Catatan Andra

Catatan Andra
Kebenaran


__ADS_3

Hari sudah berganti lagi. Kini angkatan Bening telah memasuki ujian akhir menuju kelulusan. Siapa sangka perjuangan mereka akan berakhir di minggu ini.


Dan sampai saat ini Bening belum mendapatkan kabar apa-apa tentang Andra. Semua orang tidak mengetahui di mana anak itu. Satu-satunya jalan terakhir yang akan ditempuh oleh Bening adalah mendatangi rumahnya.


Selesai ujian Bening sudah membulatkan tekadnya untuk mengunjungi rumah Andra. Cowok itu tidak akan menghindarinya lagi jika dia sudah effort untuk datang sebagai tamu. Dan, inilah cara paling efektif menurut Bening.


Bening bertemu dengan Reno di gerbang sekolah. Sepertinya cowok itu sengaja menunggunya. Terbukti saat dia memanggil nama Bening dan mengajaknya duduk di taman dekat gerbang sekolah.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Reno tiba-tiba. Hah? Cowok aneh! Kemarin dia sok banget jadi cowok dingin yang pengen banget dikejar, sekarang berubah menjadi cowok hangat yang mengganti kata elo dengan kamu. Ini maksudnya apa?


"Hmm, iya baik kok. Kenapa?"


"Engga, nanya doang."


"Oh, yaudah. Aku mau pergi dulu," Bening berdiri hendak meninggalkan Reno. Tapi langkahnya tertahan saat Reno mengatakan sesuatu.


"Kamu mau tau kebenaran tentang Andra, bukan?"


Bening langsung berbalik dan kembali duduk di samping Reno. "Yahhh, tentu saja! TENTU SAJA!"


"Baiklah. Aku akan memberitahumu. Tapi plis, plis banget jangan menangis. Dia memohon padaku agar kamu jangan kaget mendengar kabar ini."


"Apa sih Ren, jangan membuatku semakin penasaran! Di mana Andra? Apa yang dia lakukan? Kenapa dia tidak pernah masuk lagi? Dan, apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku? Kenapa dia memblokir nomorku? Kenapa dia...."


"Stop!" Reno menempelkan telunjuknya di bibir Bening. "Berhenti menghujaniku dengan pertanyaan, Bening. Kita sama-sama tidak mengerti alur pikiran dia."


Bening menyingkirkan tangan Reno dari bibirnya. "Jadi katakan padaku apa yang kau ketahui tentang dia?"


Reno berfikir sejenak. Sepertinya dia bingung untuk memulai dari mana.


"Ayo katakan!"

__ADS_1


"Andra sudah pergi." ucap Reno.


"Hah? Maksudnya?" jantung Bening berdebar tak karuan.


"Iya, dia pergi ke Kanada untuk mengejar cita-citanya."


"Hah! Jangan bercanda! SMA aja dia belum tentu lulus, gimana mungkin dia bisa pergi tanpa membawa ijaz!"


"Itulah enaknya memiliki orang tua yang super power. Memiliki segalanya, termasuk akses semacam memanipulasi nilai dan selembar ijazah. Sepertinya kamu sudah mengerti maksud ku."


Bening menggeleng. "Tidak mungkin! Aku tak percaya! Kalo pun itu benar, kenapa dia tidak memberitahu ku? Kenapa dia tidak pernah menemui ku? Kenapa dia..."


"Sebenarnya dia memberitahu mu. Tapi aku tak pernah menyampaikan pemberitahuan dia padamu." Reno mengeluarkan amplop dari dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Bening. "Ini dari Andra. Dia memberikannya sehari sebelum dia pergi. Tapi aku tak berani memberikannya padamu karena menurutku saat itu kamu masih di suasana bahagia. Aku takut merusak kebahagiaan mu waktu itu. Sekarang sepertinya sudah waktunya kamu mengetahui segalanya."


Bening bergetar menerima amplop itu. Sumpah, dia tidak ingin membukanya sekarang. Selain karena suasana yang tidak kondusif juga karena dia tidak yakin itu dari Andra.


"Kalo begitu, antarkan aku ke rumahnya. Aku ingin menemui Tante Leoni."


"Mereka juga ikut pergi, Bening. Mereka menemani Andra di sana."


