Catatan Andra

Catatan Andra
the More


__ADS_3

Satu hari ini Andra agak normal. Ia tak lagi bolos. Bahkan ia mengikuti pelajaran dari les kedua sampai les ke-enam (sekarang). Biasanya Andra selalu menghilang di les kedua atau bahkan dari les pertama. Hal tersebut membuat teman satu kelasnya merasa lega, berfikir kalo Andra mereka tidak jadi terjerumus ke dunia berandalan.


"Tuh kan, kalo Andra masuk kelas suasana jadi menyenangkan... meskipun dia nggak banyak ngomong, tapi kehadirannya cukup membangkitkan semangat. Seandainya dia begini setiap hari... " Rayna, cewek cantik anggota cheerleader memandangi Andra dari tempat duduknya. Kebetulan tempat ia duduk strategis banget buat ngeliatin Andra. Dia duduk di depan paling pinggir, sedangkan Andra duduk di sudut kiri paling belakang. Tapi resikonya barisan belakang pastilah tau kalo dia ngelirik cowok itu dari tadi.


"Iya sih, tapi kayaknya besok dia akan bertingkah lagi deh, mungkin aja hari ini dia dimarahi dari rumah. Biasanya orang kek Andra tuh begitu, tobat sehari berulah satu tahun, parah sih!" Devia, cewek agak gendut yang duduk di belakang Rayna ikut menatapi cowok itu. "Sayang banget kalo cowok seberpotensi dia hancur."


"Man! Kantin yuk," Reno mengajak sahabatnya saat bel tanda istirahat berbunyi.


"Gue nitip aja,"


"Hah? Nggak biasanya Andra gue begini. Setan apa yang dateng?"


"Elo apaan sih, gue malas jalan, Ren!"


"Huaaa, Andra gue kok jadi gini? Kesandung apa man gue yang woahh ini..." Reno menempelkan punggung tangannya ke jidat Andra. Memastikan kalo cowok itu baik-baik saja.


"Suhunya sama kok," ucapnya setelah membandingkan suhu keduanya.


"Elo kenapa sih!" Andra menyingkirkan tangan Reno dari jidatnya.


"Nggak apa-apa. Cuman satu hari ini elo aneh banget, kayak mau tobat gitu... "


Andra menatap Reno sebal. "Gue bukannya mau tobat, gue senang aja ngikutin mata pelajaran hari ini." katanya membalas ucapan Reno.


"Hahahaha." Reno tertawa. "Sejak kapan elo suka pelajaran Seni budaya dan Bahasa Indonesia?Bohong elo cukup membuat gua terhahahihi!"


"Hmm, tapi mulai hari ini dua mapel itu jadi favorit gue."


"Elo berbohong buat apa sih, An!" Reno tanpa sadar menepuk pipi Andra. "M-m, bio, Fisika, kimia, bing, and the gang itu yang bener."


Reno tertawa tanpa melihat wajah sahabatnya. "Elo itu pakarnya menghitung... " katanya mengalihkan wajahnya ke wajah Andra. Ia terkejut melihat wajah cowok itu lebam akibat tamparannya tadi.


"An... " dia khawatir, mengeluarkan tissue dari sakunya. "Muka elo lebam,"


Andra juga sepertinya belum menyadari . Tapi ia memang sudah merasakan perih dari tadi. Ia menyentuh wajahnya, ternyata ada darah.


"Sudut bibir elo berdarah Andra... " Reno memberikan tissue itu pada Andra. "Gue minta maaf, An... gue nggak ingat kalo sekarang elo sangat mudah terluka," Reno menunduk penuh penyesalan.


"No problem. Bukan apa-apa kok,".


"Elo sakit... "


"Pergilah, Ren! Belikan pesanan gue, dah lapar nih!" Andra mendorong tubuh Reno agar pergi meninggalkannya.


"Tapi... tapi... "


"Ren! Cacing gue dah meronta nih!"


"Hmmm, baiklah."


