
Hari ini Ibu Bening mengabari kalo ingin pulang ke rumah. Gadis itu senang sekali, ini kesempatan yang bagus untuk menceritakan hubungannya dengan Andra. Ibunya pasti akan sangat senang mengetahui kebaikan cowok itu.
"Bening," panggil ibunya. Bening langsung melompat dari kamar untuk membuka pintu.
"Ibuuuuu!" Bening langsung memeluk wanita yang sudah setengah abad itu. Wanita itu membalas pelukan anaknya.
"Hai, Bening..." ternyata ada seorang cowok berpostur tinggi di belakang ibunya. Gadis itu langsung mengintip dari bahu ibunya. Dia menyelidiki pria berkulit putih yang berpakaian kasual itu. Beberapa saat barulah dia menyadari.
"Kak Azel?"
"Hai," cowok itu melambai seraya tersenyum.
"Kak Azel kapan pulang?" Bening melepaskan diri dari ibunya dan kini mendekati cowo itu.
Senyuman Azel terkembang sempurna. "Baru tadi sore." jawabnya memeluk Bening. Gadis itu lumayan terkejut mendapat pelukan mendadak seperti itu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Azel mengurai pelukan. Dia menyentuh pipi Bening dengan kedua tangannya.
"Ba-baik kok." jawabnya gugup.
"Hehe, sudah lama tidak melihatmu. Jujur saja selama di sana kamu yang paling aku kangenin. Akhirnya aku dapat libur panjang dan bisa ketemu kamu lagi,"
Bening menatap pria itu. Cakep banget. Azel berubah drastis dari dua tahun yang silam. Kalo mau tau, Azel adalah anak majikan ibu Bening. Sekarang lagi menempuh pendidikan di luar negeri.
"Hmmmm, jadi ceritanya ibu jadi nyamuk nih?" ibu berdehem. Seketika keduanya langsung kaku.
"Masuk dulu, kita ngobrol di dalam. Malu diliatin orang."
***
"Sayang, maafin mama sama papa ya," Leoni langsung memeluk Andra setelah mereka sampai di rumah. Padahal sepanjang perjalanan mereka diam saja kaya orang musuhan.
Andra tidak menanggapi perkataan mamanya. Dia lebih memilih mencerna situasi macam apa ini sebenarnya. Kenapa tiba-tiba semuanya berubah baik padanya. Ia menatap papanya sejenak. Pria tidak mengatakan apa-apa tapi tidak juga kelihatan marah. Andra mulai berfikir kalo perkataan Om Seno tadi mengartikan bahwa riwayat penyakitnya sudah diberitahu kepada orang tuanya.
Tak lama kemudian papa Andra berjalan menuju kamar. Dia tidak mengatakan sepatah katapun pada Andra. Padahal dia harusnya memukul Andra karena sudah keterlaluan. Tapi kenapa ya?
"Ma... sebenarnya kalian kenapa?"
Leoni memeluk anaknya lagi. "Sayang, kamu jangan pergi lagi ya, Mama ga mau kehilangan kamu."
Andra membalas pelukan mamanya. "Apa Om Seno mengatakan sesuatu pada Mama?"
"Tidak, tapi Mama sedih banget selama kamu ga pulang. Papa kamu juga sering nangis akhir-akhir ini. Kita itu sayang banget sama kamu, jadi kamu jangan ninggalin kita lagi ya sayang..." wanita itu sampai menangis.
Hati Andra terasa sakit mendengar perkataan mamanya. "Ma, maafin Andra juga."
__ADS_1
***
Keesokan paginya Andra bangun lebih pagi. Dia langsung turun untuk sarapan. Dia bergabung dengan keluarganya yang sedang menikmati sarapan pagi. Andra duduk di sebelah Andrio yang tengah asik meminum segelas susu.
"Alo Iyo..." sapanya pada bocah berseragam TK itu.
Andrio tersenyum. "Yeyyy akhirnya bisa sarapan bareng kak Andra!" ucapnya berseru. Papa dan Mama terlihat bahagia mendengar seruan itu.
"Ma, Iyo mau dianterin sama Kak Andra aja." kata Andrio menatap mamanya.
"Kak Andra harus sekolah, sayang. Udah, kamu dianter sama mama aja." Leoni berkata lembut.
"Ngga mau! Pokoknya Iyo harus diantar sama Kak Andra!"
"Loh?" papa mulai bicara.
