
"Anjing lo Andra! Banciii! Mati elo!!" dua orang menahan tubuh Andra. Dan ada tiga orang berdiri di depannya. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Leon, Reyhan dan Igo. "Gue nggak nyangka elo babinya!" ucap Leon disertai emosi.
Mereka berada di sebuah gang sepi yang jarang dilewati oleh masyarakat.
"Brukkkk!" pukulan berulang menghantam tubuh Andra.
"Ngomong lo babi!"
Andra terbatuk-batuk. Darah segar terbercik dari mulutnya. Ia tidak bisa melawan. Selain karena dia dalam kondisi lemah juga karena kalah jumlah. Bagaimanapun lima lawan satu bukanlah hal yang adil.
Reyhan menatap Andra. Ia mengangkat dagu yang berlumur darah itu dengan jari telunjuknya.
"Elo mau nyusul si Elang?" tanya Reyhan setengah berbisik. "Gue bisa ngirim elo sekarang juga...."
Andra menatap lemah. Ia menyaksikan cowok itu mengeluarkan belati dari sakunya. Ekspresinya aneh, persis seperti psikopat yang sedang mendapatkan mangsanya.
"Udah Rey, kita nggak usah buru-buru menghabisinya, kita siksa aja dulu..." kini bergantian dengan Leon yang juga memberi tatapan membunuh.
"Andra...." Leon mendekati pria itu hingga jarak mereka tinggal beberapa centi saja. "Gue bakal kasih elo penawaran..."
"Gue ga bakal ngebunuh elo malam ini kalo elo bersedia masuk ke geng kami."
Cowo berdarah itu menatap Leon. "You wish!" jawab Andra tersenyum sinis.
"Daripada elo mati konyol begini..."
"Itu lebih baik. Setidaknya gue mati karena hal yang baik meski dibunuh oleh orang yang tidak baik."
"Bacot!" balas Leon disertai tendangan yang melayang ke perut Andra. Seketika mulut Andra kembali memuntahkan banyak darah. Ia lemah, sangat lemah.
"Gue nggak ngerti kenapa elo sok pahlawan, tapi gue tau elo naksir sama Bening. Dan gue nggak nyangka elo bakal melakukan tindakan serendah itu. Membawanya kabur malam itu," Reyhan menggantikan posisi Leon di depan Andra. "Dan hebatnya, elo pura-pura tidak tau selama ini."
Jadi, perkara malam ini timbul karena Andra menyelematkan Bening waktu itu. Ternyata malam itu Reyhan dan Leon tau kalo Andra lah yang membawa cewek itu kabur. Mereka tau dari motor Andra yang terparkir di samping rumah Bening. Dan kedua manusia itu pura-pura tidak tau sampai dua minggu hampir berlalu.
Dan kesalahan terbesar Andra adalah memenuhi panggilan Leon. Tadi Leon meneleponnya dan mengatakan ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan. Tau-tau nya itu jebakan supaya dia datang. Dan sekarang, dia sendirian tanpa bisa meminta bantuan.
"Mana Andra yang terkenal gentleman itu? Yang katanya seimbang dengan Anjaz Enzio Nugroho? Yang katanya anak paling kuat! Masa lawan kita aja nggak mampu! Hahahaha ternyata elo banci, anjing!!!" pukulan telak menghantam wajah Andra.
Andra memejamkan mata. Ia merasakan perih di sekujur tubuhnya. Dia tidak kuat lagi. Ibaratnya kalo dia adalah hape dayanya tinggal satu persen lagi. Dihadang sekali lagi dia pasti akan tumbang.
"Gue kasih penawaran terakhir," kata Leon. "Elo bisa hidup kalo elo gabung ke geng kami. Sebaliknya, kalo elo menolak, gue bakal nyiksa lo sampai elo jadi mayat. Pilih dalam 1 menit!"
Jadi apa pilihan gue? Mati konyol atau masuk ke dalam neraka mereka? Sejujurnya keduanya sama aja, sama-sama menyakitkan. Jadi gue tidak akan memilih apapun.
