CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
season 2 bab 12


__ADS_3

Tak hanya itu, Andrea turut menuliskan surat untuk Bunda dan Ari. Surat yang berisi pesan terakhir untuk dua sosok yang begitu berarti. Surat yang ditulis sepenuh hati.


Dear Ari,


Maafkan Kakak yang tak mampu menjadi contoh baik untukmu.


Maaf, Kakak terlalu banyak menyakiti hatimu dengan omongan Kakak.


Maaf, harus meninggalkanmu secepat ini.


Maaf, Kakak memberikan tanggung jawab perusahaan padamu.


Maaf, Kakak membiarkanmu sendirian dalam menjaga Bunda.


Kakak mohon, teruslah berada di sisi Bunda. Jangan pernah meninggalkan Bunda dalam jangka waktu lama. Hanya tinggal kamu yang Bunda punya.


Terima kasih, sudah mau menjadi Adik terbaikku.


Terima kasih, karena memberikan kasih sayang begitu tulus untukku.


Terima kasih, karena selalu setia menemani dan mendukungku.


Sebelumnya Kakak belum sempat cerita akan keberadaan seorang wanita yang bernama Renata. Kakak tak mengenalnya secara langsunga, hanya melalui akun sosial media. Namun, keberadaannya begitu berarti untuk Kakak. Karena dialah, Kakak kini lebih terbuka untuk melihat keadaan yang telah Kakak hadapi. Kakak mendapat pelajaran tentang rasa syukur dan arti sebuah kehidupan. Hingga kini Kakak berhasil berdamai dengan takdirku.


Kakak minta, jika Kakak sudah tak berada di dunia ini lagi. Kakak mohon, temuilah Renata. Katakanlah betapa berartinya ia di hidup Kakak.


Kakak telah berusaha untuk mengenalnya, hanya saja ia bukan wanita yang mudah untuk didekati oleh pria yang tak dikenal.


Untuk urusan pekerjaan, Kakak harap kamu mau belajar banyak dengan Paman Bram dan Yoanna. Mereka yang akan membantumu untuk menggantikan Kakak.


Sekali lagi terima kasih,


Dari Kakak yang begitu mencintaimu


Andrea Dinata.


Air mata Andrea jatuh bak air tecurah. Sesak dada yang ia rasakan menghentikan tangannya untuk terus melanjutkan menulis. Pandangan yang bergoyang dan rasa pusing yang tak tertahankan membuatnya memaksakan diri untuk berjalan menuju kamar mandi meski dengan langkah yang gontai.


Ia membasuh anggota tubuhnya dengan air. Kemudian membentangkan sajadahnya meski harus berjalan dengan meraba dinding. Ia berdiri tegak dan memulai ibadahnya. Dengan gagah ia berdiri, penuh syukur ia melakukan, dengan getar tubuh karena kebahagiaan ia menyelesaikan dua rakaat salat malamnya.


Selepas salam ia pun terjatuh, terpuruk seakan sujud menghadap sajadahnya. Dengan penuh kesucian hati ia berpulang. Usai sudah takdir dirinya. Berakhir kehidupan bukan berarti berkhir kisah. Ada kenangan yang tetap hidup. Ada cerita yang dapat terus diuntaikan.

__ADS_1


Takdir punya kuasa, meski kita punya pilihan. Tiada yang mampu mendahului takdir, kecuali izin sang Maha melalui doa dan keyakinan kita. Namun, kita kerap menikmati masa penderitaan dengan penyesalan dan pikiran yang penuh keluhan. Tanpa kita sadar, ada kebaikan dalam setiap keadaan, meskipun keadaan itu tampak buruk bagi kita.


Tiada yang memiliki kesempurnaan dalam takdir jika kita menganggap hal bahagialah yang menyempurnakan. Justru takdir yang sempurna itu mana kala hati tetap tenang, penuh yakin pada kasih sayang sang Maha, meskipun badai dan musim semi silih berganti menemui kita dalam takdir.


Ada kala kita tak menerima sesuatu yang terjadi pada diri kita, karena kita merasa tiada kesalahan yang kita buat. Itu semua karena kita lupa, lupa akan sebuah rasa syukur atas segala nikmat yang telah kita raih. Lupa akan kebahagiaan yang begitu besar, hanya karena datangnya badai kecil yang menggoyangkan perahu. Lupa akan banyaknya penderitaan diluar diri kita, hingga merasa diri inilah sosok paling menderita di atas dunia.