"Gapapa, biar Andra aja yang nganterin Iyo." ucap Andra pada keduanya.
"Tapi kan arahnya berlawanan sama sekolah kamu, sayang... Nanti kamu telat, gimana?" mama sedikit khawatir.
"Gapapa kok." balas Andra.
"Yeyyy!!!!" Andrio bersorak penuh kemenangan.
***
"Boleh, kak." jawab Andrio.
"Selama aku tidak ada apa kamu pernah masuk ke kamarku?"
"Pernah." jawabnya jujur.
"Apa kamu yang membaca buku catatanku?" Andra menatap Andrio sambil terus mengemudi.
"Iya, kak."
"Loh, kenapa kamu membacanya Iyo?"
"Karena Iyo ingin seperti Kak Andra. Iyo pengen jadi kapten basket, Iyo pengen punya temen kayak Kak Reno, Iyo juga pengen punya pacar seperti kak Bening." anak kecil itu berkata serius.
"Singkatnya kamu memang ingin menjadi sepertiku." Andra tersenyum. "Iyo, aku kan udah bilang jangan pernah ngikutin jejak aku. Iyo itu harus nurut sama orang tua, Iyo harus hidup yang sehat, Iyo juga harus belajar dengan baik."
"Tapi kan Kak Andra juga begitu."
Andra tersenyum lagi. Dia menyentuh pipi adiknya. Hanya Iyo orang paling dekat dengan Andra di keluarnya. Iyo juga menjadi salah satu alasan mengapa Andra mau kembali ke rumah. Dia sayang banget sama bocah itu. Seperti ada ikatan yang kuat diantara mereka.
__ADS_1
"Iyo," Andra memanggil. Yang dipanggil menoleh.
"Aku percaya padamu." ucapnya tersenyum. "Kamu jangan pernah membongkar rahasia itu ya,"
Sepertinya Andrio mengerti maksud kakaknya. Dia langsung menggaguk. Kalo dipikir-pikir cukup mustahil bocah enam tahun mengerti tentang segalanya. Sepertinya Andrio bukan bocah biasa.
"Kalo nanti aku ga bisa bertahan lama, apakah kamu mau menjaga Kak Bening untukku?"
Andrio langsung mengangguk. "Tentu saja Kak."
"Nanti, kamu harus bisa menggantikan posisiku di keluarga ya. Aku tau kamu bisa."
Andrio tiba-tiba memeluk Andra. "Iyo sayang sama Kak Andra."
"Iya, Kak Andra juga sayang sama Iyo."
***
"Ayo aku anterin!" Azel membukakan pintu mobil untuk Bening. Pagi-pagi Azel cakep banget. Ia juga sudah berpakaian rapih
Bening yang sudah siap berangkat sekolah langsung menggeleng. "Ga usah kak, aku naik bis aja." tolaknya.
"Eh, kalo ada yang gratis kenapa harus yang berbayar?" lanjut Azel.
"Tapi kak, aku udah..."
Azel langsung menarik tangan Bening agar masuk ke dalam mobil. "Ga boleh nolak ya,"
"Tapi..." Bening kehabisan kata-kata. Akhirnya tidak ada pilihan lain selain duduk di samping pria keren itu.
"Di SMA Mentari ya?" tanya Azel.
"Iya," jawab Bening pasrah.
Sebenarnya Bening tidak enak diantar kaya begini. Selain merepotkan orang lain juga karena dia punya status pacaran. Apa kata orang kalo dia ketahuan diantar cowok lain? Bagaimana perasaan Andra kalo tau ini?
"Bening, kamu ga mau ngajak aku ngobrol? Kamu ga penasaran apa yang aku lakukan di kuliah? Kamu ga mau tau aku sudah bertemu dengan siapa aja?" sepertinya Azel pengen banget ditanyai.
Bening menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak penasaran. Lagipula kenapa dia harus tau tentang kehidupan cowo itu? Tidak ada gunanya buat Bening.
"Ayolah, kita sudah lama tidak bertemu. Harusnya ada banyak pertanyaan. Kamu juga ga pernah mengirimkan pesan padaku selama aku di sana."
Bening tetap diam. Dia malah memikirkan nasibnya kalo Andra tau tentang ini.
"Hei aku pengen banget ditanya sama kamu."
__ADS_1
Bening menatap cowo itu. "Apakah kamu punya pacar?"