CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )

CARRIER ( Saat Takdir Berkuasa )
My New Boyfriend


__ADS_3

Aku terdiam cukup lama, hingga akhirnya  Jo berucap “ Re, aku mohon bersikap biasalah kepadaku. Aku hanya mau kamu tahu perasaanku. Aku tak pernah ingin kehilanganmu. Meskipun hanya jadi sahabat. Aku mau kamu tetap berteman padaku, Re.”


Aku pun tersenyum, kuanggukkan kepalaku tanda setuju. Malam itu begitu indah, bahkan merupakan makan malam terbaik dan termewah. Namun sayang, perasaanku kacau balau melewati malam itu. Setelah makan, Jo pun mengantarkanku pulang. Kost tempatku kini memiliki jam malam. sepanjang jalan kami dalam kecanggungan. Namun di akhir sebelum aku keluar dari mobilnya, Jo mengatakan “ Re, besok antar aku ya. Aku tunggu jam dua belas di bandara,” aku pun mengangguk lalu melambaikan tangan hingga mobil Jo menghilang dari pandanganku.


***


Hari ini aku masuk shift malam. Entah rencana Allah atau suratan takdir, aku tak punya alasan untuk tak mengantarkan Jo. Ada rasa bimbang, karena malu bertemu dengannya. Namun sebagai sahabat, sudah seharusnya aku mengantarkannya. Ada rasa takut untuk tidak pergi, yah aku takut Jo akan sulit berkomunikasi seperti Tama. Pikiranku menerawang, bercabang entah kemana-mana.


Tersadar waktu tengah menunjukkan pukul sebelas, entah mengapa tubuhku tergerak menuju kamar mandi. Bersiap dan berjalan keluar kost. Kembali aku terdiam, akan terlambat jika aku menaiki angkutan. Apa sebaiknya aku tak pergi saja? Tiba-tiba sedan hitam yang tadi malam Jo gunakan menghampiriku.


“Mba Rere? Mari mba, saya antarkan ke bandara,” ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Kakiku melangkah dengan cepat memasuki mobil sedan itu. Tak ada rasa ragu, jika saja supir ini merupakan orang jahat. Yah, yang ada dipikiranku hanya aku tak mau menyesal tak mengantarkan kepergian Jo. Aku tak ingin melihat wajah sedih di wajahnya jika ia tahu aku sengaja tak datang. Bayang kesedihan wajah Jo membuat jantungku berdegup kencang, ingin terbang rasanya agar segera bisa menemuinya di sana. Tinggal dia seoranglah sahabatku, namun kini ia pun akan pergi meninggalkanku sendiri. Tiba-tiba saja airmataku menetes. Yah, ini bukan perkara cinta, tapi kehilangan seseorang, seseorang yang begitu berarti dalam keseharianku.


Aku terus berlari menuju lantai atas tempat pemberangkatan. Aku pun menemui sosok pria tampan tinggi dengan rambut cokelatnya tengah asik menyedu teh lemon dingin disebuah cafe.


“Jo ...,” panggilku dengan napas terengah-engah.


Jo pun berdiri, lalu menggerakkan tangannya memintaku datang padanya.


“Aku pikir, aku sudah terlambat,” ucapku sambil mengatur napas.


Jo pun meminta pelayan mengantarkan makanan dan minuman kesukaanku. Yah, selama ngampus dulu, Jo suka sekali mentraktirku dan Tama. Bukan hanya karena tajir, namun karena ia menyayangi kami. Hingga ia paling hapal makanan dan minuman favorite kami.

__ADS_1


“Re, aku mau kamu terus memberikan kabar padaku. Aku mau terus bantu kamu meski aku enggak ada di sampingmu. Aku enggak mau mendengar kamu sedih ataupun stres sendiri. Aku mau kamu janji untuk mengabulkan permintaanku ini,” ucapnya dengan wajah serius, bahkan lebih serius daripada saat ia menyatakan perasaannya tadi malam.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Ia membelai lembut rambutku. Hangat dan nyaman, airmataku keluar. Yah, berulang kali aku kehilangan pria yang mencintaiku dengan kehangatannya. Kali ini Jo, sahabat yang mencintaiku pun turut pergi meninggalkanku.


Jo memelukku, sepertinya ia turut menangis. Begitu lama kami terhanyut akan perasaan dan dekapan ini. Yah, aku tak pernah tahu. Masih adakah masa untuk kami bertemu. Dekapan ini seakan menjadi dekapan terakhir untuk selamanya.


“Re, aku mencintaimu. Aku mohon kabari aku apapun keadaanmu. Aku enggak mau sampai kamu bersedih apa lagi menangis,” ucapnya di telingaku, yang kemudian melepas peluk dan membelai lembut rambutku. Lalu pergi dengan melambaikan tangan setelah suara pemberitahuan keberangkatan.


Kepergiannya membuat sedih yang begitu dalam, entah karena kehilangan sahabatku. Atau rasa cinta yang baru kusadari. Aku tak pernah mengerti akan perasaanku. Trauma, penderitaan dan rasa cinta yang tak bersambut ini membuatku dilema. Hanya perasaan terus bertahan hidup yang aku sadari kini. Aku mau mereka yang menyayangiku tak merasa susah akan keberadaanku.


Supir tadi pun menghampiriku, ia menawarkanku untuk kembali di antar pulang.

__ADS_1


“Mba, ini ada surat dan hadiah dari Mas Jo,” ucapnya sambil menyerahkan tas kertas berukuran besar.


__ADS_2