Reno menghelai nafas panjang. "Yaudah, ayo aku antarkan." sambil mengejar Bening.


Bening sangat terkejut saat melihat banner di depan rumah Andra. Rumah ini dijual. Begitu kira-kira isinya lengkap dengan nomor telepon. Bening bergetar hebat. Tangisnya meledak saat sudah meninggalkan kawasan elit itu.


"Kenapa Andra tega padaku?" tanyanya pada Reno. Cowo yang sedang mengemudi itu berusaha memberikan penjelasan bahwa Andra juga pasti memiliki alasan yang kuat di balik semua ini.


Akhirnya Bening diantarkan pulang oleh Reno. Dia disuruh istirahat. Reno juga meminta maaf atas semuanya.


***


Dear Bening

__ADS_1


Allo, Cantik...


Selamat yah, selamat atas hasil dari semua kerja keras dan pengorbananmu selama ini


Aku sungguh bangga padamu.


Maaf ya, aku memberikan luka padamu. Gak akan lama kok, aku yakin kamu pasti bisa menerimanya seiring dengan berjalannya waktu.


Bening, terima kasih banyak atas semua hal yang sudah kamu kasih ke aku. Terima kasih banyak atas senyuman indah yang membuatku semangat menjalani kehidupan ini. Terima kasih atas mata indah penuh keberanian yang kamu perlihatkan ke aku. Terima kasih teramat banyak atas keceriaan mu yang mewarnai hari-hariku.


Aku tau suatu saat ini akan terjadi. Tapi aku yakin kamu bisa menerima kata people come and go. Dan aku begitu yakin kalo kamu akan terisak dipojokan sambil membaca surat ini. Dan sekali-sekali kamu akan menutup kertas ini karena tidak terima dengan semuanya.


Aku tau rasanya pasti sangat berat. Sama seperti aku yang juga merasa demikian. Tapi demi masa depanmu, aku rela melakukan semua ini.


Bening, apapun ceritanya sudah pasti kita akan berpisah. Bahkan kalopun aku tidak pergi, kamu yang akan pergi meninggalkan aku. Yah, kamu akan mulai menempuh pendidikan mu di luar negeri sekitar dua bulan lagi. Jadi sama saja, kan? Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, bahwa perpisahan tak selamanya menghasilkan luka. Dan aku ingin meminta padamu membuat perpisahan ini menjadi sesuatu kenangan yang indah. Ingatlah bahwa kita akan selalu terhubung dimana pun kita berada.


Bening, aku tidak keberatan jika kamu menangis karena aku meninggalkanmu. Tapi aku tidak terima jika kamu berubah menjadi hanya karena Andra yang tidak berguna ini. Namun aku tau kamu perempuan paling logis. Kamu bisa mengatasi segalanya.


Ada begitu banyak yang ingin aku tuliskan, tapi sepertinya aku akan memberitahumu secara langsung di masa depan. Yang penting kamu sudah tau kebenaran tentangku.


Aku yakin, kamu merasa keberatan karena aku menghilangkan semua jejak tentangku. Aku minta maaf soal itu. Aku melakukannya agar kamu fokus mengejar impian mu.


Bening, di masa depan kita akan bertemu lagi jika kamu sudah berhasil menjadi seorang dokter cantik yang berguna bagi dunia ini. Aku sangat menantikan nya.


Bening, sampai jumpa di masa depan.


Ketahuilah, aku selalu melihatmu dari atas.


\_*Andra*


Bening meneteskan air mata setelah membaca sepucuk surat yang ada di dalam amplop putih itu. Sekarang dia yakin kalau surat itu memang dari Andra. Tulisan indah dan rapih itu amat dikenalinya. Perlahan-lahan dia memeluk surat itu.

__ADS_1


Kemudian dia membuka amplop putih yang ternyata masih ada isinya. Dia mengeluarkannya. Beberapa foto candid yang menggambarkan mereka berdua sedang tertawa bahagia. Di balik foto itu tertulis dengan rapih 'Selalu mencintaimu dimana pun aku berada'. Bening kembali menangis saat membaca itu.


"Andra, tidak kah kau tau bahwa semua ini menyiksaku."


__ADS_2