
"Dari mana?" tanya Reno memalingkan wajahnya pada cowok yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Dia lumayan terkejut dengan kedatangan manusia itu. Pasalnya Reno sudah menggunakan baju tidur imut dan tadinya sudah berniat untuk tidur. Tapi kedatangan manusia tanpa sopan itu menunda istirahatnya.
"Rumah Bening." jawab cowok yang ternyata adalah Andra. Dia memutuskan untuk menginap di rumah Reno sampai keadaan hatinya tenang. Takutnya kalo dia pulang sekarang perang dunia ketiga bakalan terjadi. Lari adalah keputusan terbaik.
"Anjrit, baru juga jadian udah langsung diapelin. Keren juga temen gua," Reno tersenyum penuh arti.
"Bening gadis yang baik. Jangan berpikiran seperti itu!" tegur Andra menutup pintu kamar. Dia langsung melepaskan jaket jeansnya dan duduk di atas sofa. "Gua abis meluk dia." ujarnya memberitahu.
Reno yang tadinya tiduran sambil main hape mulai tertarik. Dia melemparkan hapenya ke samping dan bangun menuju sofa. Dia duduk di sebelah Andra.
"Hei, gua ga salah denger kan?" Reno memastikan. Dia ga percaya kalo temen coolnya itu mau memeluk cewek. Itu hampir mustahil.
"Engga. Gua ngerasa lebih baik setelah memeluknya."
"Gadis yang luar biasa. Keren banget dia," puji Reno.
"Ren, Om Seno mana?" Andra mengalihkan pembicaraan.
"Dia lagi nemenin nyokap gua ke luar kota. Minggu depan baru balik." jawab Reno. "Kenapa?"
Andra menghelai nafas. "Gua mau periksa lagi."
Reno terdiam. Dia menatap Andra tidak percaya.
"Ko tiba-tiba? Apa elo ngerasa sakit banget akhir-akhir ini?"
"Tidak. Gua hanya penasaran sudah sejauh mana gua merusak tubuh ini."
"Man..."
"Udah, Ren, gua bosan mendengar ceramah elo. Gua mau mandi."
Reno menghelai nafas. "Elo manusia yang sangat aneh."
"Handuk gua mana?" tanya Andra tanpa peduli dengan omongan Reno.
"Kayanya udah disimpan lagi deh. Coba cek lemari paling ujung," menunjuk lemari yang paling mepet ke dinding. Andra menurut. Benar saja benda itu ada di sana. Segera dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Tumben banget elo mau nginap. Ada apa?" tanya Reno ketika Andra sudah keluar dari kamar mandi. Dia belom berpindah posisi sejak Andra masuk ke kamar mandi. Dia betah memeluk bantal sambil menikmati tayangan televisi yang baru ia nyalakan.
"Gua lagi berantem sama bokap gua." jawab Andra dengan nada datar. Baju dia sudah berubah menjadi baju tidur yang bermodel sama dengan Reno namun dibedakan oleh warna.
"Lagi?"
__ADS_1
"Iya. Makanya gua udah males."
Reno memainkan remote yang ada ditangannya. "Kata gua elo harus membungkam mulut Om Arnold dengan kenyataan bahwa elo mengidap penyakit serius. Dia harus tau kalo elo butuh yang namanya kebebasan."
"Ga. Sampai kapan pun gua ga mau ngasih tau itu."
"Andra! Sampai kapan semua orang akan ngatur elo tanpa tau kebenaran yang sesungguhnya. Sampai kapan orang tua elo kaya gitu? Mereka terlalu egois!"
"Tapi keegoisan mereka tidak ada hubungannya dengan penyakit gua. Dan, penyakit gue bukan hal yang seserius itu." lanjut Andra. Dia berjalan menuju ke kasur Reno lalu merebahkan tubuhnya. "Gua pengen tidur dengan nyenyak."
Reno menatap ke arah jendela yang tirainya masih terbuka. Pemandangan malam begitu memukau dari kamar cowo itu. Tapi ini bukan soal pemandangannya, ini soal pikirannya yang berkecamuk memikirkan nasib Andra ke depan.
"Andra, bisakah elo tetap ada sampai nanti gua nikah?"
Andra membuka matanya. "Elo berharap apa dari gua? Minggu depan aja gua udah ga di sini lagi!"
"Ha...?" jantung Reno langsung memompa lebih cepat.
"Minggu depan gua akan dikirimkan ke luar negeri."
