Catatan Andra

Catatan Andra
Lari


__ADS_3

Mobil Reno sampai di depan rumah yang dimaksud Andra. Ia mencoba mencari cowok itu dengan matanya melalui jendela mobil yang terbuka. Tidak ada siapa-siapa di sana. Rumah itu juga tertutup rapat dengan lampu teras yang menyala terang.


"Tuh anak dimana sih!" ucap Reno sambil mengeluarkan hape dari saku celananya. Segera menghubungi Andra.


"Nih anak pasti ngerjain gue lagi!" sungutnya ketika panggilannya di-reject. Berulang kali ia menghubungi hape manusia itu tapi hasilnya malah lebih parah. Nomor Andra bahkan tidak bisa dihubungi lagi.


"Nih anak senang banget nyusahin gue! Lihat aja besok, gue cekik sampai mati!" ujar cowok itu melemparkan hapenya ke dasbor mobil dengan diselimuti sedikit emosi. Dia mengutuki kebodohannya karena terlalu khawatir sama sahabat jahilnya. Harusnya dia tau kalo Andra tuh nggak mungkin terkena masalah. Tapi sudahlah.... semua sudah terlanjur.


Reno memilih pulang. Dia hendak memutar mobilnya. Tapi, tanpa sengaja dia melihat dua sosok manusia berlari ke arahnya. Tidak begitu jelas, jarak mereka masih lumayan jauh.


Reno memilih menunggu.


"Itu pasti Andra!" bermonolog ketika melihat proporsi tubuh pria itu semakin jelas terlihat. "Tapi kok... " ucapan Reno gantung saat menyadari Andra menggengam tangan sesosok kecil yang berlari bersamanya.


"An? Elo kenapa?" sempat-sempatnya Reno keluar dari mobil ketika jarak keduanya tinggal beberapa meter lagi.


"Lari, Ren!" hanya itu balasan Andra. Cowok itu melewati Reno dan masuk ke kursi belakang bersama gadis yang sedari tadi tangannya di genggam.


"Eh?"


"Cepatan!"


"I-iya..." Reno masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


"Ngebut anjinggg!"


Reno menambah kecepatannya hingga tiga kali lipat. Hasilnya cukup memuaskan, mereka berhasil keluar dari gang hanya dengan waktu tiga menit saja.


Ketiganya masih terdiam. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Elo nggak apa-apa?" tanya Andra pada Bening setelah dia merasa posisi mereka sudah cukup jauh dari kedua manusia itu.


Gadis itu tidak menjawab, malah mulai menangis lagi. Mungkin dia merasa hancur dengan kejadian di luar dugaan ini.


"Elo nggak usah shock begitu, tenangin diri lo!"


Gadis itu menutup kedua matanya dengan tangan.


"Dua manusia berencana membunuhku, aku mendegar mereka akan menghabisiku dan membuang mayatku ke hutan. Gimana aku bisa tenang?" Bening menangis semakin menjadi.


Andra mengerti perasaan Bening. Dia yang cowo dan tidak mengalami saja merasa ngeri. Bagaimana dengan Bening yang notabenenya seorang gadis polos yang hampir digituin temannya sendiri. Setidaknya menagis memang solusi terbaik saat ini.


"Setidaknya kami berdua akan membantu  elo untuk selamat," Andra menghibur dengan suara dinginnya. Jelas Bening tidak percaya karena dia tau siapa Andra dan siapa dirinya.


Reno menatap keduanya dari center mirror. Terasa aneh. Bagaimana Andra bisa bersama Bening malam-malam begini? Apa yang mereka lakukan sebenarnya? Kenapa pula Bening menangis? Ada jutaan pernyataan yang harusnya terlontar.


"An, sebenarnya apa yang terjadi sih?" memilih bertanya secara langsung daripada mati penasaran.


"Panjang, Ren." sahut Andra. Dia menceritakan semua yang dia lalui secara ringkas. Tidak lupa bagian terpenting---bagaimana ia menyaksikan kedua manusia itu mengonsumsi obat-obatan terlarang. Sampai mereka berniat macam-macam pada Bening.


"Jadi begitu,"


"Njirrr! Mereka pasti sudah gila! Tega banget ngeburu cewek polos! Kalo mereka nafsu, ***** kan banyak! Dibayar gede boleh main lama! Servis nya juga bagus. Emang nggak ngotak!" Reno malah geram sendiri.


"Kalo bisa gratis kenapa harus bayar,"


"Asu lah! Para bedebah sialan!"


Andra tidak melanjut. Ia menatap Bening yang masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kayaknya dia semakin terpukul setelah tau cerita sebenarnya.


"Elo pasti kaget. Tapi begitulah kenyataan sebenarnya."


"Padahal aku mengira Rey orang yang baik. Dia selalu ada saat aku butuh. Dia selalu mengatakan kalo dia akan selalu menjaga aku. Tapi .. tapi dia kenapa tega seperti ini..."


"Namanya juga cowok!" sahut Reno dari depan. "Perkataan selalu bertolak belakang dengan perbuatan!"


