
Sudah enam jam lamanya Andra belum sadarkan diri. Mama sama papanya duduk menungguinya. Andrio sudah diantarkan pulang oleh Reno. Dia harus mandi dan istirahat. Biar pembantu yang mengurusnya sampai keadaan Andra membaik.
Leoni menggenggam tangan anaknya. Dia tak kuasa melihat Andra seperti ini. Biasanya anak muda itu selalu selalu protes kalo disuruh tidur.
Tiba-tiba jari-jari Andra bergerak. Buru-buru Leoni menghapus air matanya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Andra. Dia memperhatikan Andra yang berusaha membuka mata.
"Sayang..." panggil Leoni sambil menggenggam tangan Andra. "Kamu sudah sadar?"
Penglihatan Andra masih samar-samar. Dia berusaha mengedipkan mata, barulah dia melihat mamanya yang sedang berusaha menahan tangis. Dia melihat ke atas, menyadari bahwa dia sedang berada di rumah sakit sekarang.
"Mama?" ujarnya lemah.
"Iya sayang, ini mamah!" Leoni tidak bisa menahan air matanya saat Andra memanggilnya.
"Mama ngapain ke sini? Andra baik-baik saja kok," Andra berusaha bangkit tapi langsung di tahan oleh mamanya.
Leoni menggeleng. "Kamu tidak perlu seperti ini lagi, kamu tidak perlu menanggung semuanya sendirian. Ada Papa sama Mama, sayang..."
Andra mengerti. Ini artinya rahasianya sudah terbongkar.
"Kenapa Nak? Kenapa kamu melakukan semua ini?" suara Papa terdengar bersedih. Andra menoleh pada Papanya. Benarkah itu tatapan kesedihan?
"Pa..."
"Nak, kamu itu masih punya orang tua, kamu bertindak sejauh ini tanpa orang tua benar-benar mengejutkan. Tapi di sini papa mengakui bahwa kamu anak yang sehebat dan seajaib itu. Makanya kamu harus kuat. Oke?"
__ADS_1
***
Bening mempersiapkan barang-barangnya. Dua hari lagi dia akan pergi untuk mengejar impiannya. Sejujurnya dia deg-degan banget, takut, juga cemas. Akan tetapi semua itu bisa dia lupakan saat mengingat kata-kata Andra. "Semangat Bening, kamu pasti bisa." diikuti senyuman yang sangat manis. Itu tak terlupakan.
"Hmmm, aku pasti bisa!" ucapnya mengikuti perkataan Andra saat itu. "Demi masa depan yang cerah. Demi bisa bersama Andra nantinya." tidak terasa air matanya mengalir ke pipi. Entah kenapa dia hatinya merasa nyesek. Padahal tidak ada yang membuatnya demikian.
Sambil menangis, Bening tidak sadar sudah terjatuh ke dalam mimpi. Dia ketiduran di meja belajarnya. Dan terbangun saat jam menunjukkan pukul lima pagi. Segera dia bergegas sebab dia harus berangkat pagi biar tidak telat. Sekarang dia sudah kembali jalan kaki. Entah kapan Andra selesai dengan pelatihan intensifnya. Yang jelas Bening sangat menunggu.
Gadis itu memeriksa handphonenya sebelum berangkat. Tidak ada pesan yang masuk. Biasanya jam segini Andra sudah mengiriminya pesan. Reno juga sama, akan tetapi kalo Andra sedang ada urusan. Tapi kali ini isi pesannya benar-benar kosong. Dalam hatinya agak merindukan pesan dari kedua manusia itu, tapi saat ini dia tau posisi keduanya. Jadi yang bisa dia lakukan adalah menunggu dengan sabar.
Berjalan melewati jalan yang biasanya membuat Bening sedikit mengeluh capek. Sebelumnya jalan kaki adalah olahraga rutin baginya, tapi itu sebelum bertemu dengan Andra. Mungkin karena sudah lama dan jarang jalan kaki membuat dia harus mengumpulkan energi lagi. Dia memilih istirahat di kursi yang disediakan di pinggir jalan.
