
Setelah mengantarkan Bening, Andra langsung pulang ke rumah. Ia memarkirkan mobilnya di samping mobil merah mamanya. Segera ia masuk ke rumah melewati pak Aldi--- tukang kebun di rumah itu.
"Sore Den Andra... " sempat-sempatnya ia menyapa meski Andra sudah lewat jauh. Andra tidak mempedulikan sapaan pria itu.
"Sayang," Mama tiba-tiba muncul dari ruangan di dekat tangga.
"Hmm?"
"Tumben pulang lebih awal?"
Andra tak menjawab. Ia malah meneruskan langkahnya meninggalkan wanita cantik yang berdiri di dekatnya.
"Sayang, liat mama dulu!" Leoni menarik tangan Andra.
"Kenapa, Ma?" tanya Andra menuruti kemauan wanita itu.
"Mama mau pergi arisan. Menurut kamu Mama udah oke belum?" berputar di depan Andra. Wanita itu menggunakan dress putih elegan yang dipadukan dengan high heels berwarna senada dengan dress nya. Dia memang sangat cantik. Penampilannya selalu berhasil menipu usianya.
"Udah," jawab Andra singkat.
"Ko cuma udah sih!"
"Maunya gmana?"
"Lebih so sweet kek!"
"Males!" jawab Andra meninggalkan mamanya. Leoni tersenyum melihat wajah kesal anaknya.
"Makan dulu sayang, kamu pasti sudah lapar," ucap Leoni setengah berteriak.
"Andra udah makan bakso di luar, Ma." sahut cowo itu.
"Eh, kamu kok gitu... Mama kan udah ngelarang kamu mengonsumsi makanan instan! Entar jadi penyakit loh, sayang... "
"Udah deh, Ma! Andra pusing!" cowok itu meningkatkan kecepatannya hingga berhasil menanjaki anak tangga. Meninggalkan mamanya yang berdiri mengikutinya dengan sorot mata.
Kamar Andra terletak di lantai paling atas rumah itu. Butuh banyak tenaga untuk sampai ke sana. Apalagi bagi orang lemah macam Andra.
Andra berhenti jika sudah melewati lima anak tangga, lalu melanjut lagi. Mungkin karena kondisinya yang sudah memburuk membuat dia rentan kelelahan. Dulu saat dia didiagnosa leukimia stadium satu, dia tidak merasakan apa-apa. Malahan dia masih bisa berlari seperti biasanya. Tapi sekarang ia tak bebas lagi melakukan apapun, entah penyakitnya udah di stadium mana saat ini.
Sampai di kamar, cowok itu melemparkan tasnya. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sejenak memejamkan mata, lalu membukanya lagi.
Bayangan wajah Bening tergambar di ingatannya. Tapi kenapa? Apa mungkin gadis itu berhasil menarik perhatiannya? Tapi apa yang menarik darinya? Kayaknya nggak ada deh.
Andra bangkit dari tidurnya. Berjalan ke arah balkon kamarnya. Ia menatap halaman rumahnya yang menghijau dihiasi beragam tanaman. Jajaran pohon yang memagar rapi juga mempersedap pemandangan.
Cowok itu mengeluarkan rokok dari sakunya. Menyelipkan ke bibirnya lalu mencari-cari pemantik di saku lainnya. Dapat. Ia ingin menyalakan rokoknya tapi terhenti karena sesuatu.
"Merokok itu berbahaya. Jika orang normal menghisap satu batang rokok mereka sama aja melayangkan umur sekitar sebelas menit waktu hidupnya. Kalo kamu yang merokok, itu sama aja membuang dua hari tiga jam sisa hidupmu. Jadi jika perkiraan harapan hidupmu hanya lima tahun lagi bayangin, kamu menghisap satu bungkus perhari, berarti kamu sudah mengurangi umurmu sekitar 25 hari setiap harinya. Jadi, jangan coba-coba merokok!" tiba-tiba saja ucapan Dokter Seno terngiang di telinganya.
"Hari ini kayaknya nggak usah merokok deh, feeling gue nggak enak!" Andra melemparkan rokok yang sempat terselip di bibirnya. Batang rokok itu jatuh bebas ke bawah, mungkin akan mendarat di kepala Pak Aldo atau di punggung Pak Sapto kalo mereka masih ada di taman bawah.
"Apa gue berhenti aja sekalian?"
***
Malam tiba. Seseorang menelepon Andra.
"Clubbing yuk!" ajak seseorang.
"Gue sibuk." jawab Andra.
"Gue ada miras branded jenis vodka. Gue mau bagi elo. And gue janji traktir lo malam ini!"
"Gue sibuk anying!" balas Andra.
"Alah! Elo banyak bacot!" orang di seberang terdiam sejenak. "Apa karena gue dari kelas O'on elo nggak mau nerima ajakan gue?"