"Lu diam nyet!" sergah Andra. "Orang lagi sedih elo malah memperkeruh suasana."


"Ya maap, gue kan mau nyadarin dia biar kapok percaya sama cowok."


"Elo diam monyet!!" tangan Andra melayang memukul kepala Reno.


"Sakit ******!" gerutunya mengusap kepala.


"Makanya diam!"


"Iya-iya."


Lima belas menit telah berlalu. Ketiganya beradu diam. Hanya suara mesin mobil yang terdengar. Plus suara sesegukan Bening sih.


"Ren, kita mau kemana?" tanya Andra. Yang ditanya diam seribu bahasa.


"Ren, elo budek ya? Gue tanya kita mau kemana?" Andra mendekatkan wajahnya ke telinga Reno.


"Lah, bisu lu?" kesal Andra.


"Tadikan disuruh diam. Yaudah gue diam." 


"Tolol! Gue serius anying!"

__ADS_1


"Hehehe. Terserah elo. Gue mah kemana aja bisa,"


"Jangan bisa-bisa bae!"


"Apa sih yang ga bisa. Apalagi kalo bersangkutan sama elo."


"Bacot!"


"Jadinya kemana nih?" tanya Reno mulai serius.


"Rumah elo aja deh. Rumah gue nggak aman, Bokap Nyokap gue sensitif. Entar gue dikira lakuin yang tidak-tidak kalo bawa cewek  malam-malam ke rumah."


"Yaudah iya. Gue mah nurut aja." balas Reno santai.


***


Mobil Reno menembus gerbang tinggi berwarna hitam yang terbuka lebar. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Andra keluar duluan kemudian diikuti oleh Reno.


"Masukin ke garasi. Jangan lupa besok pagi dicuci! Karena besok gue mau make ini lagi ke sekolah!" kata Reno pada seorang pria setengah baya yang mengenakan baju dan celana berwarna hitam. Sepertinya dia sengaja berdiri di sana untuk menunggu perintah itu. Dia lumayan seram karena tubuhnya yang kekar dipenuhi dengan tato. Namanya Mang Koko, orang yang selalu mengurusi permobilan di rumah itu.


"Baik, Tuan." jawabnya singkat.


"Elo mau tidur di situ?" tanya Andra yang melihat Bening tidak mau keluar. Bening tidak menjawab.


"Eh cewe kecil, tuh mobil mau di masukin ke garasi. Lu mau tidur di garasi?" Reno ikutan bertanya. Gadis itu tetap diam.


"Di sini angker loh. Malam-malam hantu berkeliaran. Tapi kalo di dalam rumah aman," tambah Reno.


Bening tidak takut sama sekali. Tapi meskipun demikian dia juga tidak mau tidur di garasi. Jadilah dia keluar dengan jantung yang masih berdetak kencang. Jujur saja dia masih takut sampai sekarang.


"Masuk yuk," ajak Reno pada kedunya.


Bening menggigit ujung bibirnya. Sepertinya dia ragu untuk memenuhi ajakan Reno. Hanya berdiri mematung sambil mengikuti langkah keduanya dengan sorot matanya.


"Ayok!" Andra ikutan mengajak saat sadar Bening tidak mengikutinya.


"Nggak usah takut! Kami nggak jahat kok, suer!"


"Bu-bukan itu... Aku merasa nggak pantas masuk ke rumah ini..."


"Bodoh!" Reno langsung berjalan ke arah Bening dab menarik tangan gadis untuk masuk. Buset, tuh anak aneh banget dah. Dikira Bening boneka apa main tarik-tarik aja. Andra diam dan mengikuti dari belakang.


Bening dan kedua cowok itu memasuki ruang utama. Luas banget astaga. Mewah banget lagi.


"Ini istana bukan sih?" Bening kelewat kampungan. Dia tidak bisa berbohong kalo itu rumah termewah yang pernah dia lihat. Rumah majikan ibunya mah kalah jauh.


Bening mengangguk-angguk. Cih, sepertinya Reno keturunan konglomerat deh. Kan emang iya, semua orang juga tau itu! Ujarnya dalam hati.


"Elo mau langsung tidur apa mau makan dulu?" tanya Reno.


Bening menatap Andra sejenak. "Apa aku nggak ngerepotin banget?"


"Ngerepotin sih, tapi mau gimana lagi," balas Reno.


"Yaudah aku pulang aja. Maaf kalo aku ngerepotin," gadis itu malah baperan.


"Elo seriusan mau pulang? Emangnya nggak takut lagi?"


"Dari pada aku beban untuk kalian?"


"Hahahha. Elo baperan banget


sih! Gue becanda. Elo nggak ngerepotin kok. Iya kan, An?"


Andra mengangguk dingin.


"Kayanya elo laper deh, kita makan yuk..." ajak Reno kemudian menatap Andra. "Elo juga, An!"


"Gue ga laper."


"Kalo Andra nggak makan aku juga nggak makan." Bening menggeleng.


"Elo harus makan Andra monyet, agar si kuntet ini ikut makan,"


"Yaudah iya." Andra nyerah. Akhirnya ketiga anak muda itu berjalan menuju ruang makan. Gila, ke ruang makan aja butuh effort lebih. Itu rumah beneran gede banget.


