinggallah Andrea dengan badan kurus. Begitu besar perubahan yang terjadi hingga membuat orang akan sulit mengenalnya.


Andrea berdiri di depan cermin. Meraba bagian pipi dan wajahnya. Ia terdiam, tertegun melihat perubahan gila yang terjadi.


Andrea...


Apakah benar kamu Andrea?


Kamu lebih mirip penjahat kelamin.


Hahahahah...


Yah, kamu bukan Andrea


Kamu bukan dia.


Kamu hanya makhluk dari pelanet lain.


Ya, benar kan? Katakan saja!


Arghhh!!!


Prang !!!


Kaca cermin pecah akibat pukulan yang dilayangkan Andrea.


Apa yang kamu lakukan Ndre?

__ADS_1


Ini bukan salahmu.


Kamu tak pernah melakukan kesalahan.


Kamu sudah melakukan yang terbaik.


Tetapi sungguh malang nasibmu, Ndre.


Tenang Ndre.


Kamu tidak perlu bersedih.


Seketika Andrea tersenyum di balik pecahan kaca cermin.


Kamu hanya perlu menularkan ini pada mereka.


Agar mereka tahu perasaanmu.


Yah, itu solusi terbaik saat ini.


Kamu cukup menularkannya.


Perlahan Andrea mengarahkan wajahnya pada bagian cermin yang belum pecah.


Lihatlah! Dengan wajah ini tidak akan ada yang mengenalimu.


Tidak sulit menularkannya.


Andrea kembali teringat akan salah satu penderita yang mengaku perawat. Ia tertular hanya karena tertusuk jarum penderita HIV. Ia juga teringat akan postingan carrier lainnya yang mengaku tertular oleh jarum saat menindik.


Yah, itu ide bagus. Cukup mudah melakukannya.


Aku hanya perlu menusukkan jarum itu ke tubuhku, kemudian aku tancapkan pada kursi.


Agar mereka yang duduk di sana tertusuk dan tertular.


Yah, benar Ndre. Kamu pintar, sudah dari dulu sekali.


Kali ini kamu tinggal buktikan saja kinerja terbaikmu!


Namun, wajah Andrea kembali muram.


Yah, bioskop. Tempat yang gelap dan penuh kursi. Tidak akan sulit bagiku untuk melakukannya. Cukup beberapa jarum saja.

__ADS_1


Yah, Andrea ..., kamu begitu luar biasa.


Andrea tertawa bahagia, tawa bahagia yang tak pernah ia perlihatkan selama ini.


Andrea sedang mempersiapkan rencananya. Akal warasnya berganti kegilaan akan balas dendam. Rasa tak terima akan kedatangan virus HIV ini, penularan yang tidak dia sengaja lakukan, melainkan sebuah jebakan. Membuatnya ingin orang lain merasakan penderitaannya dan penderitaan dari carrier HIV Lainnya.


Andrea pun mulai membalas postingan carrier lain dengan komentar negatif. Merendahkan, menyalahkan dan memperburuk keadaan. Ada rasa bangga, tiap kali ia melakukan itu. semakin sering ia melakukannya, maka semakin hilanglah tekanan yang ia terima. Ia dengan santai dan begitu fasih dalam melontarkan kata-kata tajam. Yang bertujuan untuk membuat seseorang itu benar-benar semakin menderita dengan keadaannya.


Meskipun banyak yang memintanya untuk tidak berkomentar, ataupun tidak berkata demikian, namun hal itu tidak menghentikan tindakannya. Ia merasa sembuh dan jauh lebih normal. Bayang-bayang penuh dosa, tak lagi menghampiri malam-malamnya. Ia dengan penuh keyakinan, bahwa ini cara terbaik untuk penyembuhannya.


Sampai dimana massanger seorang wanita menghampirinya.


‘Hai, Bro. Apasih maksudmu berkomentar negatif begitu?’


Andrea tersenyum. Ia senang, karena ia merasa telah berhasil membuat orang lain tertekan seperti dirinya. Tidak seperti yang lainnya, hanya berani membalas melalui komentar. Wanita ini beda, ia berani menantangku secara langsung. Gairah tertantang yang terjadi pada Andrea membuatnya semakin merasa bahagia. bahkan begitu bahagia, layaknya pria tengah jatuh cinta.


‘Masalah, buatmu? Siapa sih, lo?’


‘Bukan siapa-siapa. Tapi aku enggak suka dengan komen lo yang bodoh itu!’


‘Ya udah. Enggak usah baca, bereskan?’


‘Mendingan enggak usah komen, deh. Dasar! Orang enggak waras.’


‘Bye ..., cewek waras!’


Andrea semakin bahagia. ia berulang kali membaca percakapannya dengan wanita itu.


Renata, nama yang bagus. Berani benar dia menyamperin aku dengan akun asli. Hah! Kita lihat saja siapa yang benar diantara kita Renata.


Andrea tetap saja melakukan komentar nakalnya. Ia terus melakukannya, meski kini Renata turut membalas komentar nakalnya dengan komentar baik penuh semangat. Bahkan, Renata berani menandai nama akun Andrea ( MR.AD ) secara langsung pada komennya.


Saling membalas komen pada postingan group membuat yang lain berkumpul mendukung Renata. Namun tidak dengan Andrea, hanya satu dua orang yang membela komentarnya. Itu pun sekejap dan menghilang.


Andrea semakin berang. Ia merasa dikalahkan, ia pun kembali meluncurkan komentar nakalnya, bahkan hampir di semua postingan. Ia benar-benar mendapatkan kepuasan dari tindakannya ini.


Andrea penasaran akan sosok Renata. Ia membongkar habis profil Renata. Tempat tinggal, sekolah dan tempat bekerjanya. Sampai-sampai ia membuka seluruh foto Renata yang tersimpan di facebook. Ia begitu penasaran. Belum pernah ia merasakan hal ini. yah, mungkin karena dulunya ia begitu tertutup dan tak perduli akan apa yang terjadi diluaran sana.


Wah, ternyata kamu pekerja medis ya. Kerja di bagian laboratorium? Keren ....


Ibunya sudah meninggal dan memiliki Ibu tiri? Sama seperti diriku ternyata.


Waw, ternyata kamu anak yang pintar, lulus dengan beasiswa dan tamat dengan status cumlaude. Wah, ternyata ada juga orang yang memiliki kepintaran sepertiku.

__ADS_1


Tapi, mengapa terlalu repot mengurusi hidupku sih? Kamu penderita juga atau sekedar iba dengan kami?


Lihat saja, aku pastikan akan menemukanmu Renata.


__ADS_2