Andra terdiam.
"Gini-gini gue sanggup berteman dengan elo, An. Gua tau, keluarga Michael emang sangat terhormat tapi bukan berarti.. "
Tett! Andra memutuskan sambungan. Ia paling benci ada orang yang membawa-bawa nama keluarganya. Karena sejujurnya dia juga tidak menyukai nama belakangnya itu. Selama ini orang-orang selalu segan berteman dengan dia hanya karena dia keturunan konglomerat. Padahal dalam kamus pertemanannya tidak pernah memandang seseorang dari kehidupan sosial.
Segera ia memakai jaket kulit berwarna hitam. Setelah itu berlari menuruni tangga.
"Mau kemana kamu!" suara berat milik seorang pria memecah keheningan.
Andra menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata suara Arnold--- papa Andra. Dia sedang duduk bersama istri dan anak bungsunya. Mereka sedang asik menonton tayangan televisi sambil menikmati makanan ringan.
"Andra mau keluar, Pah!"
"Keluyuran malam lagi?" pria itu bertanya tajam.
"Andra ada urusan penting dengan teman!"
"Terus aja begitu! Kamu itu nggak pernah ngehormati papa, selalu membangkang!"
"Andra nggak pernah membangkang, Pa!" cowok itu membela dirinya.
"Tuh kan! Selalu tidak mau disalahkan. Tujuh keturunan Michael nggak ada yang seperti kamu! Semua terpelajar dan dapat dijadikan panutan!" pria itu berkata tanpa berniat bangkit.
"Udah, Pa... jangan marah pada Andra..." Mama menepuk pundak suaminya, memberikan ketenangan agar emosi Arnold surut.
"Papa selalu seperti ini! Andra udah melakukan semua yang papa mau, tapi papa tak pernah menganggap pengorbanan Andra." cowok itu menatap wajah papanya tajam. "Andra benci sama Papa!"
__ADS_1
"Andra! Papa seperti ini juga demi kalian. Agar kalian bisa menjadi anak yang berguna nantinya! Supaya kamu bisa memimpin perusahaan dengan benar!"
"Andra nggak tertarik!" cowok itu melengos, meninggal tiga orang yang duduk di atas sofa.
"Anak ini!!!!" Arnold memegang keningnya.
"Kak Andra mau kemana, Ma?" Andrio--- adik Andra satu-satunya bertanya ketika cowok itu sudah menghilang. Anak itu kira kira berusia enam tahun.
"Mau main kali." Mama menjawab sambil menepuk kepala Andrio. Anak itu ganteng sekali, agak-agak mirip Cooper Lunde. Tapi kalo makin diperhatikan, ia sebenarnya persis kayak Andra. Cuman dia versi kecilnya.
"Kak Andra kok mainnya malam-malam? Emang kalo udah gede kek gitu ya, Ma?"
"Hehehehe, iya, sayang..."
"Tapi Yo takut, Ma... "
"Takut kenapa?"
"Takut kehilangan Kak Andra..."
***
Andra mengendarai moge merahnya. Tadinya dia akan naik mobil karena lebih aman, tapi karena perkataan papanya tadi, rasa ingin mati itu kembali tumbuh.
Andra tidak bisa masuk angin karena itu akan berakibat fatal bagi kesehatannya. Tapi inilah yang dia inginkan, memperkeruh agar dia cepat mati. Makanya dia berusaha menjaring angin malam ini. Biar semua cepat berlalu.
Cowok itu melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Semua berlalu bagai angin kencang. Andra melaju layaknya rider motor GP yang bertanding di arena. Dia melewati semuanya dengan mudah. Tak peduli dengan teriakan orang-orang yang menganggapnya gila, dia hanya ingin mencapai sesuatu yang dia inginkan.
Tak sampai sepuluh menit Andra sampai di sebuah bangunan yang lumayan ramai. Ia segera turun dan masuk ke dalam.
"Andra?" seorang cowok berjaket hitam terkejut melihat kedatangan Andra yang menurutnya sangat di luar dugaan.
"Mana miras yang elo janjikan?" Andra bergabung dengan pria itu. Meneguk segelas wine milik pria itu.
"Woahh..." pria itu kelewat senang sampai berdiri menepuk tangannya. "Gila, elo datang buat gue?"
"Nggak! Gue datang buat miras branded nya!"
"Amazing. Im so lucky!"
"We're?"
"Please wait a minute, man!" pria itu menatap beberapa orang yang sibuk dengan kegiatannya. "Woiii, malam ini gue bakal traktir semua yang ada di bar ini! Merayakan kedatangan Andra Michael!"
"Yuhuuu!" teriak semua orang yang gabung di sana.