***


Bel pulang sekolah berbunyi. Seperti biasanya Andra and Reno selalu santai.

__ADS_1


"Ren, elo masih harus ngantar Anastasia pulang, kan?"


"Kenapa emang?" tanya Reno.


"Gue mau pulang duluan," jawab Andra.


"Elo mau ngapain kalo langsung pulang?"


Andra mikir sejenak. "Leon ngajak gue gabung ke gengnya. Katanya kalo gue masuk sekarang, gue bakal dilantik jadi kapten divisi satu. Yaya, elo udah tau, Leon udah lama banget buru gue. Dan kalo gue pikir-pikir, apa salahnya gue mencicipi dunia berandal seperti yang pernah elo bilang... "


"Elo pasti udah gila!"


"Why?"


"Elo tau mereka kelompok kriminal. Elo mau jadi bagian dari mereka?"


"Apa bedanya dengan elo?" Andra menatap Reno tajam.


"Geng gue nggak bergerak secara kriminal, An! Kami nggak make narkoba, kami nggak ngeroyok sembarang orang, kami tidak membunuh, dan paling penting kami masih berprikemanusiaan." jawab Reno. "Kalo elo ingin merasakan dunia berandal masuk aja ke geng gue, gue janji bakal jadiin lo pemimpin."


Andra menarik nafas panjang. "Kalo gue mau udah dari dulu gua jadi pemimpin di geng elo. Gua ga mau gabung sama elo, Ren! Lagipula, gue udah terlanjur iya-in." cowok itu menepuk pundak Reno, lalu melangkah pergi.


"An!" Reno berlari, menarik tangan Andra. "Kalo elo gabung ke Blacklion, otomatis elo akan menjadi musuh gue. Pikirin baik-baik, An..."


"Gue nggak peduli, Ren! Jika elo memusuhi gue, itu artinya gue berhasil..." tanpa menyelesaikan kalimatnya, Andra beranjak meninggalkan Reno.


***


Handphone Andra yang ada di dasbor mobil bergetar. Segera ia mengeluarkannya. Melihat siapa orang yang berani meneleponnya. Ternyata Leon, cowok brengsek pemimpin geng Blacklion.


"Hmmm, gue ambil tawaran elo!"


"Besok tawuran? Kalo gitu gue nggak bisa!"


"Banci? Terserah elo! Gue nggak peduli!"


"Elo pasti sengaja kan? Damn you!" Andra buru-buru memutuskan sambungan telepon. Ia merasa aneh jika baru masuk langsung diajak tawuran. Itupun menyerang geng Reno, White Jaguar. Secara tidak langsung ia tau politik Leon, pria itu pasti ingin memperlatnya untuk menghancurkan Reno. Karena apapun ceritanya, Reno bakal milih gabungin gengnya karena Andra sudah ada di dalam. Mungkin Leon udah tau kalo kelemahan terbesar Reno adalah Andra selaku sahabat sejatinya.


Sebenarnya Andra lagi kesal banget. Tapi rasa kesalnya perlahan memudar saat melihat Bening berteduh di bawah rindangnya pohon cemara yang tumbuh di pinggir jalan. Matahari memang lagi nggak kompak, panasnya kelewatan hingga kulit langsung gosong sekali diterpa. Mungkin karena itulah Bening memilih berteduh.


Untuk beberapa saat Andra fokus pada gadis itu. Dilihatnya Bening mengeluarkan botol minumannya yang tadi pagi. Wah, dia berhasil menghabiskannya. Gadis yang manis, pikir Andra. Dia menepikan mobilnya di pinggir jalan tepat di samping pohon yang meneduhi Bening. Andra membuka jendela mobil agar mereka bisa bertatapan.


"Gue antar yuk!" ajak Andra.


Sepertinya Bening agak kaget dengan cowok itu. Mungkin dia nggak nyangka kalo cowok itu adalah Andra.


"Nggak usah..." tolaknya.


"Elo kok jual mahal sih, udah mending gue ajakin!"