Sikap buruk yang kita timbulkan ini, semua berasal dari hati yang tak bersyukur dan akal yang tak mau berbaik sangka. Sikap buruk ini tak hanya membunuh diri kita secara perlahan, namun juga membunuh banyak orang terutama yang berada di sekitar kita, yaitu mereka yang kita cintai.


Pagi pun menyingsing, Resi tengah sibuk berkutat di dapurnya. Sedangkan Ari tengah santai menunggu di meja makan dengan tangan yang mengutak-atik ponsel.


Resi mulai menyusun makanan yang ia masak di atas meja. Ia pun melirik ke arah jam dinding yang terletak di ruang makan.


“Nak, sudah jam segini. Mengapa Kakakmu belum juga keluar kamar?”


“Iya, ya Bun. Coba Ari panggil.”


Ari pun berjalan dengan penuh semangat, momen makan akan menjadi kerinduan baginya dan Resi. Setelah beberapa bulan lamanya tak menikmati candaan bersama di kala makan.


Tok!!!


Tok!!!


Tok!!!


Mengetahui tak ada reaksi dari sang Kakak, Ari pun kembali memanggil Kakaknya. Kali ini dengan ketukan yang lebih kuat.


Tok!!!


Tok!!!


Tok!!!


“Kak! Jangan bercanda terus dong. Buka pintunya.”


Mendengar ketukan yang begitu kuat, membuat Resi lantas bangkit dan berjalan menuju pintu kamar Andrea.


“Ada apa, Nak? Mengapa kamu begitu kuat mengetuk pintu Kakakmu?”


“Kakak tak ada jawaban, Bun. Sudah berulang kali Ari mengetuk dan memamnggilnya.”


“Hah! Apa yang terjadi. Bagaimana ini?”

__ADS_1


“Sebentar, Bun. Ari akan mengintip Kakak dari jendela yang mengarah ke taman.”


Ari pun segera berlari keluar rumah. Melewati ayunan dan kursi taman menuju jendela kamar Andrea. Seluruh kaca jendela tertutup kain. Tak biasanya Andrea begini, ia sengaja meletakkan jendela di posisi ini semata-mata untuk menikmati keindahan taman dan sinar matahari pagi.


Ari pun tak habis akal, ia meraih tangga yang berada di ujung taman dan menyandarkannya pada dinding kamar Andrea. Ia berusaha mengintip Andrea melalui kaca jendela bagian atas yang tak tertutup gorden dengan rapat.


Ia menyaksikan hal yang tak biasa. Ia melihat Kakaknya tengah bersujud. Ia pun segera pergi menemui Bundanya.


“Bun, Kakak di kamar. Ia seperti sedang sujud. Ini bukan waktunya salat kan, Bun? Kakak juga tak mungkin tak mendengar ketukan kuatku kan?”


Napas Ari terengah-engah, ia tak berani meyakini bawah ini pertanda buruk, yaitu kematian sang Kakak. Resi pun turut menangis, tubuhny bergetar dengan meremas kedua jemarinya.


Ari yang sudah tak sabar untuk melihat Kakaknya, memutuskan untuk mendobrak pintu kamar sang Kakak.


“Pinggir, Bun. Biar Ari dobrak, pintu ini!”


Dengan sekuat tenaga, Ari menendang pintu itu dengan kuat. Hingga tendakan kedua, pintupun terbuka. Ari dan Resi segera berlari mendekati Andrea.


Resi menyentuh lembut kulit Andrea, dingin. Sedangkan Ari hanya tersujud tepat di samping Andrea. Tangisan paling haru terjadi saat itu. seakan langit turut bersedih, mentari yang gagah bersinar kini bersembunyi di balik awan putih. Tetes demi tetes bulir hujan turun membasahi sebahagian lama ini.


**Hai ...


Salam kenal, saya penulis CARRIER


Nama saya Be Maryam.


Kalian boleh panggil saya Be ataupun Maryam.


Mohon maaf, ini novel pertama saya.


Maklum ya, jika bahasanya kaku dan kurang mengalir.


Segala puji bagi sang Maha yang atas izinkan novel ini tuntas hingga season 2.


Saya berniat akan melanjutkan kembali season 3 secepatnya.


Terima kasih buat teman-teman yang mau membaca karya saya.


Jumlah pembaca menjadi api membara yang mampu membakar semangat saya.


Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih sedalam-dalamnya.

__ADS_1


Sampai jumpa di season 3 ya,


Salam**~


__ADS_2