Bening memperhatikan mobil yang berlalu-lalang tiada henti. Tak sengaja dia melihat mobil Reno dari kejauhan. Kayaknya lebih baik nebeng aja sama Reno daripada dia telat. Saat mobil itu mendekat, Bening melambai-lambai agar Reno melihatnya. Sepertinya dia memilih untuk mengabaikan Bening. Jelas-jelas mereka bertatapan tadi, tapi Reno melewati Bening begitu saja. Apa dia marah?
"Yah!" keluh Bening. Dia kembali melanjutkan perjalanannya. Mana tasnya berat banget
Tapi yang dipikirkan oleh Bening saat ini adalah Reno. Kira-kira kenapa yah cowok itu kelihatan murung tadi. Kenapa dia tidak tersenyum seperti biasanya. Apa dia tersinggung dengan perkataan Bening waktu itu?
Sepertinya memang berawal dari saat Bening menolak diantar pulang. Karena sejak saat itu Reno tak pernah lagi menyapanya. Bahkan kemarin mereka berpapasan di koridor, cowok itu malah membengis. Padahal Bening sudah memasang senyum ramah.
Bening merasa bersalah. Dia merasa kehilangan satu teman baiknya. Sepertinya dia harus minta maaf pada Reno.
Kalo diingat-ingat lagi, Reno sudah sering menjadi pahlawan untuknya. Cowok itu sering menyelematkannya dari bahaya. Juga mendapat banyak informasi melalui Reno. Dan yang paling penting Reno sering membantunya. Dia bahkan pernah menginap hampir dua minggu di rumah cowok itu. Dan sekarang dia mulai merasa kehilangan...
"Andra, kapan kamu bisa menjemputku lagi, aku kangen berangkat bareng kamu. Hiks," Tiba-tiba Bening menangis. Padahal posisinya sedang berjalan. Hal itu menarik perhatian beberapa pejalan kaki yang dilewatinya.
__ADS_1
"Aku kangen banget sama kamu. Besok aku akan pergi, dan baru akan kembali ke sini dua minggu lagi. Apa kamu tetap akan sibuk? Tidak menyempatkan waktu untuk ketemu denganku? Sebentar saja?" Bening tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang. Dia hanya ingin meluapkan semua yang dia rasakan sekarang. Seandainya bisa dia ingin teriak sekencang-kencangnya.
Tanpa terasa dia sudah sampai di sekolah. Dia menghapus sisa air matanya. Dia harus semangat, tidak boleh ada satupun yang tau kalo dia sedang sedih. Pokoknya dia harus ceria di mata semua orang.
***
"Ma, Pa, Andra harus ke sekolah besok." kata Andra tiba-tiba saat mamanya sibuk mengupas buah untuknya.
"Ngapain, nak? Udah, kamu sembuh aja dulu, sekolahnya belakangan aja." balas Arnold. Sudah dua hari dia tidak masuk ke kantor demi menunggui anaknya yang sedang sakit. Dia merelakan diri mengerjakan pekerjaannya di rumah sakit.
"Besok Bening akan berangkat ke USA untuk mengikuti ujian. Andra mau melihatnya sebelum dia pergi Pa,"
"Cewe kamu itu ya?" kata Arnold. "Biar Papa yang menjemputnya ke sini."
"Jangannnn!" tolak Andra. "Dia ga boleh tau kalo Andra sedang sakit, Pa. Andra sangat menutupi ini darinya."
"Baiklah, Papa mengerti. Nanti kita bicara dengan Om Seno. Sekarang kamu tenangin pikiran kamu dan makanlah buah yang sudah dikupas Mama." Papa tersenyum kecil.
"Baik, Pah."
"Ma, Andra harus makan yang banyak, Andra harus sembuh ma..." cowok itu menatap mamanya dengan tatapan penuh harap.
"Iya, sayang, kamu pasti sembuh kok," sambil menyuapi anaknya potongan buah. "Kamu anak yang kuat sedari kecil Andra. Mama ingat banget masa kecil kamu." Wanita itu malah meneteskan air mata.
"Ma..." Andra ikutan sedih. "Maafin Andra Mah, Maafin Andra.... Jangan nangis seperti ini..." Andra menghapus air mata mamanya dengan jari jempolnya.
__ADS_1
"Tidak... Mama tidak menangis sayang. Hanya saja Mama tidak nyangka anak kesayangan Mama akan mendapat cobaan seperti ini."