
Belakangan ini aku kembali teringat sosok pria yang menjijikkan itu. Pria yang selalu memberi komentar negatif ataupun merendahkan para carrier. Aku kehilangan dirinya, yah keberadaannyalah yang membuat aku semangat untuk selalu membalas komentar. Namun, semenjak ia tak muncul lagi, aku jadi enggan memberikan komentar dan semangat untuk postingan berisi keluhan para carrier.
Ternyata kebusukannya, malah menjadi jalan baik bagi diriku. Sehingga aku tersadar, bahwa aku bisa menolong meski hanya dengan sebuah komentar semangat.
Hai
Salam kenal
Siapa sih, pria ini?
Aku pun membuka profilnya. Andrea Dinata, tinggal di Medan dan berstatus kuliah di Australia. Wah, ada apa dengan diriku? Mengapa pria kaya nan ganteng ini mau mengajakku berkenalan?
Kembali kupandangi foto-foto yang ada di galeri sosmedku. Tidak ada foto yang menarik, tidak terlihat cantik, apalagi anggun. Bahkan hampir seluruh fotoku terlihat asal. Yah, aku bukan wanita yang suka memasang foto cakep untuk menarik perhatian lawan jenis.
Hai
Maaf sebelumnya, aku Andre
Salam kenal
__ADS_1
Wah, nafsu benar nih cowok. Massanger mulu daritadi. Tapi maaf ya, saya tidak perduli.
Renata, saya hanya ingin menjadi sahabatmu,
Tolong balas massangerku.
Please ( emotikon memohon )
Wah, sudah mulai maksa nih cowok. Apa sih maunya? Apa aku block aja kali ya akunnya. Aku sedang tidak ingin direpotkan dengan urusan pria. Aku sedang berbahagia sekarang. Berbahagia dengan kehidupan baruku. Jika kalian merasa penderitaan hidupku semakin lengkap semenjak virus HIV ini bersarang di tubuhku, kalian salah. Karena justru kebahagiaan aku dapatkan, setelah virus ini menyapaku.
Bahagia yang tak terkatakan. Karena aku kini jauh lebih melihat dunia luar. Dunia yang jauh lebih buruk dari keadaanku saat ini.
Pernahkah kalian melihat seorang pria tanpa kedua kakinya yang tersenyum bahagia dan terus bersyukur akan kehidupannya? Kalian hanya melihat kecacatannya. Namun, hati bahagianya hanya ia dan Tuhannya yang tahu.
Atau mungkin kalian tidak pernah tahu. Tangisan meraung yang terjadi tiap malam, atau kekecewaan yang tak bisa dipungkiri, atau kehidupan yang tampak mewah dan bahagia. Padahal sesungguhnya mereka hanyalah burung dalam sangkar emas yang iri akan kebebasan burung lainnya.
Begitu pulalah aku saat dulu, tampak tenang dan membanggakan. Padahal hatiku kering dan gersang, layaknya tak ada kehidupan.
Aku hanya mengabaikan pesan itu. Bagiku, itu bukanlah hal penting. Yah, aku tak mengenalnya. Bahkan aku merasa tak pernah melihat foto profilnya. Bahkan akunnya begitu bersih dari status. Hanya ada beberapa foto yang berhasil menunjukkan ketampanannya. Yah, hanya itu saja.
__ADS_1
“Re, kamu jadikan temani aku berbelanja pakaian?” tanya Ela yang tengah asik mengeringkan rambutnya.
“Iya, El. Aku mandi dulu, ya,” jawabku yang segera mencampakkan ponselku di atas ranjang, lalu pergi menuju ruang dapur.
Baiklah Renata,
Jika kamu tak mau membalas pesanku dan tak ingin berteman denganku,
Tap izinka aku mengucapkan terima kasih.
Terima kasih karena telah menyadarkanku akan sikap negatifku selama ini.
Terima kasih karena telah membuka pikiranku untuk berdamai dengan takdirku.
Terima kasih karena telah mengajarkanku tentang rasa syukur
Terima kasih karena kehadiranmu membuat hidupku kini lebih berwarna.
Terima kasih karena kau telah mengajarkanku akan arti kehidupan.
__ADS_1
Terima kasih ....
Ela yang sudah bersiap dengan pakaian merah mudanya, membuatku kalang kabut. Tanpa melihat pemberitahuan dari ponsel, aku segera pergi bersama Ela menuju pasar.