"Walah, pembantu gue udah pada ngorok. Yaudah deh, kita ke dapur aja, gue yang bakal masak buat kalian."


"Kamu bisa masak?"


"Bisa, tapi cuman masak air. Hahah,"


"Garing anying." komentar Andra.


"Yaelah, humor kita kan beda man!"


Andra dan Bening duduk di kursi yang ada di dapur. Mereka memperhatikan Reno memasak. Cowok itu cocok juga jadi koki. Udah ganteng, berdamage, baik hati lagi. Uhhh, Perfect banget.


"Besok-besok elo harus tidur bareng ortu elo. Jangan sendirian lagi," ucap Andra memperingatkan. "Elo ceritain aja kelakukan Reyhan yang kurang ajar itu!"

__ADS_1


Gadis itu menundukkan kepalanya. Ia tidak tau harus mengatakan apa.


"Aku tidak bisa bilang ke ibu." katanya lirih.


Kening Andra berkerut. "Kenapa?"


"Ibuku punya penyakit jantung. Aku takut penyakitnya akan kambuh kalo dia tau masalah ini. Lagipula dia akan berhenti bekerja  demi menjaga aku. Terus setelah itu kami mau makan apa?"


"Lah, terus gimana dong?"


"Aku tidak tau, Andra."


Cowok itu ikutan menunduk. Mencari solusi terbaik untuk keselamatan gadis itu. "Hmmm, gue bisa kasih elo solusi, tapi gue nggak yakin elo mau."


"Apa itu?"


"Elo boleh tinggal di sini sampai Reyhan dan Leon gue laporin ke polisi. Selama mereka belum ketangkap elo belum aman. Tapi terserah elo sih, kalo elo nggak mau juga nggak apa-apa."


"Aku juga takut ngerepotin Reno. Secara kita kan tidak sedekat itu."


"Gimana ya, gue hanya ngasih solusi. Kalo nggak mau juga terserah elo,"


"Tapi..." Bening mengangkat wajahnya, menatap Andra sejenak. Ia terkejut melihat leher Andra berdarah.


"Andra, leher kamu berdarah!" tiba-tiba ia panik.


Reno yang sibuk memasak mengalihkan pandangan dari wajan ke Andra. Ia ikutan panik melihat kondisi Andra.


"Man, elo...."


"Udah, gue nggak apa-apa." kata Andra kepada keduanya. "Kalian nggak usah panik begitu..."


"Tapi leher kamu berdarah loh..."


Cowok itu menyentuh lehernya. Benaran berdarah. Padahal dia hanya menggaruknya sebentar karena merasa gatal.


"Hmm, itu udah dari tadi... waktu kita di kandang ayam loh. Tadi nggak sengaja kegores ke sudut papan." Andra terpaksa berbohong agar keduanya tidak khawatir. "Gue permisi ke kamar mandi bentar ya..."


Tinggallah Reno dan Bening yang mengikuti langkah Andra dengan sorort mata khawatir.


***


"Elo tidur di sini aja." Reno membuka kamar yang luasnya mungkin sama dengan luas rumah Bening.


"Be-benaran?"


"Iya."


"Apa ini tidak kebesaran?"


"Ini kamar yang paling kecil."


Bening menatap sekeliling kamar. Bersih dan mewah. Ia agak takut tidur sendirian di ruangan segede itu. Nggak biasa soalnya.


"Hmmm, aku takut tidur sendirian di kamar besar seperti ini..." akui aja, daripada nanti teriak-teriak nggak jelas.


"Jadi maksud elo apa? Kami temanin elo tidur gitu?"


"Heh! Nggak lah! Emang aku gila apa!"


"Nah, terus mau elo apa?"


"Hmmm..."


"Elo nggak usah takut, kami ada di kamar sebelah kok. Kalo elo butuh apa-apa teriak aja, gue atau Andra pasti denger kok,"  Reno menenangkan gadis kuntet itu.


"Hmmm, okeh... ba-baiklah."


"Yaudah, tidur gih. Gue bakal tutupin pintunya."


"Eh, tunggu sebentar." Bening mencegah. Cowok itu membalik badannya demi menatap Bening.


"Apa lagi?"


"Besok aku harus sekolah," Bening terdiam.


"Terus?"


"Tolong antarin aku pulang."


"Elo nggak trauma ya?"


"Trauma sih, tapi mau gimana..."


"Kalo soal sekolah elo, gue janji besok elo nggak bakalan telat. Gue dan Andra bakal nganterin elo pagi-pagi sekali. Tapi plis, tidurlah dengan nyenyak malam ini. Elo udah lelah plus takut. Jadi lupain masalah malam ini."


Bening tersenyum tanggung. Ia merasa tidak nyaman. Apalagi posisinya saat ini sangat merepotkan banyak orang. Tapi dia nggak bisa melakukan apapun selain menerima belas kasihan Reno dan Andra.


"Tidurlah." Reno tersenyum manis. "Have a nice dream."

__ADS_1


__ADS_2