"Aku bukannya jual mahal, tapi aku nggak enak aja gitu... " sebenarnya alasan Bening tidak mau pastinya karena takut. Ia ingat Andra dan Reno pernah mengancam akan membunuhnya. Ya meskipun mereka udah temenan. Tetap aja rasa takut itu masih ada. Bagaimana kalo Andra ingin merealisasikannya sekarang?


"Tenang aja, nggak bayar kok. Gratis!"

__ADS_1


Karena merasa dipaksa, akhirnya Bening ngikut juga. Yah, apapun yang terjadi ia sudah pasrah. Kalopun dia akan dibunuh, setidaknya orang yang membunuhnya adalah orang yang tampan.


Just trust in the heart.


"Rumah elo dimana?" tanya Andra saat gadis mungil itu sudah duduk di sampingnya.


"Lurus aja, entar aku bilangin turunnya dimana. "


"Oh, okay," jawabnya pelan.


Keduanya terdiam. Membuat mobil itu hening. Andra bukan tipe orang banyak bicara, malahan termasuk hemat bicara. Kalo Bening aslinya cerewet, tapi dia takut banyak bicara, mungkin gara-gara tampang Andra yang nggak suka dicakapin. Lagipula mereka tak sedekat itu hingga bisa ngoceh seperti yang sering Bening lakukan di depan Reyhan, Richard dkk.


Seperempat jam berlalu, keduanya tetap tak saling bicara. Bening sih ingin memulai obrolan, tapi ia takut Andra jadi ilfil. Secara cowok itu berasal dari kalangan elite, jadi nggak mungkin tertarik dengan obrolan kelas bawah seperti yang sering Bening ocehkan. Tapi kalo nggak diajak ngobrol suasana jadi canggung. Terus kesannya dia tuh cewek nggak tau diri, udah diantar soksokan lagi.


"Hmmm, mobilmu bagus, yah... " Bening mulai bicara. Tapi setelah ia menyadari perkataannya, mendadak ia memarahi mulutnya dari hati. Kamu ngomong apa sih, Bening! Kampungan banget!


Andra tidak menjawab, malah semakin menaikkan kecepatan.


Tuh kan dia nggak ngejawab! Obrolan kamu nggak mutu, Bening! Pasti dia udah ilfil sama kamu! Batin Bening.


"Elo jalan kaki setiap hari?" hal yang tak terduga ditanyakan Andra.


"Hmm, iya...eh nggak selalu..maksudnya iya." Bening gugup sendiri menjawab pertanyaan Andra.


Cowok itu tersenyum geli. "Yang benar mana nih?"


"Hehehe, Kadang-kadang. Kalo udah terlambat biasanya naik bus. Tapi kalo nggak, ya jalan kaki."


"Elo nggak malas apa? Jalan kaki sejauh ini tiap hari?"


"Hahahaha, nggak lah. Jalan kaki itu kan banyak manfaatnya. Olahraga misalnya. Terus dengan jalan kaki kita udah turut melestarikan bumi ini, soalnya kita udah ngurangin polusi. Selain itu jalan kaki membuat otak kita lebih fresh karena bisa melihat ekspresi setiap orang dengan bebas." Bening tersenyum memberitahu.


Andra merasa tersindir mendengar ucapan cewek itu. "Bacot!" namun dalam hati mengagumi gadis itu.


Bening tersenyum kecil. "Aku turun di halte aja."


"Loh kok?"


"Rumahku masuk dari gang sempit itu. Masih jauh ke dalam."


"Gue antar aja!"


"Nggak usah. Makasih."


Mobil berhenti tepat di depan halte. Bening segera turun dari mobil, tersenyum pada Andra.


"Makasih, ya."


Andra mengangguk tanpa tersenyum. "Besok gue jemput ya?"


"Nggak usah, aku jalan kaki aja. Sudah cukup aku ngerepotin kamu." gadis itu tersenyum, melambai pada Andra.


"Cewek yang mengagumkan."

__ADS_1


__ADS_2