CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
It's Me (Bab 2)


__ADS_3

Jangan pernah lelah mengungkapkan rasa sayangmu


Jangan pernah ragu berkorban untuk mereka yang kau sayangi


karena hati tak bisa di beli.


Kehidupan berjalan lancar, Ayah jauh terlihat lebih bahagia. Karena Bu Ratna tak hanya baik dalam mengurusku dan Ayah, namun juga berusaha keras untuk melayani kami seperti almarhumah Ibu.


Ayah banyak bercerita, akan kebiasaan Ibuku dulu. Dimulai dari selera akan rasa makanan sampai kebiasaan-kebiasaan yang kami lakukan sekeluarga. Aku senang Bu Ratna mau mengikuti kebiasaan kami. Kami kerap bepergian bersama, dan tak terlihat sedikit pun keberatan di wajah Bu Ratna. Kami semua menikmatinya.


Ayah pun turut bersikap bijak, Ayah selalu berusaha berlaku adil terhadapku dan Bu Ratna. Seperti saat  merayakan ulang tahunku yang ketujuh belas. Saat itu Bu Ratna menjadi orang yang paling sibuk dalam mempersiapkan semuanya.


Dia secara diam-diam mengundang teman sekolahku, mencari tahu apa yang aku inginkan untuk menjadi kado tahun ini. Menyiapkan perayaan di cafe, sesuai keinginanku. Bu Ratna sampai harus mengintrogasi beberapa teman dekatku, demi bisa merealisasikan ini semua.


Malam sebelum perayaan ulang tahunku, Ayah menemuiku di kamar.


“Sayang Ayah lagi apa?” tanya Ayah mengagetkanku yang tengah asik membaca novel, sambil terbaring di atas ranjang.


“Eh, Ayah. Enggak ada, Yah. Lagi baca, ada apa Yah?” tanyaku yang segera duduk menghadap Ayah.

__ADS_1


“Besok kamu ulang tahun kan? Kamu mau kado apa?” tanya Ayah sambil mendekap erat tubuhku.


Saat itu aroma parfum Ayah begitu menenangkan, sudah terlalu lama aku tak merasakan hangatnya dekap peluk Ayah. Suara detak jantung Ayah begitu nyaring terdengar di telingaku yang tengah bersandar di dadanya. Tiada kehangat yang mampu menenangkan dan menghangatkanku selain Ayah. Sedari dulu hingga sekarang, tiada pria yang benar-benar mencintaiku, mendekatiku, kecuali Ayah.


“Enggak ada, Rere sedang tak menginginkan apa-apa,” jawabku dengan suara pelan.


“Ayah sudah tahu jawaban kamu akan begini, makanya Ayah sudah menyiapkan kado untuk putri tercinta Ayah,” ujar Ayah dengan nada menggoda.


Aku tak berkata-kata, rasa penasaranku membuat tubuhku terpaku menanti sesuatu yang hendak Ayah keluarkan. Perlahan Ayah merogoh kantung celananya. Ayah memintaku untuk menutup mata dan tidak mengintip. Aku hanya mengikut saja. Kurasakan kedua tangan Ayah melingkar di leherku. Lalu Ayah memintaku kembali membuka mata.


“Terima kasih Ayah ...” jeritku yang kemudian memeluk erat tubuh Ayah. Begitu pula Ayah membalas pelukanku. Sambil membelai lembut rambutku Ayah berkata “ Ayah menyayangi kamu, sayang.”


Kalung ini merupakan hadiah terbaik yang aku dapatkan, dan merupakan kado terakhir pula dari Ayah.


Engkau mungkin mampu menirunya,


Namun engkau takkan pernah bisa menggantikannya.


Aku bersama Ayah dan Bu Ratna pergi ke sebuah Cafe. Ayah mengatakan ingin merayakan ulang tahunku di sana. Namun apa yang terjadi berhasil membuatku terpana. Kulihat deretan huruf  yang membentuk namaku. Hiasan balon berwarna hijau muda tersusun rapi di setiap sudutnya. Tampak teman-temanku tengah asik menyantap makanan dan minuman yang tengah tersedia di semua meja.

__ADS_1


“Ayo, Nak!” ajak Ayah yang menyadarkanku dari takjubnya keindahan suasana Cafe. Dengan menggenggam erat tanganku, Ayah menarikku menuju meja paling depan. Meja yang sudah terhias rapi dengan kue bolu besar berbentuk buku. Yah, Ayah paham betul akan hobi bacaku.


Sorak sorai mereka yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun, berhasil membuat airmataku jatuh. Tak sekedar pesta impian, namun perjuangan Bu ratnalah yang membuat semua ini menjadi nyata. Itulah mengapa aku mengubah panggilanku menjadi bunda, karena aku telah menerimanya sepenuh hati.


“Selamat ulang tahun, Re!” ucap Bu Ratna sambil memelukku. “ Kalung yang indah sayang,” ujarnya lembut.


“Kado dari Ayah,” ucapku bahagia dengan bibir tersenyum lebar.


“Bu Ratna yang membantu Ayah memilihkannya untukmu, Sayang,” jelas Ayah.


“Terima kasih, Bunda,” ucapku yang langsung memeluknya erat.


Sesaat Bunda terdiam, ia kaget akan panggilan yang baru saja aku perdengarkan. Lalu kemudian ia membalas pelukanku sambil berkata “Iya, Sayang.”


Hari itu menjadi hari paling bahagia dihidupku. Aku tak pernah mengatakan bahwa aku tak bahagia sebelumnya, hanya saja bila impian kita terkabul kata apalagi yang layak diucapkan selain bahagia.


Yah, hidupku tak selalu buruk. Meski aku melewati banyak momen menyedihkan. Terkadang aku merasa hidup ini tak adil, aku tak pernah menuntut akan sesuatu yang lebih. Namun penderitaan terus saja membayang-bayangi setiap detik kehidupanku.


Bukannya aku tak bersyukur akan kebahagiaan yang telah aku jalani. Namun sayangnya, kepahitan yang tak pernah berhenti mengikutiku. Yah, pesta dan hadiah itu merupakan kebahagiaan terakhir yang dapat aku rasakan.

__ADS_1


Entah takdir yang begitu membenciku, atau aku yang memang pantas mendapatkan semua ini. Malam itu aku hendak menemui Ayah, yang sedang berada di kamar bersama bunda. Aku ingin menyampaikan kabar gembira, akan kelulusanku memasuki universitas jurusan perawat. 


Gubrak, langkahku terhenti. Suara benturan kuat itu membuatku memilih untuk kembali ke kamar.


__ADS_2