CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
My New Boyfriend bab


__ADS_3

“Kenapa kamu, Tam?” tanyaku serius.


Ia tak menjawab, hanya menggelengkan kepala lalu membuang jauh pandangan ke arah kampus. Entah apa yang ada di pikirannya. Malam itu kami asik bercerita bertiga. Saling mengenal satu sama lain. Bercerita tentang keluarga dan banyak hal. Tanpa sadar malam telah datang, keasikan ini membuat kami terlarut. Kami baru tersadar jam asrama telah lewat, kami pun saling bertatapan. Bagaimana cara kami memasuki kamar asrama? Bila pengurus tahu, kami akan dihukum.


“Re, kamu uda chat Tama kan?” pesan singkat Jo.


“Yup.”


“Ok. Emotikon tersipu malu.”


***


“Re, kamu enggak apa-apa kan?” tanya Tama yang menghampiriku di taman. Aku tengah duduk  dengan kepala berbantalkan lengan, dengan tubuh berbalut jaket tebal. 

__ADS_1


Aku hanya menggelengkan kepala, memasang wajah lemas. Ia pun segera duduk di sampingku, meletakkan punggung tangannya di keningku. Memastikan suhu tubuhku saat itu. 


“Wajah kamu enggak pucat, suhu tubuhmu juga normal Re!” ujarnya bingung.


Aku pun tersenyum, lalu dari belakang Tama terdengar suara nyanyian selamat ulang tahun dari mulut Jo. Kue bolu dengan tiga lilin di atasnya tertata rapi di atas kedua tangan Jo. 


“Selamat ulang tahun, Tama,” ucapku dan Jo bersamaan.


Tama hanya terdiam, ia terharu. Terlihat pupil matanya memerah, seakan hendak mengeluarkan bulir airmata. Berkali-kali ia menggosok kedua matanya. Wah, tidaknya hanya dewasa, namun ia juga begitu lembut hati. Pria idamanku, eits, apasih yang aku pikirkan.


Aku hanya terdiam memandang dua pria ini, pria yang menghabiskan banyak waktuku. Setelah saling berpeluk dan tersenyum, mata mereka melihat ke arahku. Yah, aku tersadar, aku belum mengucapkan apa-apa kepada Tama. Namun mendadak aku bingung, bagaimana baiknya caraku mengungkapkannya. Kami sudah berteman dekat setahun ini, namun makin lama mengapa semakin sulit aku bersikap wajar kepada Tama.


“Re, kok bengong? Enggak ucapin selamat ke Tama?” tanya Jo yang menyadarkanku dari lemunan sesaat.

__ADS_1


“Selamat ya, Tam,” ucapku sambil mengulurkan tangan.


Tama pun menyambut tanganku dengan kaku. Suasana kikuk begini jadinya. Jo segera merangkul leher Tama dengan tangan kanannya dan merangkul leherku dengan tangan kirinya. Kemudian kami saling tertawa.


Aku pun meraih kue, memotongnya dan hendak menyulangkan ke Tama. Kemudian Jo dengan isengnya berkata “Cuit ... cuit ....”


Kami berdua jadi malu, bagaimana caranya aku bisa mengatasi rasa malu berlebihan ini. belum lagi detak jantungku yang semakin kencang, hingga membuatku tak bisa menggerakkan tubuhku. Ya Allah, ada apa dengan diriku?


Jo yang menyadari situasi ini segera mencolek cream yang ada di bolu, kemudia mencolekkannya ke pipiku dan pipi Tama. Akhirnya bolu imut itu habis dijadikan perang colek wajah. Tertawa sampai ingin menangis, sakit perut karena terus-terusan tertawa, wajah penuh cream dan rambut yang semrawut. Ini semua penampilan terindah yang begitu membahagiakan. Wajah tanpa beban itu tergambar rapi di sebuah foto yang kini terselip di buku diaryku.


Malam itu menjadi pesta indah yang seadanya. Namun membuatku tak bisa melupakannya. Hingga aku tersadar, sudah berapa lama aku tak merasakan kebahagiaan seperti ini?


Semua butuh uang, namun uang bukan segalanya.

__ADS_1


Karena uang tak mampu membeli rasa bahagia. Kitalah yang menciptakan bahagia itu.


Jangan pernah lupa bersyukur dan tersenyum.


__ADS_2