Andra terdiam. Ia mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang dekat dengan meja bar.
"Selagi nunggu, elo boleh milih cewek mana yang elo mau. Lirik lirik gih,"
"Woiii! Elo di sini!" Leon, cowok dengan sayatan melintang di wajahnya, pemimpin geng kriminal Blacklion, menepuk pundak Andra.
"Hmmm," Jawab Andra.
"Kok sendirian? Biasanya nempel mulu sama si Rendot!"
"Serah gue anjing!"
"Hahhaha, betul juga." Leon duduk di tempat cowok tadi. "Elo datang karena panggilan Reyhan, ya?"
"Sok tau lo!"
"Gue nebak ******!"
"Salah berarti."
Saat keduanya berbincang, cowok tadi---Reyhan datang dengan botol emas di tangannya.
"Gue pesan ini dari mafia rusia. Gue punya akses dengan mereka," Reyhan memberitahu sambil duduk diantara keduanya. "Hebat, kan?"
"Gila lo! Gue mau dong!" air liur Leon melorot gara-gara melihat botol itu.
"Ini khusus buat Andra! Elo boleh pesan apa aja, gue yang bayarin!"
"Tapi gue maunya yang itu!" Leon menunjuk botol di tangan Reyhan. "Minuman branded!"
"Enak aja! Gue mati-matian nawar ini sampai sampai menggadaikan ginjal gue. Enak banget elo tinggal minta!" Reyhan menjauhkan botol emas itu dari Leon.
"Elo mau gue bunuh?" pria aneh itu menatap Reyhan tajam. "Just give a little!"
"Kasih aja, Rey!" Andra menjadi penengah. Ia tau siapa Leon, pria yang akan menghalalkan segala cara demi kesenangan pribadi. Termasuk membunuh sekalipun.
Rey mengalah. Ia menuangkan minuman itu ke gelas Leon. Lalu mengisi gelas Andra.
"Fiuhh," Leon mengeluarkan sesuatu dari sakunya, semacam pil berwarna putih. Andra tau itu narkoba. Tapi ia tak protes. Diperhatikannya Leon memasukkan benda laknat itu ke dalam gelas, lalu menggoyangnya hingga larut dengan minuman.
"Nikmat!!!" jeritnya setelah dua tegukan meluncur di kerongkongannya.
"Gue juga mau!" minta Reyhan.
"Habis woi!" balas Leon. "Tinggal satu lagi ternyata."
"Bagi! Bagi!" Rey mendekatkan gelasnya ke tangan Leon. Berharap banget dikasih.
"Buat Andra aja, deh!" Leon melemparkan pil itu ke gelas Andra, wahh masuk dong.
__ADS_1
"Elo kok curang banget!" protes Rey.
"Andra lebih butuh dari elo!"
"Dasar anjing!"
"Gue punya yang lain kok. Tapi harus pake suntikan. Elo punya alatnya, kan?" Leon merogoh sakunya yang lain. Kali ini mengeluarkan benda paling laknat dari sebelumnya. Tuh cowok aneh banget, kayaknya punya banyak jenis obat-obatan terlarang.
"Tentu saja!" cowok itu mengeluarkan suntikan dari saku jaketnya. Tertawa senang menerima pemberian Leon. Tak lama ia mengeluarkan benda berupa bubuk berwarna putih itu dari tempatnya, kemudian menyuntikkannya ke lengan.
"Aaaaaa," Euforia langsung menguasainya.
Andra menatap Reyhan sejenak lalu beralih ke minumannya yang sudah tercampur dengan narkoba. Ia ingin meneguknya, tapi ia masih normal. Seumur-umur ia belum pernah mencicipi yang namanya N A R K O B A.
Jika dia mengonsumsinya sekarang pasti akan banyak orang yang kecewa padanya. Semua orang yang menyayanginya juga akan menangis jika dia kedapatan berani mencampurkan darahnya dengan benda maksiat itu.
"Minum, An! Kita toast!" Leon tertawa seram, kayaknya efek dari miras dosis tinggi+narkoba dosis tinggi sudah mulai terasa.
Andra menelan ludahnya. "Gue alergi ekstasi." ujarnya berbohong.
"Whatt?" keduanya kaget.
"Yaudah, elo pake ini aja..." Reyhan mengisi suntikan lagi, hendak menusukkan ke lengan Andra. Untung dia segera menarik tangannya.
"Gue belum pernah make putaw. Gue takut efek sampingnya membuat gue gila!"
"Wait! Wait!" Leon berdiri, mendekatkan wajahnya ke wajah Andra. Hembusan nafasnya menerpa wajah cowok itu. "Jangan bilang elo nggak make selama ini!"
"Gue make kok," Andra berbohong. Bisa-bisa dia paksa kalo mengaku tidak.
