
Pernikahan bersyarat. Entah bagaimana aku menjelaskan. Pernikahan yang sah, namun memiliki kontrak perjanjian. Isi perjanjian itu bukanlah mengenai pembagian harta atau lainnya. Hanya keterangan untuk tidak saling menuntut, menuntut sentuhan batin. Baik Kak Resi dan Ayah, sama sekali tak menginginkan itu. Hingga kontrak pun dengan mudah di tanda tangani oleh kedua pihak.
Pernikahan sederhana pun dilaksanakan. Tanpa orang lain, hanya Keluarga terdekat saja. Ayah tak ingin pernikahannya ini akan memancing keributan. Karena dari hati terdalam Ayah, ia tengah nyaman dengan kesendiriannya meski tak benar-benar sendiri. Yah, bayangan Ibu terus menghantui Ayah.
Semuanya dengan senang hati menyambut Resi. Yah, Resi sudah dikenal baik oleh keluarga besarku. Hal itu pula yang membuat seluruh ruangan tampak begitu dekat. Nenek Resi meninggal seminggu setelah pernikahan Resi. Hingga Resi tak perlu pulang pergi untuk melihat Neneknya, ia hanya tingga membawa Ari untuk tinggal bersama di rumahku.
Rumah besar ini kembali terasa hangat. Resi dan Ari berhasil mengobati kesepianku. Kini aku mulai belajar memanggilnya bunda. Yah, mengikuti aturan panggil yang digunakan Ari.
Ari berjarak tujuh tahun denganku. Kami bermain bersama, kebenaran yang indah, Ari memiliki hobi yang sama denganku. Kesibukan Bunda bekerja dengan Ayahku membuat Ari terbiasa mandiri dan tak bermain diluar. Ia harus menemani buyutnya-Ibu dari Bundanya.
Awalnya Ari banyak berdiam diri, dia terlihat ragu. Mungkin dengan keadaan rumahku yang besar dan penuh dengan segala keperluanku. Yah, semenjak Ibu meninggal, Ayah memutuskanku untuk home schooling saja. Tekanan masa itu membuatku sulit mengatur emosi dan banyak diam. Itulah mengapa Ayah memenuhi kebutuhanku, hingga aku bisa melakukan banyak hal hanya dengan di rumah.
“Hai Ari, aku telah mendengar banyak tentangmu dari Bunda. Aku harap kamu bisa nyaman tinggal di sini.”
“Ya, Kak. Aku harap aku bisa menjadi adik yang baik untuk kakak. Sudah lama aku ingin memiliki Kakak, namun Bunda mengatakan untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki.”
“Yah, Bunda benar. Kita harus bersyukur. lihatlah! Tuhan baik bukan? Ia memberikanmu Kakak dan aku diberikan Adik.”
Mereka saling tertawa. Hilanglah keresahan terbesar Resi. Melihat kedua pria kecilnya begitu kompak dan bisa saling melengkapi.
“Aku memiliki banyak permainan di sini. Kamu boleh pakai apa saja yang kamu inginkan, tetapi ingat! Jangan sampai rusak, ya. Karena Ayah tidak akan mau membelikan lagi jika itu sampai terjadi.”
“Baiklah Kak, bolehkah aku menggunakan sepatu roda Kakak?”
“Tentu saja! Aku akan bantu. Aku tahu, kamu belum pernah menggunakannya, kan?”
Ari menggangguk. Resi yang memperhatikan dari jauh merasa begitu bahagia. Ia biarkan mereka berdua bermain bersama, saling mendekatkan diri. Sedangkan ia hanya melirik dari jauh, karena ia kini tengah sibuk membuat kue kesukaan kedua putranya.
Ayah Andrea kini semakin sibuk, bisnisnya yang berada diluar negeri membuatnya harus bepergian dalam jangka waktu lama. Hal itu tak jadi masalah kini. Karena Andrea telah benar-benar aman berada bersama Resi dan Ari. Meski demikian, Resi senantiasa memberikan kabar perkembangan Andrea kepada Ayahnya. Tanpa saling cinta, bahkan Resi masih menganggap si Ayah sebagai seorang atasan. Hanya berbeda pada panggilan, kini Resi mulai belajar memanggil Ayah Andrea dengan sebutan Mas.
Kini jam makan menjadi hal paling menarik, sebelumnya Andrea takkan mampu makan jika dilakukan di meja hidang. Karena selalu terbayang sosok Ibunya. Hingga ia akan memilih makan di kamarnya saja. Namun kini, Andrea seakan tak sabar untuk menanti datangnya jam makan. Ada resi dan Ari, yang akan selalu siap untuk makan bersama.
__ADS_1
Ari memiliki sikap yang tulus, tak sedikit pun memandang kekayaan yang begitu dekat pada dirinya. Di dalam hatinya, sosok Kakak yang baik sudah mampu memuaskannya. Itulah mengapa ia begitu mudah mendapatkan hati Andrea.
“Kak, bisakah kamu memberikan kentangmu padaku?”
“Ari, bukankah masih ada kentang di piringmu, mengapa meminta kentang kakak?”