"20 detik lagi!" desak Igo.
"Pilih, anjing!"
Andra membuka matanya. Tatapannya yang lemah tertuju pada Leon sang ketua Geng. Ia kembali tersenyum sinis pada pria sangar itu.
"Gue ga nyesal nyelamatin Bening." ucapnya lemah. "Gue seneng bantuin dia."
"******! Gue nggak nanya gimana perasaan elo waktu nyelamatin gadis itu, gue hanya menunggu pilihan dari elo!" bentak Leon.
__ADS_1
"Pilihan gue.... " Andra menarik nafas panjang. "Tetap hidup tanpa bergabung dengan bajingan seperti kalian..."
"Hahahaha" seketika Leon dkk tertawa kompak.
"Pilihan elo sama aja dengan mati konyol hahaha." ucap Reyhan di tengah-tengah gelak tawa mereka.
"Ssstttt!" perintah Leon. Seketika semua hening. "Andra... elo kan memilih mati. Jadi, elo mau mati dengan cara apa? Gue kasih penghormatan elo yang memilih."
Andra terdiam. Ia melirik tangan Leon yang bergerak mengambil alih belati dari tangan Reyhan. Lalu pria itu mengacungkan benda tajam itu ke wajah Andra.
"Pilih dalam satu menit!"
"ANGKAT TANGAN!!!" tiba-tiba Leon dan teman-temannya di kepung orang-orang bersenjata. Mereka tentu kaget dan sontak mengangkat tangan.
"Tangkap mereka, Pak! Mereka lah orangnya!" ucap seseorang dari balik kerumunan. Ternyata dia adalah Reno.
Seketika aksi tangkap menangkap pun terjadi. Akhirnya tim Leon berhasil dibekak polisi. Tentu saja penangkapan itu berhasil karena adanya bantuan dari tim Reno. Soalnya Andra dan Reno sudah merencanakan ini sebelumnya. Jadi kejadian malam ini juga sudah dikemas dengan rapi. Hasilnya memuaskan, mereka berhasil menyelamatkan Bening.
"Andra... elo ga apa-apa?" tanya Reno menghampiri Andra.
Andra berdiri tegap. Memperlihatkan kalau dia sudah babak belur. Tapi ekspresinya mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Emang apa yang bisa terjadi ke gue!" ucapnya sombong.
"Syukurlah, gue udah khawatir banget."
"Gue kuat kok," sahutnya melangkah. Namun baru saja di langkah pertama, dia sudah ambruk menyentuh tanah.
***
"Nggak masuk sekolah gara-gara berantam? Mau jadi apa kamu, hah?" Papa Andra melayangkan tatapan marah pada anak sulungnya. Dia memang agak kecewa melihat Andra tiduran sepanjang hari di atas ranjang. Belum lagi lebam di sekujur tubuh cowok itu semakin memancing emosinya.
"Papa jangan marah gitu dong," Mama Andra yang ikutan masuk ke kamar Andra menenangkan suaminya.
"Mama liat perilaku dia kan? Nggak pantes banget jadi seorang pemimpin! Gimana papa nggak marah coba!"
Andra hanya diam saja. Namun tentu saja dalam hati dia melawan. Mengatakan kalo dia tidak berantam. Dia dikeroyok wahai papa.
"Andra, jujur saja, Papa kecewa banget sama kamu! Akhir-akhir ini kamu sering banget buat ulah. Papa nggak tau otak kamu kebentur apa yang jelas, kamu buat malu keluarga!"
"Pa, cukup!" kata mama lembut. "Anak kita lagi sakit loh, Papa nggak kasihan?"
"Kasihan itu kalo dia sakit karena ngelakuin hal yang bener. Kalo gini mah, dia memang pantas dimarahin! Bahkan dia harus dihukum!" balas Papa ikutan marah sama Mama.
