
"Andra, kamu ko belom pulang?" Anastasya bertanya saat melihat Andra duduk berjongkok di parkiran motor. Cowo itu sedang menikmati sebatang rokok sambil melamun. Kelihatannya dia sedang menunggu seseorang.
"Nungguin Bening." jawabnya setelah terdiam sesaat.
"Oh. Kalo gitu aku duluan ya," ucapnya sambil meneruskan jalannya ke parkiran mobil.
"Reno mana?" tumben banget Andra nyariin Reno.
Gadis itu berhenti lalu menjawab pertanyaan Andra. "Dia ada urusan geng katanya. Gatau juga,"
"Oh."
"Hmm," kata Anastasya sambil meneruskan langkahnya.
Beberapa saat kemudian Bening datang dengan nafas yang memburu. "Andra, maapin aku membuat kamu menunggu." katanya mendekati Andra yang sudah berdiri di dekat motor. Dia memegang lututnya saking capeknya berlari dari ujung ke ujung.
"Gapapa." jawab cowo itu. "Kenapa lama btw?"
"Aku dihukum gara-gara ketinggalan tugas. Disuruh bersihin kelas sendirian." jawab Bening.
Andra tersenyum kecil. "Lagian kenapa bisa ketinggalan, kurcaci!" dia berdiri lalu mengambil helm berwarna putih dan memakaikannya pada Bening. Setelah itu dia mengambil helm yang satunya lalu memakainya sendiri.
"Karena aku lupa." jawab Bening.
"Siapa guru kamu? Aku akan menghukum dia karena berani menghukum kamu." kata Andra menghibur.
"Pak Karman." jawab Bening.
"Oh, awas aja dia." Andra naik ke motor. "Besok aku suruh dia membersihkan satu sekolah. Sekarang naiklah!"
Bening naik ke atas motor dengan bantuan punggung Andra. Mereka pun meninggalkan parkiran motor yang memang sudah sepi karena sekolah sudah lama pulang.
Ternyata sedari tadi ada sepasang mata yang mengintai keduanya dari balik mobil. Seorang cewe dengan rambut panjang bergelombang tersenyum sinis.
"Bening, cewe tolol, miskin, kampungan, sampai kapan pun kamu tidak akan layak bersama Andra!"
***
__ADS_1
"Bening, aku bisa istirahat di rumah kamu sebentar, kan?" Andra setengah berteriak agar Bening bisa mendengar suaranya.
"Eh?"
"Engga, aku ga ngapa-ngapain, cuma mau istirahat aja. Aku ngerasa cape banget."
"Boleh." jawab Bening agak ragu.
Sampai di rumah cowo itu langsung masuk ke dalam rumah. "Kamar kamu yang mana?"
"Kemarilah." kata Bening sambil berjalan menuju kamarnya. Dia membuka pintu dan menyalakan lampu. "Ta-da, ini kamar ku."
Andra masuk ke dalam. Ruangan itu sempit dan kecil. Tapi meskipun demikian terasa nyaman karena bersih dan sangat rapih. Dari peralatan belajar sampai aksesoris kamar semuanya terususun dengan rapi. Satu lagi, kamar itu identik dengan warna biru. Dari kasur, gorden, hingga selimut semuanya berwarna biru. Sepertinya selera warna Bening sama dengan selera warna Andra.
"Aku numpang istirahat ya," kata Andra tanpa basa-basi. Dia langsung melepaskan tas, jas sekolah dan sepatunya. Segera berbaring di atas tempat tidur Bening.
"Tidurlah," kata Bening dengan senyuman manis.
***
"Eh, sori Andra. Aku ga sengaja menjatuhkannya," ucap Bening merasa bersalah.
Andra menguap. Dia terduduk dengan nyawa yang masih belum terkumpul sepenuhnya. Beberapa saat pikirannya kosong.
"Ada apa, Andra?" tanya Bening dari tempat dia duduk.
Andra mengarahkan pandangannya ke arah Bening. Menyadari kalau cewe itu sudah berganti busana dari seragam sekolah menjadi kaos oblong berwarna putih. Ekspresi wajah gadis itu sedang bingung saat ini. Mungkin karena pandangan Andra kosong dan lama menjawab pertanyaan-pertanyaan.
"Sudah berapa lama aku tidur?" bukannya menjawab Andra malah balik bertanya.
