CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
season 2 bab 19


__ADS_3

Postingan facebook.


‘Kenapa sih, harus aku yang terkena virus HIV. Padahal aku tidak melakukan hal yang aneh. Aku hanya mengenal satu pria dan dia suamiku. Aku tak pernah melakukan **** bebas dan penggunaan narkotika. Tetapi, mengapa harus aku yang terkena? ( Nini )’


Komentar


‘Apa mungkin suami kamu yang positif HIV. Maaf, ya jika pertanyaanku begini. (ani-ani)’


‘Mungkin, Kak. Suamiku kerjanya diluar kota, pulangnya seminggu dalam sebulan (Nini)’


‘Dosa lo banyak. Jadi lo pantas mendapatkan ini semua –emotikon menjulurkan lidah. (MR.AD)’


‘( MR.AD ) kalau bicara hati-hati. Kak ( Nini ) yang sabar ya. Ini mungkin sebagian dari takdir Tuhan. Aku rasa, Kakak diberi ujian ini karena Kakak mampu. Banyak kok Kak, yang tertular bukan karena kemauannya seperti Kakak. Sekarang Kakak fokus pada terapi pennyembuhan aja. Minum ARV yang teratur. Jangan banyak pikiran ya Kak, itu jauh lebih cepat membunuh daripada virus HIV itu sendiri. Semangat Kak, semoga segalanya bisa di atasi. ( Renata )’


Andrea tertegun mendengar ungkapan Renata, ia pernah mendengar kalimat ini. Namun, ia terlihat mencoba mengingatnya.


Postingan facebook lainnya.


‘Aku lagi butuh obat, tolong info dong. Siapa yang bisa memberikan aku ARV. Aku benar-benar tidak bisa pergi, sedangkan aku tinggal sendiri. ( Yosep )’


Komentar

__ADS_1


‘Agan dimana? ( Boni tampan )’


‘Mati aja lo, udah. Merepotkan aja. ( MR.AD )’


‘( MR.AD ) hei bro, kalau kamu tidak bisa menolong, mending diam saja. Mati itu takdir Tuhan. Bukan karena penyakit. Asal lo tau, banyak Aki dan Nini yang masih hidup dan sehat padahal penyakitnya uda komplikasi. Lo tau kenapa? Karena mereka yakin adanya Tuhan. Enggak seperti lo, setan berbentuk menusia! ( Renata )’


Haahahah


Percaya pada Tuhan? Tuhan yang mana? Gadis kecil saja mau mengajariku tentang kehidupan!


Postingan Facebook


‘Teman-teman, badanku memiliki banyak luka dan bintit. Apakah ini gejala HIV juga? Bantu jawab dong ....(Gogon)’


Komentar


‘Fotonya tanpa baju sekalian ya ..., ( MR.AD )’


‘(MR.AD ) hei bro, lo penderita juga kan. Cobalah menghargai orang lain, biar lo layak untuk dihargai. Lo tau enggak gimana perasaan mereka yang takut. Atau lo senang dengan adanya virus HIV di tubuh lo. Buka mata dan hati Lo, kita semua yang terjangkit punya hak buat hidup. Punya hak untuk bahagia, punya hak untuk mendapatkan penanganan. Kita tunjukkan pada mereka semua, kalau kita ini tidak sehina itu. Sudah cukup dengan kesulitan dari keadaan yang kita hadapi. Seharusnya kita saling bekerja sama untuk memberikan semangat hidup, bukan saling melecehkan. Jika bukan kita sesama penderita, siapa lagi yang akan memeluk kita dengan ikhlas atas apa yang ada pada diri kita. ( Renata )’


Komentar demi komentar yang dilontarkan Andrea dibalas dengan kata-kata bijak. Perlahan hal ini membuat Andrea merenung. Ia mulai mengurangi komentar nakalnya. Ia hanya asik menikmati tiap postingan dan komentar yang hadir. Ia seakan terpesona pada Renata.