“Tak apa Bunda. Ini ...,” Andrea menyerahkan seluruh kentang yang ada di piringnya.
“Terima kasih Kak. Ini hadiah, karena Kakak sudah memberikan seluruh kentang kepadaku,” ungkap Ari yang kemudian memindah semua udang yang ada di piringnya kepada Andrea.
“Hei ..., mengapa begini? Apakah kamu tidak suka udang?”
“No ..., No ...,” ungkap Ari sambil menggelengkan kepalanya. “Kakak begitu suka udang, bukan? Makanya aku berikan udangku pada Kakak.”
“Dasar!!!” ungkap Andrea yang kemudian mengacak-acak rambut Ari.
Ari pun merapikan kembali rambutnya dan berkata, “Bunda, apakah Ari masih tampan?”
“No ..., No ..., tetap tampanan Kakak!” ungkap Andrea yang menirukan gaya bicara Ari.
Tertawa dan bahagia hanya kedua kata itu yang bisa menggambarkan keadaan Andrea saat ini. Begitu bahagianya sampai ia kembali meraih prestasinya. Nilai akademi yang baik, pelatihan yang diikutinya atas saran Ayahnya dan berbagai macam pekerjaan sederhana dari perusahaan membuat Andrea semakin berkilau.
Semangat hidup Andrea kini kembali hadir, semua itu karena kebanggan Ari. Ari yang selalu mengatakan ingin menjadi orang hebat seperti dirinya, mampu membuat Andrea bangkit bahkan melompat lebih tinggi dari masa lalunya.
Andrea kini dikenal dengan pria cerdas, tampan dan santun. Ia penuh kasih sayang, itu dapat terlihat ketika ia membawa Ari ke kantor Ayahny saat ingin mengambil berkas yang diinginkan Ayahnya. Ia dengan lembut merangkul Ari, memperkenalkan kepada karyawan bahwa Ari adiknya. Yah, dia benar-benar menganggap Ari seperti Adiknya sendiri. Tanpa rasa takut sedikitpun akan harta yang mungkin akan Ari rebut.
Andrea dan Ari tumbuh dewasa. Pertumbuhan mereka tak menjadikan jarak bagi keduanya. Bahkan Andrea kerap ikut saat Ari pergi bermain dengan teman-temannya. Sekedar mengantar jemput ataupun turut duduk santai bergabung bersama teman Ari lainnya. Begitu pula Ari, ia selalu menyempatkan diri untuk ikut kala Andrea bermain berkumpul bersama temannya.
Sampai suatu ketika, Andrea diajak berkumpul dengan rekan bisnisnya. Berkumpul di ruang VVIP yang tidak dapat dimasuki kecuali nama yang telah terdaftar. Saat itu Andrea dibuat mabuk dengan diberikan minuman beralkohol cukup banyak. Padahal Andrea sudah mengatakan tidak setuju, namun pemaksaan yang dibarengin canda membuat Andrea terpaksa meminumnya.
Awalnya pertemuan ini hanyalah perkenalan dengan calon kolega saja. Andrea yang selama ini tidak pernah benar-benar turun tangan menangani masalah kontrak, kini harus terpaksa melakukannya, karena keberadaan Ayahnya yang tak bisa pulang dari negeri jauh.
__ADS_1
Biasanya Andrea akan ditemani Pamannya Bram atau yang lainnya, namun kini tidak. Rekannya tersebut ingin Andrea hanya berbicara bertiga saja. Andrea dengan berat hati, namun ancaman pemutusan kontrak dan pencabutan invetasi membuat Andrea nekad melakukannya.
Malam itu, Resi dan Ari tengah bersiap di meja makan. Mereka berulang kali menelpon Andrea, menanyakan rencana makan malam bersama. Namun sayang, ponsel Andrea sedang tidak aktif. Ini semua menjadi kebiasaan Andrea saat sedang meeting, Andrea tahu benar adab dalam sebuah perjamuan bisnis.
Resi dan Ari memiliki perasaan tidak enak. Hingga mereka memutuskan untuk menunggu Andrea pulang.
“Ri, Bunda memanaskan sayur dulu ya. Kasihan Kakakmu jika memakan sayur yang telah dingin.”
“Ya, Bun.”
Malang tak dapat ditolak, mangkuk yang berisi sayur panas itu jatuh. Mengenai kaki Resi.
Prang ...!
Awwww!!!
“Ada apa, Bun?”
Ari berlari mendekati Resi.
“Kenapa kaki Bunda sampai merah begini?”
Ari pun lantas memapah Bundanya untuk duduk di sofa tak jauh dari dapur. Ia meminta Mba Imah untuk membantu membersihkan pecahan kaca yang jatuh.
“Bentar, ya Bun. Biar Ari obati.”
Dengan penuh hati-hati Ari membersihkan kulit Bundanya, memberikan salep luka bakar dan membiarkan Bundanya duduk santai bersandar sejenak.
“Kakakmu Ri, apa dia sudah ada kabar?”
“Belum, Bu.”
__ADS_1