Bening melirik jam di dinding. "Sekitar dua jam. Kamu tidurnya pulas." jawab Bening.
Andra jadi sedikit malu. Sebenarnya dia juga tidak tahu kenapa dia bisa tidur siang dengan tenang di sana. Padahal Andra adalah orang yang tidak bisa tidur di siang hari dan tidak akan betah selain di kasur sendiri atau di kasur Reno. Tapi di tempat itu dia menemukan kenyamanan yang luar biasa.
"Kamu sedang apa, Bening?" tanya Andra penasaran. Meski sebenarnya dia tau gadis itu sedang belajar tapi dia butuh jawaban yang spesifik.
__ADS_1
"Belajar." jawab Bening. Itu jawaban yang tidak sesuai dengan kemauan Andra. Cowo itu langsung bergerak dari atas ranjang ke dekat gadis itu. Mengamati mata pelajaran apa yang sedang dipelajarinya. Seulas senyum terkembang ketika tahu itu pelajaran matematika.
"Rajin banget sih pacar aku." Andra meraih kepala Bening lalu mengusapnya.
"Hehehe," Bening jadi malu sendiri.
"Tumben belajar." Andra mulai mencari topik yang menurut dia seru.
Bening langsung melotot padanya. "Ha? Tumben belajar? Heh, aku selalu belajar setiap hari tau! Aku kalo ada waktu luang pasti belajar!"
Andra tergelak melihat ekspresi imut gadis itu. Tapi otaknya mulai memproses kata-kata 'selalu belajar'. Benarkah seperti itu?
"Emang iya kamu maniak belajar?"
"IYAAA!" jawab Bening kesal.
"Coba kasih tau aku apa yang kamu pelajari dan untuk apa kamu mempelajarinya?" sambung Andra.
Bening meletakkan bolpoinnya. Dia memutar badan hingga bertatapan dengan Andra yang kini duduk di tepi ranjang. Mereka berhadapan. Itu hal yang paling disukai oleh Andra dari seorang Bening. Tatapan keberanian.
"Aku mempelajari semuanya. Singkatnya untuk mengikuti ujian perguruan tinggi nantinya. Aku ingin menjadi seorang dokter, tapi aku bukan dari keluarga yang mampu. Aku harus belajar keras sendirian karena ibuku tidak punya uang untuk membayar les privat. Dengan belajar keras seperti ini aku berharap bisa membayar lelah ibuku suatu saat nanti. Memang, peluang untuk masuk kedokteran itu sangatlah kecil, apalagi aku yang hanya rakyat jelata yang serba kekurangan. Tapi aku yakin, usaha akan memberikan sebuah hasil meski tidak seperti yang kita inginkan."
Andra terpukau. Jujur saja dia tidak pernah menyangka kalau Bening yang kelihatannya lugu punya pemikiran seperti itu. Jadi, apakah Bening aslinya dua orang?
Hei Andra, lihat cewe kecil ini, dia begitu semangat meskipun tidak memiliki apa-apa. Kamu? Kamu memang bajingan! Batin Andra.
"Bagaimana kalo suatu saat nanti kamu tidak bisa menjadi dokter? Maksudku, mungkin kamu bakal lulus di universitas yang kamu mau, tapi ternyata terhalang biaya. Apa yang akan kamu lakukan?"
"Makanya sekarang ini aku lagi mencari beasiswa agar case seperti itu tidak terjadi. Tapi kalo semisal terjadi mungkin aku akan bekerja untuk mengumpulkan duit dulu lalu kembali melanjutkan." jawab Bening.
Andra mengamati meja belajar Bening. Benar, gadis itu rajin belajar. Terbukti dari banyaknya tempelan rumus di dinding. Rak bukunya juga penuh dengan pembahasan soal ujian. Gadis yang dicap bodoh di sekolah itu ternyata seseorang yang ambisius. Ternyata tidak baik menilai seseorang hanya dari luarnya saja.
"I wonder why you're still in the stupidest class when you study hard." gumam Andra.
"Because I don't focus on competition, but stick to my goals." sahut Bening.
Haaa? Andra benaran kaget banget. Dia tidak menyangka kalo Bening mendengar gumamannya dan menyahut dengan vokal yang sangat baik. Siapa Bening sebenarnya?
__ADS_1