CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
my new boyfriend


__ADS_3

Kembali kubuka lembaran diaryku. Terlihat jelas wajah memerah karena malu di raut mukaku saat berfoto bersama dengan Tama. Saat itu Tama membelai lembut rambutku dan Jo dengan sigap mengambil gambar ini. Bahagia, ini cinta pertamaku. Yah, kehidupan yang semrawut membuatku mengabaikan tentang rasa dan cinta. Penderitaan yang seakan takada habisnya membuatku terhanyut dalam ketakutan dan kesedihan.


Perlahan rasa bak di lembah gelap itu memudar. Secercah cahaya datang terus menerus di kehidupanku kini. Tama dan Jo berhasil membuatku bahagia. Melupakan penderitaan dalam sesaat. Namun sayang, rasa cinta yang telah tumbuh tak lanjut di jaga. Tama pindah ke Sabang setelah berhasil lulus PNS di sana. Sedangkan Jo tengah sibuk mengurus keperluannya, ia akan melanjutkan kuliah di pulau Jawa. Aku telah berhasil di terima sebagai petugas laboratorium di sebuah klinik besar, atas rekomendasi dari pihak keluarga Jo. Yah, kakek, papa dan kedua kakaknya lulusan kedokteran. Mereka memiliki klinik dan laboratorium yang bekerja sama dengan rumah sakit terkemuka.


Bahagia rasanya, karena aku bisa mandiri. Bahkan kini aku bisa mengirimkan sebagian penghasilanku untuk Ayah. Ayah tampak begitu bangga akan keadaanku kini. Mereka tak perlu tau besarnya perjuanganku, besarnya tekanan yang harus kuhadapi, kesusahan dikehidupanku sehari-hari. Mereka hanya perlu merasakan keberhasilanku yang tak seberapa ini. Hanya itu cara yang dapat aku lakukan. Menyatakan aku telah mandiri, hingga mereka yang kusayang bisa tenang menjalani hari.


“Re, sebenarnya Tama suka loh sama kamu,” ucap Jo saat kami berdua tengah makan di cafe dekat klinik tempatku bekerja.  


Uhuk !


“Pelan makannya, Re. Nih, minum dulu!” ucap Jo sambil memberikanku segelas teh lemon dingin.


“Terus ....”

__ADS_1


“Iya, dia berniat mau nyatakan ke kamu. Tapi karena ia sibuk ngurus berkasnya, terus harus buru-buru berangkat. Enggak jadi deh,” jelas Jo


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.


“Ini ada surat untuk kamu, mungkin dia nyatainnya dari sini,” ucap Jo sambil menyodorkan secarik surat dengan amplop merah muda.


Tanpa ragu, aku rampas amplop itu dan membukanya segera. Kini aku dan Jo sudah begitu dekat dan terbuka. Sikap usil dan cueknya kepadaku selama ini ternyata menunjukkan betapa ia nyaman kepadaku. Begitulah sifat aslinya, hingga aku pun dengan lapang hati menerima sikapnya.


Kubaca surat itu, benar kata Jo. Tama mengutarakan perasaannya padaku. Namun ia ragu untuk menjalin hubungan denganku. Bukan hanya perkara jauhnya jarak, namun ia lebih merasa tak berguna jika menjadi kekasih tapi tak bisa diandalkan. Maka demi kepuasan hati, ia hanya mampu mengungkapkan. Ia dan Jo begitu mengenal aku dan keluargaku. Bahkan mereka pernah bermain ke rumahku saat aku pulang berlibur. Hingga mereka benar-benar tahu, apa yang tengah aku hadapi dan rasakan. Saat mereka datang, Ayah dan Bunda tengah bertengkar soal pekerjaan Ayah. Mereka mendengarnya, mendengar semua omongan Ayah dan Bunda. Hingga akhirnya aku tak bisa berkata-kata. Hanya mampu tersenyum sambil menaikkan kedua pundakku.


Airmataku mendadak jatuh, ada rasa kesal akan cinta yang tak terbalas, hubungan yang terjalin. Namun aku bahagia, rasaku tak bertepuk sebelah tangan. Entah bagaimana aku harus berbuat. Membalas surat ini dengan kemarahan atau membiarkan semua berlalu seperti tak ada kejadian.


“Re, aku enggak tahu harus bilang gimana. Kamu mau LDR dengan Tama? Tapi setidaknya kamu tahu, bahwa Tama menyukaimu, kan?” ujar Jo yang mencoba membelai kepalaku, seperti yang Tama lakukan. Namun karena belaiannya yang kaku, malah membuatku risih dan tertawa. Wajah Jo pun memerah, terlihat malu. Ia kemudian memalingkan wajahnya sesaat, agar tak kulihat merah pipinya.

__ADS_1


“Aku enggak akan bisa gantiin Tama ya? Aku enggak selembut Tama, enggak bisa mencuri hatimu dari Tama,” ucapnya lembut namun bernada kesal.


Aku tak dapat berkata-kata. Tak paham akan maksud ucapannya. Hati dan pikiranku begitu kalut. Bingung dan kecewa, sedih, senang dan ragu.


Aku hanya bisa tersenyum saat mengingat momen kala itu. Sekarang baru aku sadari, bahwa Jo mencintaiku. Yah, saat itu malam sebelum ia berangkat. Ia memintaku menemaninya berbelanja beberapa keperluannya.


Persahabat lawan jenis itu membahayakan


Biasanya cinta tumbuh diantara keduanya


Namun, banyak yang nyaman melakukannya


Sahabat jadi cinta

__ADS_1


Tetapu banyak pula yang menyadari


Sahabatan lebih asik dari percintaan


__ADS_2