"Jenis apa?"
"Cuman ganja sama shabu-shabu doang." What? Jujur saja, Andra jauh-jauh dari semua obat terlarang itu. Dia masih suci kok.
"Hahahahaha!" keduanya tertawa. "Seorang Andra hanya memakai jenis biasa? Wah... Hahahhaha" entah karena apa keduanya tertawa berlebihan.
"Gue nggak nyangka, Andra yang sangat terkenal ini ternyata cemen!" Leon kembali duduk ke tempatnya setelah puas tertawa.
Andra tidak menjawab, tapi ia menikmati suasana yang tercipta.
"Elo harus coba jenis lain, bro! Elo bisa beli dari gue!" Leon menatap Andra.
"Elo?"
"Yaps! Gue pengedar plus pemakai. Gue bekerja sama dengan geng gue untuk mengedarkan. Makanya kalo elo mau, gue bisa kasih jenis apapun yang elo butuhin! Kita punya banyak koneksi dengan mafia mafia kelas atas! Intinya money berjalan... "
Cowok itu mengangguk. "Gue pikiran deh. Akhir-akhir ini bokap gue ngawasin gue, jadi takutnya kartu kredit gue diblokir kalo ketauan make uang untuk hal seperti ini!"
"Elo manja juga ternyata! Diawas awasi segala!"
Cowok itu mengangkat kedua bahunya, seolah ingin menjawab kalo dia tidak punya pilihan lain.
Ketiganya terdiam, fokus pada cewek-cewek tak bermoral yang sibuk mengobral tubuhnya.
"Rey, cari mangsa yuk... Gue udah mulai nihh!" Leon memerah, kayaknya reaksi obat yang dia pakai berpengaruh pada hormonnya.
"Gue juga nih." Reyhan ikutan memerah. "Tenang aja, gue punya orang yang tepat."
"Sape?"
"Teman satu kelas gue. Orangnya kuntet, manis. Dia biasanya pulang malam dari rumah majikan ibunya. Pulangnya sendirian, karena kadang ibunya nginap. Nah kita culik dia aja!"
"Yang sering elo antarin pulang kalo udah kemalam ya?"
"Hmm, iya... Gue udah lama ngincar dia, eh tapi setiap dia masuk ke mobil, gue merasa berdosa kalo ngapa ngapain dia. Karena wajahnya itu imut banget, jadi serasa sayang kalo dihancurin. Tapi kali ini kayaknya enggak deh, soalnya kita udah berdua." Reyhan tersenyum sambil kembali meneguk minumannya.
Awalnya Andra tidak tertarik, tapi ia merasa tidak asing dengan gadis kuntet, manis dan punya ibu pembantu. Jadinya dia penasaran dong.
"Kalian mau ngapain?" tanyanya.
"Nangkap cewek. Kita butuh buat ngilangin perasaan ini!"
"Jadi mangsanya dapat?" Andra terpaksa terlihat bego demi mengetahui siapa yang mereka incar.
"Dapat. Teman satu kelas gue, namanya Bening. Dia anak yatim yang tinggal berdua sama nyokapnya. Orang miskin juga. Jadi kalo kita apa-apain dia, ortunya pasti nggak mampu ngaduin kita ke polisi. Jadi aman."
Jantung Andra langsung berdegup kencang. Ia tidak tau kenapa, tapi tiba-tiba saja demikian.
"Kenapa? Elo mau ikutan juga?" Leon menunggu jawaban Andra.
"Hmmm," belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Leon lansung memotong.
"Makanya gabung sama gue Andra! Elo bakal dapatin apapun yang elo mau! Termasuk kesenangan dunia ini!"
"Iya, An! Elo ngapain temanan sama Rendot yang banci itu! Dia mah bisanya cuman ngebantuin benerin jembatan, nggak ada asik-asiknya!" Reyhan ikut menambahi.
Pikiran Andra melayang. Baginya bukan itu yang penting, tapi bagaimana caranya menyelamatkan Bening malam ini.
"Elo masuk geng Leon juga?" Andra pura-pura bertanya, padahal dia udah tau.
"Gue udah lama gabung sama Leon. Sayangnya gue nggak dihargain sama dia, makanya dia nempatin gue di wakil kapten divisi lima. Yah, kerjanya sebatas nyebarin film jorok doang!"
"Makanya Andra, gabung aja sama kita, gue udah ngasih elo bonus jadi kapten divisi Satu. Pemegang kekuasaan tertinggi ketiga. Elo harusnya merasa beruntung!"
Andra menatap keduanya bergantian. Ada sesuatu yang membuatnya ingin meninggalkan tempat itu. Perasaan tidak enak membuatnya gelisah.
__ADS_1
Mungkinkah karena keselamatan Bening?