"Papa nggak tau apa-apa!" Andra tiba-tiba bangkit dari tidurnya. Ia ga tahan selalu disalahkan.
"Oh, mau membela diri?"
"Papa tuh selalu saja begini! Selalu nyalahin Andra padahal Papa tidak tau kebenarannya! Pernah ngga sih Papa mikir yang baik-baik tentang Andra? Pernah nggak Papa tanya apa yang sudah Andra lakuin? Pernah nggak Papa bertanya kenapa semua ini terjadi pada Andra? Plis Pa, stop menyalahkan Andra!" pria itu menatap papanya tajam.
"Papa ngga bertanya karena papa udah tau!" balas Papa lebih sengit.
"Tau? Tau apa Papa tentang Andra? Bahkan sisa hidup Andra pun papa tidak tau! Jadi, berhenti mengurusi hidup Andra!"
__ADS_1
"Plokk!" sebuah tamparan melayang ke wajah Andra.
"Kamu memang sangat kurang ajar!" bentak Papa.
Andra memegang pipinya yang pasti sudah melebam. "Yah, disaat Andra pengen hidup lebih lama, Papa selalu mendorong Andra untuk mati." Cowok itu mengangkat wajahnya, menatap papanya penuh kebencian. Dia melangkah menuju pintu kamar yang terbuka. Meninggalkan kedua orangtuanya yang sama-sama memegang kening.
Andra membalik badannya ketika dia berada tepat di bingkai pintu. "Andra benci sama Papa!" ucapnya lalu meninggal kamar.
***
Keesokan harinya di sekolah
"Andra, kamu kenapa? Berantem ya?" tanya Bening ketika mereka berpapasan di koridor sekolah. Tatapannya memancarkan kekhawatiran mendalam.
"Nggak kok," jawabnya datar.
"Terus kenapa kamu babak belur begini?"
"Hmmm," Andra menggaruk kepalanya. "Gue jatuh dari motor."
"Seriusan? Kok bisa?"
"Ya nggak tau, aspalnya cinta kali sama gue," balasnya berbohong.
"Ya ampun," Bening terkekeh. "Kamu hati-hati dong kalo berkendara. Sekarang ini banyak bahaya di jalanan. Untung kamu cuma lebam-lebam, gimana kalo tulang kamu patah? Atau terjadi yang lebih buruk lagi! Ayolah, jangan ugal-ugalan lagi mulai sekarang,"
"Aduh, iya bawel!" jawab Andra sambil menarik tangan Bening. Jantung gadis itu langsung berdetak sepuluh kali lipat dari biasanya.
Aduh dia kenapa menyentuh tangan ku? batin Bening.
Ternyata Andra sedang mengajak Bening berjalan bareng menuju kantin.
"Oiya, Reno bilang, Reyhan dan teman-temannya sudah diamankan polisi, jadi mulai malam ini aku udah udah bisa tidur di kamarku."
"Benarkah?" Andra berkata seolah dia tidak tau sama sekali.
"Iya, Andra. Makanya aku udah bisa bernafas lega."
"Hehehe. Baguslah. Elo aman sekarang,"
Bening mengangguk. "Makasih ya, Andra. Kamu udah baik banget sama aku. Buat Reno juga, sampaikan terima kasih ku. Aku tidak tau harus bagaimana membalas kebaikan kalian."
"Santai aja. Kita seneng kok bantuin elo."
Bening tersenyum, manis sekali. "Maafin aku kalo ngerepotin selama ini... Aku janji, suatu saat nanti aku bakal ngebalas kebaikan kalian.."
Andra terhenti. Bening juga terhenti layaknya cowok di sampingnya. Tiba-tiba Andra mencekal lengan pendek milik Bening. Membisikkan sesuatu.
"Elo nggak harus membalasnya suatu saat nanti. Elo bisa ngebalasnya sekarang,"
"Ha? Maksudnya gimana?" jantung Bening mulai ngga karuan lagi.
"Cium gue itu udah cukup."
__ADS_1