***
Bening bernyanyi kecil di kamar mandi. Pagi ini dia sangat bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Senyuman manis merekah di bibirnya sejak dia bangun. Perasannya masih sama seperti semalam, berbunga-bunga. Dia tau ini lebay, tapi seperti inilah jatuh cinta. Menyenangkan.
Selesai mandi dia langsung bersiap-siap untuk berangkat. Hari ini dia akan naik bis, ga boleh jalan kaki. Sebab kalo dia jalan kaki yang ada sampe di sekolah dia keringatan. Dia ga mau bau badan ketika nanti bertemu dengan Andra. Pokoknya dia harus tetap cantik dan wangi.
"Cakep banget," puji cowo itu.
Bening tersenyum manis. Anjir, demi apa pagi-pagi begini sudah dapat pujian seperti itu dari pujaan hatinya.
"Kamu ngapain ke sini?" Bening berusaha mengalihkan topik.
Cowo itu bergidik. "Ga tau. Hatiku menyuruhku ke sini. Katanya harus menjemput tuan putri yang manis ini," sambil menyentuh pipi Bening.
Bening langsung salting berat. Eh demi apa cowo sedingin itu bisa romantis juga. Heh, tolongin Bening, dia sedang meleleh sekarang.
"Ayo, takut telat," kata cowo yang ternyata Andra.
"Hehe, ayo..."
"Gapapa kan naik motor?"
"Gapapa sih, tapi motor kamu gede banget. Aku takut gabisa naik."
__ADS_1
"Makanya jangan kecil! Haha," sambil memasangkan helm ke kepala Bening.
"Ih, aku juga gamau kecil!"
"Haha, kepala kamu juga kecil banget!" Andra tertawa lagi ketika menyadari helm itu longgar di kepala gadis itu.
"Aishhh!"
"Ayo naik, duduk senyaman kamu aja gapapa," kata Andra. Akhirnya dengan susah payah akhirnya Bening bisa duduk. Meski kurang nyaman karena dia mengenakan rok sekolah.
Andra agak nyesal juga bawa motor buat jemput Bening. Dia merasakan ketidak nyamanan Bening. Harusnya tadi dia minjem mobil Reno. Tapi ini sebuah pelajaran. Besok-besok kalo mau jemput cewe itu berarti harus pake mobil.
Sepanjang perjalanan keduanya terdiam. Barulah saat diparkiran Andra mulai mengajaknya mengobrol.
"Nanti pulangnya aku anterin lagi ya,"
"Ga usah. Aku terlalu merepotkan." jawab Bening sambil melepaskan helm itu.
"Kalo begitu harusnya kamu ga usah jadi pacar aku." balas Andra sambil merapikan rambut Bening yang agak berantakan.
"Hmmm... pagi-pagi udah liat pemandangan romantis nih. Aduhhh, ketawa ga ya," ucap seorang cowo yang berjalan bersama seorang cewe. Keduanya mendekati Andra dan Bening.
"Anjing! Rusak suasana aja!" Andra berpaling pada sepasang manusia yang kini berhenti di dekat motor Andra. Mereka adalah Reno dan Anastasya.
"Waduhhh, jangan marah gitu man..."
Jujur saja Bening malu banget saat ini. Dia tidak berani menoleh pada orang yang sedang bicara dengan pacarnya itu.
"Eh mending elo pergi!" usir Andra.
"Dihhh, parahh banget! Bening, liat cowo lu seenaknya ngusir orang!" Reno berkata pada Bening. Barulah cewe itu berani menatap Reno.
"Hehe, jangan takut Bening, gua becanda." kata Reno yang menyadari bahwa Bening takut.
"I-iya." jawabnya gugup.
"Oh, jadi kamu yang namanya Bening. Aku sudah lama penasaran sama kamu tau," Anastasya mendekati Bening. Dia mengulurkan tangan sambil berkata, "Aku Anastasya."
Bening menatap cewe itu. Gila, dia cantik banget. Sepertinya dia cewe blasteran. Demi apapun Anastasya secantik itu. Tinggi badannya hampir menyamai Reno, badannya goals banget, rambutnya panjangnya berwarna merah kecoklatan ---sepertinya diwarnai, dibuat bergelombang. Gayanya persis seperti artis tanah air yang sedang naik daun akhir-akhir ini. Bening jadi insecure sendiri.
"Bening," jawab Bening setelah lama tidak menerima uluran tangan itu.
"Hmm, kita harus berteman mulai sekarang. Oke?" tawar Anastasya.
__ADS_1
"Hmmm, tapi sepertinya aku tidak mampu berteman dengan orang seperti kamu." jawab Bening seadanya.
"Santai aja, kamu punya Andra di sisi mu sekarang,"