__ADS_1


Postingan facebook


‘Aku kesal, semua keluargaku menelantarkan aku. Mereka mengira aku terjangkit HIV karena kenakalanku. Sialan !!! aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan. Bagaimanapun caranya, aku akan menularkan virus ini pada mereka semua. (Br port )’


Komentar


‘Wah, jangan-jangan lo dicampakkan bukan karena HIV. Tapi karena tingkah dan niat busuk lo, lagi. (Widya )’


‘Good! Aku setuju. Biar mereka tahu rasa akan penderitaan kita, bro. ( MR.AD )’


‘Hei ( MR.AD ) jangan jadi setan yang nyata deh. Emang lo mau, Ibu dan Ayah lo tertular karena sengaja ditularkan? Lo mau Adik dan Kakak lo tertular dengan cara begini juga? Lo sadar enggak? Sakit, kalau harus tertular cara begini. Kita begitu menjaga diri, tapi harus menjadi korban kesengajaan begini. Aku yakin, banyak yang tertular tanpa kemauannya, tapi tolong jangan menyiksa diri sendiri dengan emosi dan kebencian. Itu enggak akan membuat hodup kita menjadi lebih baik. Seharusnya kita melihat dari sudut pandang lain, akan apa rencana Tuhan memposisikan kita seperti ini. Aku yakin, tidak ada jalan yang benar-benar buruk, pasti ada kebaikan dan pelajaran dari sana. Aku juga yakin, kalau kita berbaik sangka, maka Tuhan akan memberikan orang-orang baik dihidup kita. Kita hanya terlalu sibuk dengan sangka buruk dan penindasan diri sendiri, kita lupa membuka mata. Masih banyak keadaan diluar sana yang lebih buruk dari kita. Bahkan, mereka jauh lebih menderita meskipun tidak menderita HIV seperti kita disini. Kita hanya lupa bersyukur, itu saja. Mulailah sibuk mencari solusi, cari orang baru yang mau menerima dirimu. Orang yang menerima kita dengan tulus dan kasih sayang. ( Renata )’


Seketika tangan Andrea bergetar membaca kata demi kata yang dituliskan Renata. Ia tergugah, air matanya mengalir. Tangisnya pecah. Ia membiarkan tubuhnya jatuh meringkuk di atas ranjangnya. Ia mulai terbayang wajah Ayah, Ibu, Bunda, Ari dan semua orang yang mengenalnya. Wajah bahagia dengan senyum merekah, binar wajah yang indah, tawa kala bercanda bersama.


Kata-kata semangat penuh kasih sayang yang pernah ia dapatkan kini terngiang di telinganya. Dengan penuh air mata ia tersenyum bahagia. kerinduannya kembali hadir. Rasa hangatnya kebersamaan dengan mereka yang tersayang menyelimutinya saat itu.


Satu persatu bayangan yang berisi kebahagiaan dihidupnya kembali hadir. Bak layar film, bayangan itu terpampang nyata tepat dimatanya. Suara tawa dan candaan itu kian jelas seakan nyata. Ia terus melihat ke arah atap, tersenyum menikmati semua bayangan kebahagiaan itu. dengan air mata yang terus mengalir tiada henti.


Seakan terbebas dari penjara yang penuh tekanan dan penindasan, ia merasa kembali bahagia. Ia menemukan sinar terang di tengah kegelapan hari-harinya. Yah, ia berasa tertampar sangat keras oleh ucapan Renata. Namun ia bersyukur, karena pintu kegelapannya telah terbuka.


Semenjak itu, ia mulai kembali menyibukkan diri dengan beribadah. Dibantu Ali, ia menunaikan ibadah dan mengaji ke musala. Ia berkumpul bersama orang-orang kampung untuk ikut kegiatan di sana. Bergotong royong dan belajar bercocok tanam. Yah, dia mengahabiskan tenaganya untuk membantu masyarakat setempat, ia lakukan semua ini tanpa pamrih.

__ADS_1


Masyarakat pun senang. Andrea pun semakin dikenal banyak orang. Ia terlalu aktif berkegiatan, hingga terlupa membuka kembali akun facebooknya. Ia tak pernah lagi merasakan tertekan dan ketakutan. hidupnya kian baik, malah lebih baik dari masa sebelum virus itu bertamu pada takdirnya.


Andrea yang mendapati sisi positif setelah mengenal Renata mencoba untuk mengenal Renata lebih dekat lagi. Menggunakan akun asli miliknya, ia mencoba menghubungi Renata melalui massanger.


__ADS_2